Jadi Diri Sendiri

Entah sudah berapa kali saya ditegur oleh seorang kawan seperti ini: “Kok giliran lo nulis di blog atau caption foto Instagram malah lebih bagus dan lebih dalam sih?”

Kemarin-kemarin, saya masih bingung untuk menjawabnya karena tulisan saya masih jauh dari kata bagus. Kadang masih nggak nyambung antara satu kalimat dengan kalimat lainnya.

Oh, iya. Sebelum lanjut ke pokok bahasan, sebenarnya saya agak takut tulisan ini dianggap mencederai bahasa Indonesia. Tapi cuek aja lah ya. Hehe.

Oke, lanjut!

Beberapa hari yang lalu saya mengingat-ingat lagi buku apa saja yang pernah saya baca. Mulai dari non-fiksi tentang dasar-dasar jurnalisme sampai novel dan kumpulan cerpen.

Dulu saya pernah bermasalah dengan tata cara menulis yang baik dan benar. Saya dianggap nggak pernah taat pada hukum tulis-menulis karena sering menuliskan kata hubung tidak sesuai dengan tempatnya.

Saya tahu kata karena harus disandingkan dengan 2 kalimat yang bentuknya berupa sebab-akibat/akibat-sebab.

Saya tahu kata tapi merupakan kata sambung yang menggabungkan dua kalimat berunsur berlawanan dan ditulis setelah koma di tengah kalimat.

Saya juga tahu kata dan dipakai untuk menghubungkan dua unsur atau lebih yang bersifat penambahan atau memiliki deret berurutan.

Tapi buat saya, sebaik-baiknya menulis adalah menulis seperti halnya berbicara. Tidak perlu mengkhawatirkan kapan harus menggunakan tanda koma dan titik, tidak perlu mengkhawatirkan peletakan kata hubung. Bukan berarti saya menganggap KBBI itu tidak penting lho ya. Hanya saja, saya cuma mau menulis senyaman yang saya bisa. Syukur-syukur yang baca juga ikutan nyaman.

Waktu kuliah dulu, saya pernah mengerjakan sebuah tulisan yang target pembacanya adalah anak-anak muda (berusia kira-kira 17-25 tahunan lah). Di salah satu paragraf, saya menulis seperti ini:

“Kamu tahu nggak kenapa ini bisa terjadi? Karena semuanya sudah diatur oleh pihak yang berwenang. Dalam keterangan pers pun….”

Saya dianggap ceroboh karena meletakkan kata karena setelah kalimat tanya, dan menjadi pengawal kalimat baru. Secara harafiah memang salah, saya tahu itu. Seharusnya kata karena digunakan untuk menghubungkan dua kalimat, bukan untuk menjadi pembuka kalimat yang tidak ada hubungan sebab-akibat atau sebaliknya (bisa di awal kalimat asal ada kalimat yang menyatakan akibat). Tapi saya merasa nggak ada yang perlu dipermasalahkan, karena gaya bahasannya casual, tidak perlu menggunakan “tata krama yang berlebihan”.

Masih teringat dalam benak saya, si editor menasehati saya seperti ini:

“Lo tuh kayak lagi naik motor tapi nerobos lampu merah. Nggak sopan, melanggar hukum. Harusnya lo nggak kayak gitu– tunggu dulu sampai hijau, baru boleh jalan.”

Lalu saya balas saja dengan argumen seperti ini:

“Buat gue nulis itu, apalagi kalau bahasanya casual, kayak kita lagi nyeberang jalan di Jakarta aja. Seharusnya kita tuh nyeberang di zebra cross atau jembatan penyeberangan kan? Tapi kalau lo terlalu ngikutin peraturan, lo nggak akan pernah bisa nyeberang karena nggak semua tempat di Jakarta punya zebra cross dan jembatan penyeberangan yang layak dan tepat guna.”

Nggak masuk akal? Atau merasa nggak nyambung? Oke. Biar adil, saya beri beberapa contoh tulisan yang tidak terlalu mengikuti tata krama KBBI dari beberapa penulis yang pernah saya baca karyanya.

Pertama, soal penggunaan kata tapi, dari novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

“Pertanyaan itu membuat Iteung kembali menangis, lebih kencang, lebih membuat bahunya berguncang. Tapi ia mengangguk. Mengangguk penuh kepastian.” (hal. 159)

Seharusnya, kata tapi ditulis setelah tanda koma, dan diletakkan antara kalimat yang berlawanan. Namun Eka Kurniawan menulisnya sebagai pembuka kalimat baru.

Dari dulu saya sering ditegur karena menggunakan kata tapi sebagai pembuka kalimat. Mungkin karena saya bukan penulis sekaliber Eka Kurniawan? Entahlah, hahaha.

Kedua, penggunaan kata dan. Saya ambil dari buku Creative Writing – Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel karya A.S Laksana. Ini A.S Laksana lho yang nulis. Karya novel dan cerpennya sudah diakui oleh dunia sastra Indonesia.

