Yon Koeswoyo

Saya langsung mengirim pesan ke Bapak ketika tahu Yon Koeswoyo, salah satu pentolan Koes Plus meninggal Jumat pagi kemarin.

Ada banyak sekali perbedaan antara saya dan Bapak. Entah itu pandangan politik, sampai hal-hal sepele seperti menilai sikap seseorang. Tapi tanpa Bapak saya nggak akan pernah tahu musik bagus. Dulu, sejak masih duduk di bangku TK, Bapak selalu memutar lagu Koes Plus lewat kaset tape yang diputar di radio. Lagu-lagu seperti Kolam Susu, Andaikan Kau Datang, Kembali ke Jakarta, Why Do You Love Me, Maria, Bis Sekolah dan Bujangan adalah santapan kami sekeluarga setiap pagi. Bahkan sampai sekarang, saat jalan-jalan Bapak masih suka mendengarkan Koes Plus di mobil.

“Dulu Bapak jalan kaki dari Cempaka Putih sampai Monas buat nonton Koes Plus,” katanya semalam, saat saya baru pulang kerja. “Berangkat malem pulang pagi, cuma buat nonton Koes Plus. Lagunya emang lagu ‘kacang goreng’, lagu cengeng, tapi yang nonton udah pasti membeludak,” lanjutnya. Di tahun 70-an Pekan Raya Jakarta (PRJ) masih diselenggarakan di Monas. Ada banyak pertunjukan seni musik yang gratis di sana.

Yon Koeswoyo adalah nyawa terakhir Koes Plus. Setelah Tony Koeswoyo, sang kakak yang menjadi pemimpin band meninggal pada tahun 1987, Yonlah yang berhak menjadi ahli waris band ini (meskipun masih ada Yok Koeswoyo, IMHO).

Setuju dengan Bapak, cuma Koes Plus yang berani bikin album macam-macam genre dan warna musik. Dari mulai pop, ballad, rock, keroncong, dangdut, bahkan mereka sempat merilis lagu-lagu berbahasa Jawa di album Pop Jawa, lagu melayu dan religi.

Sebelum berganti nama menjadi Koes Plus, Koes Bersaudara pernah merilis album bernuansa kritik, yaitu To The So Called The Guilties. Konon album yang dirilis tahun 1967 (dua tahun setelah Yon dijebloskan ke penjara di Glodok oleh rezim Soekarno yang anti musik barat), adalah album kritik politik pertama di Indonesia (Tirto).

Yon berpulang di usia 77 tahun. Ia dikebumikan di makam kakaknya, Tony Koeswoyo, di Tanah Kusir, Jakarta Selatan (CNN Indonesia). Kepergiannya memang menghadirkan duka, tapi sedari dulu Yon pernah berpesan kepada kita semua:

Hidup ini hanya sementara. Tak berguna kau bersedih hati. Percayalah… Sayang… (Buat Apa Susah, Murry)

Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s