Jangan Jadi Orang Menyebalkan Saat Nonton Konser

Melihat orang-orang menggunakan handphone sepanjang konser adalah hal yang sangat amat menyebalkan.

Di tahun 2017, Chris Martin meminta Will, Guy dan Johnny berhenti memainkan intro lagu Charlie Brown dalam tour konser Coldplay, A Head Full of Dreams di Milan. Penyebabnya adalah penonton yang terlalu sibuk bermain handphone. Chris merasa para penonton lebih fokus merekam bandnya ketimbang ikut bernyanyi berasama.

Mundur jauh ke belakang, di tahun 2016, Gitaris Red Hot Chili Peppers, Josh Klinghoffer, memilih untuk tidak memainkan solo gitarnya saat sedang membawakan lagu Californication. Sebagai gantinya, ia merekam kelakuan para penonton dengan handphone-nya sebagai bentuk rasa jengah.

“When I see people holding machines up and obstructing the view of the people behind them, I get angry,” katanya kepada seorang penggemar.

Masih di tahun yang sama, Corey Taylor, vokalis band heavy metal Slipknot menampar tangan penonton yang berada di garis depan saat sedang sibuk bermain handphone.

Ada banyak yang kontra terhadap hal ini, tapi Corey tetap bodo amat. Ia malah mempublikasikan sebuah pesan super singkat di twitter.

Jauh-jauh hari sebelum fitur video pendek di social media menjadi tren, di tahun 2013, Beyonce juga pernah menegur penontonnya karena hanya memegang handphone sepanjang konser saat diminta bernyanyi bersama.

Perilaku seperti ini menjadi masalah yang cukup serius bagi para musisi. Guns N’ Roses, Alicia Keys, dan She and Him adalah sederet nama yang juga menentang keras penggunaan handphone saat konser.

Itu di luar negeri, bagaimana kalau di Indonesia?

Beberapa waktu lalu Teddy Adhitya sempat curhat di Insta Story-nya (yang ini saya lupa nge-screen capture). Intinya, dia nggak suka kalau penontonnya terlalu sibuk main handphone untuk kepentingan update Insta Story.

Akhir tahun 2017 lalu saya berkesempatan menonton konser Yura Yunita, penyanyi pop naik daun yang tahun lalu mendapatkan AMI Award kategori pencipta lagu terbaik lewat single Intuisi.

Sejujurnya saya sangat kecewa dengan penonton yang hadir. Apalagi yang berada di garis depan. Saya emang nggak tahu-tahu amat lagu Yura (datang ke sana pun juga karena acara klien). Tapi berdasarkan pengalaman menonton Yura di Synchronize Fest 2016 lalu, ada lagu yang menurut saya bisa dinikmati sambil menggerakkan badan, paling nggak sekedar mengangguk-anggukkan kepala saja, yaitu Superlunar.

Kalau tidak salah ingat, Superlunar dijadikan lagu pembuka di konser tersebut. Aneh, cuma saya dan beberapa orang yang mau joget menikmati permainan drum dan bass yang cukup groovy dari lagu tersebut. Yang lain? Malah main handphone. Update Insta Story. Sungguh suatu perilaku yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini.

Saya paham, nggak semua orang suka joget saat menikmati musik. Tapi kasihan pemusiknya. Mereka datang untuk melihat penonton bersenang-senang dan menikmati karyanya, bukan justru melihat penontonnya sibuk merekam untuk kebutuhan konten social media.

Seorang kawan menangkis anggapan tersebut dengan pernyataan: “Kan nggak semua orang bisa nonton konser atau gig sesering elu, Jar. Jangan nyalahin mereka jugalah. Itu hak mereka.”

Begini, saya juga suka merekam dan mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Tapi nggak sepanjang konser juga!

Awal Desember 2017, saya menonton showcase Gardika Gigih di IFI Jakarta. Di sana ada Ananda Badudu, yang untuk pertama kalinya membawakan lagu Sampai Jadi Debu bersama Monita Tahalea. Sebelum lagu dimulai, Ananda mengungkapkan cerita di balik pembuatan lagu Sampai Jadi Debu, yang sesungguhnya ingin didedikasikan kepada Opa dan Omanya. Saat menceritakan hal tersebut, Ananda tak kuasa menahan air mata. Saya sempat mengambil gambar dua kali, lalu seusai konser saya upload foto dan menuliskan hal tersebut di caption foto Instagram saya.

454

Banyak teman yang bertanya, “Kok nggak divideoin?”, ada juga yang langsung minta kirimin videonya via Whatsapp.

Waktu itu saya benar-benar nggak mau megang handphone, karena itu adalah momen yang sangat mahal.

Buat saya, some of the best moments in life are better not be captured by a camera.

Lebih baik saya menyimpannya dalam hati, dalam ingatan, biar jadi kenangan yang nggak ternilai harganya. Salah satunya ya seperti pas nonton konser. Bagaimana mungkin saya bisa masuk ke dalam cerita haru yang disampaikan Ananda Badudu, kalau saya sibuk merekam momen itu? Memang sih, belakangan saya menemukan video tersebut di Youtube. Tapi tetep aja, nonton di Youtube dengan nonton live itu beda rasanya.

Perilaku menyimpang di dalam arena musik seperti ini sebenarnya cukup bikin risih. Apalagi kalau nonton dari barisan belakang. Yang harusnya bisa lihat penyanyinya dengan jelas, malah terhalang oleh tangan-tangan pencari konten Insta Story.

Jadi tolong, kalau nonton konser jangan menyebalkan seperti itu, ya. Kan kasihan, artisnya keren tapi penontonnya norak.

Sumber Gambar: Rolling Stone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s