Gusti

Dari seragam KORPRI yang dipakai, perempuan ini jelas Pegawai Negeri Sipil. Wajahnya agak lusuh, mungkin kelelahan setelah bekerja seharian. Tasnya digendong di depan, seperti penumpang commuter line pada umumnya. Digenggam erat ponsel pintarnya. Matanya pun tetap fokus ke layar.

Beberapa kali bolak-balik buka google translate. Menuliskan kalimat berbahasa Indonesia, lalu meng-copy bagian terjemahan bahasa Inggris ke dalam fitur chat Tinder.

Sesekali temannya, yang entah ada di mana, ikut membantu lewat LINE.

“Gue harus bales apa?” tanya si perempuan kepada temannya lewat chat-chat-an LINE.

“Gue nggak ngerti. Google Translate ajalah!” balas temannya, nggak nyampe semenit.

Dibukalah Google Translate untuk sekian kalinya. Tertulis: “Saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil”. Lalu ia copas bagian bahasa Inggrisnya ke tinder: “I work as a civil servant”.

Ia kembali ke temannya di LINE.

“Dia bales lagi. Ngajak ketemuan nih. Gue bales apa?”

“Nggak usah lah. Ntar ilang keperawanan lo,” kata temannya. “Lagian kan lu nggak bisa bahasa Inggris. Nggak usah ngimpi!”

Belum sempat ngintip balesan si perempuan, kereta tiba Manggarai. Gue harus buru-buru keluar, bersama kerumunan lainnya, untuk transit dan pindah kereta arah Bekasi.

Kejadian ini terjadi pada Desember 2015. Tepat awal-awal gue masuk AITINDO. Dulu gue awal-awal masuk kantor selalu naik commuter line karena murah. Udahannya, gue nggak kuat karena terlalu padat dan manusia di dalamnya cukup buas. Terutama ibu-ibu.

Berbulan-bulan kemudian, gue kaget, waktu baru sampe kantor, tiba-tiba meja gue ada yang nempatin lagi. Sebelumnya pernah ada yang nempatin, perempuan, AE (Account Executive) baru, namanya Ruru. Tapi doi nggak kuat karena kedinginan, deket banget sama AC soalnya.

“Mas Bor, gue duduk mana nih?” tanya gue ke Mas Boris, Project Manajer dan junjungan kami.

“Yaudah, lo mau lesehan atau bagi dua sama Gusti?” Oh namanya Gusti.

Gue pilih bagi dua aja. Karena waktu itu meja lesehan di gedung kantor lama (waktu belum renovasi) sering banget dijadiin tempat meeting. Daripada digusur, mending sempit-sempitan.

“Kenapa lo pindah dari kantor lama?” tanya gue kepada si anak baru yang kerjaannya tidur doang karena belum dapet kerjaan.

“Ngejar passion.”

AN to the JAY. Dengan tatapan penuh yakin doi bilang begitu.

Seiring berjalannya waktu, ada banyak hal terjadi dengan si anak baru ini. Dia sering banget ditegur di group tim social media kantor. Masalah utamanya, doi sering banget typo.

Doi. Sering. Banget. Typo.

Gue paham betul, rasanya ditegur karena typo tuh nggak enak banget. Sering banget gue lihat dia nggak jadi keluar, entah untuk solat ataupun jajan, lalu lari ngibrit balik ke kantor, karena ada teguran di group. Wajahnya langsung pucat. Nggak berani ngobrol sama kanan kiri.

**

Dua tahun berteman, gue belajar banyak. Ada banyak hal unik terjadi karena ulah si kampret ini.

Salah satunya waktu kami pulang dari acara resepsi pernikahan teman sekantor, Agam. Waktu menunjukkan 23.30 saat kami sampai di Stasiun Tanah Tinggi, Tangerang. Suasana sepi sekali. Hanya satu dua orang saja yang terlihat lalu lalang.

“Jadi gimana, Gus?” tanya gue.

“Gue sih jalanin yang ada aja, Jar. Gue nggak mau pusing. Kalau emang suatu saat di kasih jalan sama Allah, pasti gue ambil kesempatan itu.”

Sepanjang perjalanan pulang ke Bekasi, gue ngobrol banyak sama dia. Soal kerjaan, soal masalah hidup yang nggak kelar-kelar, soal angan-angan beli rumah murah, sampai urusan cewek. Di sini, Gusti yang lebih banyak cerita. Apa adanya. Tanpa ada rasa gengsi. Dia terang-terangan soal perempuan dengan nada bercanda: “Gue sih nggak mau ribet. Kalau nggak mau naik Betty bareng, yaudah. Mending nggak usah.”  katanya tertawa.

Betty adalah Honda Beat hitam yang selalu dia bawa ke mana-mana. Salah satu banyolan Betty yang selalu gue inget tuh yang ini:

“Sama-sama cowok. Sama-sama bawa Honda. Tapi dia Honda Jazz, gue Honda Beat!”

Kampret kan?

