Menonton Gardika Gigih

Seperti kebanyakan orang, saya tahu Gardika Gigih lewat lagu Sampai Jadi Debu milik Banda Neira. Permainan pianonya yang sungguh beracun bikin saya sempat berpikir mau beli dan belajar piano di rumah. Tapi untungnya saya nggak punya duit.

Showcase yang dihelat di Institut Francais Indonesia, 2 Desember lalu, merupakan panggung perdana Gardika Gigih sebagai solois. Karena baru pertama kalinya, kecanggungan sangat terasa di awal-awal konser. Saat mengakhiri permainan improvisasi pertama, misalnya. Alumni ISI Yogyakarta ini benar-benar bingung ingin bicara apa. Gestur tubuhnya patah-patah, linglung, seperti orang yang kehilangan kunci motor setelah nongkrong di rumah teman.

“Mohon maaf atas segala kecanggunan ini. Ini adalah pertama kalinya saya main sebagai penampil,” ucapnya, diiringi tawa dan tepuk tangan penonton. Mengakui kepada penonton akan perasaan gugup adalah pilihan tepat. Paling tidak ini bisa membuat si punya hajat lebih luwes dan santai di lagu-lagu berikutnya.

Dalam showcase ini, Gigih tidak sendirian. Ia dibantu oleh beberapa nama seperti Ananda Badudu (Banda Neira), Remedy Waloni (The Trees and the Wild), Layur, Luthfi Kurniadi (Elemental Gaze), Suta Suma (violin, Rockja), dan Jeremia Kimosabe (cello) dan Monita Tahalea. Uniknya, pertunjukan ini hanya dilakukan sekali gladiresik, itu pun dilakukan siang hari sebelum pertunjukan pertama yang dihelat sore hari dimulai. “Saya bahkan baru ketemu Mas Remedy hari ini,” jelasnya sebelum “Peristiwa Ambience Indonesia” terjadi.

“Peristiwa Ambience Indonesia” merupakan sebutan untuk kolaborasi musik ambience yang dimainkan oleh Remedy, Luthfi, Suta Suma dan Jeremia Kimosabe. “Ini merupakan peristiwa ambience pertama di Indonesia,” celetuk Gigih, yang kembali diiringi gelak tawa penonton.

Cuma, ada satu hal yang bikin saya kecewa, single pertama, Kereta Senja sama sekali tidak dimainkan. Padahal itu lagu yang bikin saya mau nonton Gardika Gigih.

Cerita di Balik Sampai Jadi Debu

dasdsa

“Saya nggak pernah mau membawakan lagu ini karena takut membuka hal-hal sedih yang telah lama,” jelas Ananda Badudu di konser Gardika Gigih.

Ada kisah sedih di balik lagu “Sampai Jadi Debu”. Awalnya lagu ini ingin diperdengarkan Ananda di depan Opa dan Omanya di pertemuan keluarga besar Badudu. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain. Keduanya dipanggil sebelum lagu ini resmi dipublikasikan.

“Cerita sedih kedua, ini lagu buat Oma yang udah ngerawat Opa yang kena penyakit dimensia selama sepuluh tahun,” lanjutnya.

Ketika lagu ini sedang direkam di Jogja, Ananda dapat kabar kalau Oma masuk rumah sakit. “Saya pikir cuma check up biasa, ternyata lebih dari itu,” katanya sambil menahan tangis.

Sebelumnya, dalam blog Banda Neira, Ananda menjelaskan kesehatan Omanya– yang biasa dipanggil Mom– justru semakin memburuk. “Saat dirawat, Mom tak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Malah keluarga diminta bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ini pertanda buruk. Saat itu tak ada yang siap kehilangan Mom,” jelasnya.

“Pada akhirnya saya memang bisa memperdengarkan lagu ini buat Mom, tapi di ruangan ICU, saat Mom sedang sakaratul maut,” kata Ananda, yang sudah setengah tenaga menahan haru di atas panggung.

Pada saat lagu ini dimainkan, Ananda yang berduet dengan Monita tak menahan tangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s