“Anda tahu, itu urusan bisnis dan hubungan kerja yang tidak baik di antara mereka. Dan cara “menghidupkan” atau “mematikan” seperti itu tidak menarik untuk dicontoh dalam kerja penulisan Anda.” (hal. 69)

Suatu waktu, saya pernah ditegur karena meletakan kata dan di awal kalimat. Banyak orang yang menganggap kata dan tidak boleh berada di depan kalimat. Tapi A.S Laksana melakukannya. Meletakkan dan di awal kalimat. Namun kalau dipikir-pikir, sebenarnya nggak mengganggu saat membacanya juga kan?

Abdurrahman Wahid, atau biasa kita kenal sebagai Gus Dur, presiden keempat Republik Indonesia, dalam esainya yang berjudul “Qashidah” juga memperlakukan kata dan seperti itu:

“Penulis tertegun mendengar uraiannya. Dan, penulis teringat akan cerita bung Syu’bah Asa: ada seorang pelukis menyebutkan ciptaan Beethoven sebagai ‘musik yang paling dekat dengan Tuhan’.” (Tuhan Tidak Perlu Dibela, hal 36)

Penulisan tanda koma setelah dan juga sering menjadi problem pelik. Ada yang menganggap tanda koma tidak boleh digunakan setelah kata dan, ada juga yang menganggap harus menggunakan koma sebelum kata dan.

Buat saya, pengunaan koma setelah kata dan adalah sesuatu yang tidak perlu dipusingkan. Saya selalu punya prinsip: “jangan bikin pembaca ngos-ngosan saat membaca”. Jadi, kalau saya merasa saat membacanya ngos-ngosan, berarti saya harus meletakkan koma di dalamnya. Tergantung situasi dan kondisi. Perhatikan perbandingan kalimat yang saya tulis bebas berikut ini:

Memakai koma:

Saya menjadikan buku-buku yang ada di dalam daftar tersebut sebagai referensi. Di antaranya adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan, dan Creative Writing – Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel karya A.S Laksana.

Tidak memakai koma:

Saya menjadikan buku-buku yang ada di dalam daftar tersebut sebagai referensi. Di antaranya adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan dan Creative Writing – Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel karya A.S Laksana.

Pasti kamu ngos-ngosan membaca contoh yang kedua kan? Ya.. kalaupun nggak ngos-ngosan, paling tidak pasti kamu merasa pusing membacanya. Ruwet. Makanya, kalau dalam kondisi  kalimat yang seperti itu, saya lebih suka memakai cara nomor satu. Pakai koma.

Yang ketiga, ini bukan contoh dari berbagai keluhan seperti yang saya uraikan di atas. Cuma mau ngasih tahu aja, ada penulis yang benar-benar bodo amat sama KBBI, tapi karyanya bisa jadi salah satu karya sastra yang diperhitungkan di Indonesia. Saya ambil potongan kalimat super panjang ini dari  novel Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.

“Baru kali ini mereka menyadari bahwa kasih sayang menggunguli segalanya menembus apa pun yang tidak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan tidak akan bisa dicapai tidak bisa dibincangkan dengan teori metode dan pendekatan apapun bahwa kasih sayang ternyata tidak pernah menawarkan kesempatan untuk tanya-jawab yang tak berkesudahan bahwa kasih sayang ternyata sebuah ruang kedap suara yang merayakan senyap sebagai satu-satunya harap yang semakin khusyuk pelukannya kalau senyap yang tanpa aroma tanpa warna tanpa sosok tanpa asesori mendadak terbanting di lantai kemudian melesat terpental ke langit-langit untuk turun perlahan sangat perlahan memeluk dan membujuk mereka berdua agar tidak usah mengatak sepatah kata pun sedesis huruf pun sebab kata cenderung berada di luar kasih sayang…” (Hal, 44-45)

Pasti kamu malas membacanya sampai habis. Tapi begitulah kenyataannya. Sapardi menuliskan bagian tersebut tanpa titik dan koma sepanjang dua halaman. Contoh di ataspun sebenarnya masih ada lanjutannya. Itu baru kalimat pertamanya saja lho. Total hanya ada dua kalimat dalam dua halaman tersebut. Goks.

Di bagian tersebut, kasarannya, Sapardi benar-benar “mempersetankan” KBBI. Ia menulis apa yang ingin ia tulis.

Saya paham, dalam sebuah pekerjaan tulis-menulis selalu ada standar yang harus ditaati. Itulah yang sedang dan harus saya lakukan sekarang: taat pada standar kepenulisan yang sudah ada, meskipun saya merasa nggak semuanya harus ditaati. Haha. Dasar egois.

Jadi kalau masih ada yang nanya kenapa tulisan saya saat sedang bekerja dan saat saya menulis blog/caption IG berbeda jauh, jawabannya sederhana: karena saat itu saya jadi diri sendiri.

Sumber Gambar: Pexels

2 Replies to “Jadi Diri Sendiri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s