Sifat apa adanya Gusti juga kelihatan banget pas pulang naik kereta setelah nonton pentas teater teman kami, Yasinta. Waktu itu kami sedang menunggu kereta terakhir di Cikini. Kebetulan gue bawa ukulele. Sambil nunggu kereta, gue humming-humming sendiri pake ukulele, bikin lagu perjalanan kami dari Bekasi ke Gondangdia, lalu sampai ke Cikini. Dengan percaya dirinya Gusti langsung ngambil HP dan ngajakin gue ngerekam lagu itu untuk Yasinta. Nyanyi-nyanyilah kita di stasiun. Padahal udah sepi. Seperti orang gila. Ketawa-ketawa sendiri karena beberapa kali salah sebut lirik.

Oh iya, ngomong-ngomong soal nyanyi, Gusti ini satu-satunya orang kantor yang selera musiknya agak terbelakang. Kasihan. Di saat orang-orang lagi ngomongin Danilla, Asteriska, atau musik-musik populer seperti, Dua Lipa dan Camila Cabello, dia malah mendengarkan Via Vallen. Bangke emang.

Meskipun rada kampret, di setiap hal-hal seperti itu muncul, memori gue selalu terlempar ke masa di mana gue ngitipin chat-chat-an PNS dengan bule di commuter line. Perempuan yang gue ceritakan di awal tulisan ini sebenarnya adalah refleksi dari sekian banyak orang di sekitar kita. Sedangkan Gusti adalah semacam antitesisnya.

Di saat orang-orang berlagak sok bisa padahal nggak bisa sama sekali, di saat orang-orang beli barang-barang mahal supaya diakui oleh lingkungan sekitarnya, di saat orang-orang mengikuti tren yang ada biar dianggap kekinian, Gusti tetap menjadi Gusti. Tetep apa adanya dan jujur sama dirinya sendiri.

Seperti kata Kurt Cobain:

“I’d rather be hated for who I am, than loved for who I am not”

Gusti memang bukan Kurt Cobain (karena Kurt Cobain nggak pernah dengerin Via Vallen). Tapi apa yang dilakukan Gusti persis seperti kutipan di atas, dia nggak peduli apa yang diomongin orang, karena dia nyaman jadi dirinya sendiri. Yang apa adanya dan suka Via Vallen.

**

Jujur, gue shock ketika mendengar kalau Gusti mau resign. Padahal gue yakin banget ini orang masih agak lama kerja di kantor. Agak kesel. Namun setelah mendengar alasannya, gue jadi “ikhlas”.

Gusti resign karena mau lebih dekat sama orang tuanya. “Nyokap gue udah sakit-sakitan, sementara gue jarang ada di rumah. Nyampe rumah malem terus. Nggak ada waktu buat jagain.” katanya saat pengumuman kalau dia mau resign. Air matanya tiba-tiba keluar tanpa diundang. Spotan gue jadi inget bagaimana gue di rumah.

Bekerja sebagai anak ahensi, apalagi tinggal di pinggiran Jakarta, seperti Bekasi, adalah pertarungan yang amat berat. Nggak cuma harus menghadapi macet yang luar biasa biadab, tapi juga harus merelakan waktunya bersama keluarga berkurang.

Selama dua tahun lebih, gue merasakan hal yang agak pilu. Setiap mau berangkat ke kantor, ibu udah nggak ada di rumah. Kesempatan ngobrol cuma sedikit, paling sebatas nungguin ibu keluar rumah dan pamit berangkat kerja. Malamnya juga gitu, setiap sampai rumah, pasti ibu udah tidur. Begitu seterusnya berulang-ulang.

Beda sama anak kos-kosan, mereka nggak bisa ketemu keluarga setiap hari karena keterbatasan jarak dan waktu. Orang-orang seperti Gusti memang selalu ada di rumah, tapi apa yang mereka kasih kepada keluarga seperti orang yang nggak pernah pulang ke rumah. Ada tapi nggak ada. Rumit.

Jadi, untuk mengakhiri tulisan ini, gue mau mengucapkan banyak terima kasih karena lo udah bikin gue belajar banyak hal.

Terima kasih udah mau jadi temen yang dengan suka rela gue tebengin setelah lembur, main futsal ataupun main FIFA di kantor.

Terima kasih udah nggak ninggalin gue karena gue telat dateng pas mau jalan-jalan ke Dufan.

Terima kasih udah mau nganterin gue pulang pas jalan-jalan ke Dufan sama anak-anak kantor, karena gue mendadak demam di sana.

Terima kasih udah mau memaafkan gue yang nggak sengaja noyor kepala lo pas nonton Dilan di bioskop, karena gue geli banget nonton film itu.

Terima kasih telah menjadi teman kantor yang luar biasa selama dua tahun terakhir ini.

Terima kasih, Gus. Terima kasih banyak.

Mulai besok, 12 Maret, meja samping kanan gue bakal sepi. Nggak ada lagi orang yang gue ajak ngomongin bola pagi-pagi. Padahal kan kemaren Liverpool baru aja kalah ama MU.

Semoga nyaman di kantor barunya, Gus. Jangan jadi orang panikan lagi, karena dengan kebaikan yang lo tanam selama di AITINDO, pasti akan ada banyak orang yang mau bantu lo nanti. Buktinya? Berapa banyak hadiah yang lo dapat di hari terkahir kerja kemarin? Mungkin hampir 12 tahun AITINDO berdiri, cuma lo yang dapet hadiah sebanyak itu waktu resign.

Sekali lagi, terima kasih banyak, Gus. See you on top. #YNWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s