Ada Natsir di Senayan

Waktu menunjukkan pukul 20.30 saat saya tiba di Bunderan Senayan. Terlihat seorang lelaki bersama anak perempuannya, kira-kira berumur 13-15 tahunan, sedang berdiri di bawah sinar lampu jalanan.

“Ayah, tadi aku dengar ceramah pas solat Jumat,” kata Si Anak Perempuan, “katanya kalau aku nggak pakai kerudung, aku bakal dosa, ya?”

Ayahnya tertawa. “Nggak gitu juga kok, asal kamu berbuat baik sama orang banyak, kamu pasti masuk surga.”

“Tapi yang ceramah bilangnya begitu, jadi ayah nggak percaya sama ceramah solat Jumat tadi?”

“Bukannya ayah nggak percaya, sebagai muslim kamu memang harus berkerudung untuk menutupi aurat,” jawab Si Ayah, ” tapi nggak berkerudung bukan berarti kamu jadi orang yang buruk.”

“Jadi ayah maunya aku pakai kerudung atau nggak?”

“Maunya pakai dong. Tapi kalau kamu belum siap, mending nanti aja dulu.”

“Maksudnya?”

“Berkerudung itu nggak cuma menutup auratmu, tapi juga perilakumu juga.”

Obrolan berhenti sejenak. Si Ayah mengambil handphone dari sakunya dan berbicara pada seseorang yang menghubunginya.

Waktu itu bus datang lama sekali. Sudah hampir setengah jam saya, dan mungkin juga dua orang di bawah lampu jalanan itu menunggu, tapi yang lewat hanya Kopaja jurusan Tanah Abang atau Pasar Minggu saja.

Setelah ayahnya selesai dengan urusannya, anak itu kembali bicara, “Tadi aku juga dengar kalau ayah harus mantau terus pergaulanku. Kata yang ceramah, aku nggak boleh terlalu dekat dengan orang kristen.”

“Kalau kamu nggak boleh main sama orang kristen, berarti kamu nggak boleh main sama Paula, dong?” Ayahnya kembali tertawa.

“Kok ayah nggak percaya sama ceramahnya sih?”

“Begini, dalam agama kita, sebaik-baiknya sahabat adalah orang muslim. Tapi bukan berarti kita nggak boleh berteman baik dengan orang beragama lainnya.”

Ayahnya mencontohkan, di kantornya banyak orang non-muslim. Bahkan bosnya juga non-muslim. “Tapi apa ayah punya niat buat menjauh dari teman-teman ayah? Nggak kan? Mereka semua baik. Makanya ayah punya banyak teman,” kata Si Ayah, “berteman tuh jangan pililh-pilih. Kalau mereka baik, buat apa kita jauhi?”

Melihat percakapan dua orang itu, saya jadi ingat Muhammad Natsir, tokoh pergerakan Indonesia dari Partai Masyumi. Natsir adalah tokoh islam yang open minded. Ia berpegang teguh terhadap ajaran islam, tapi kemerdekaan Indonesia yang tidak mengatasnamakan golongan apapun tetap menjadi prioritas utamanya.

Natsir dikenal luwes dalam bergaul. Misalnya, hubungannya dengan Aidit dari Partai Komunis Indonesia dan IJ Kasimo dari Partai Katolik Indonesia. Keduanya sering berdebat keras dalam rapat kenegaraan. Tapi di luar itu, mereka tetap berkawan baik.

Natsir begitu sebal dengan Aidit yang hendak meninggikan ideologi komunisme di Indonesia. Seperti yang ditulis pada seri buku Tempo, Natsir – Politik Santun di Antara Dua Rezim, ia geram seperti ingin melemparkan bangku ke kepala Aidit. Tapi setelah rapat selesai, keduanya malah ngopi bareng.

Ini juga dilakukan Natsir kepada IJ Kasimo. Natsir berkeinginan untuk mengedepankan nilai-nilai islam dalam bernegara, sementara IJ Kasimo ingin tetap mempertahankan Pancasila. Tapi setelah debat selesai, di luar persoalan politik, mereka adalah kawan baik. Tak ada api permusuhan di antara keduanya.

Selain luwes bergaul, Natsir juga memiliki pandangan yang adil terhadap berbagai hal, salah satunya soal jilbab. Ia berpandangan bahwa:

“Orang yang berjilbab itu adalah sebaik-baiknya muslimah. Tapi yang tidak pakai jilbab jangan dibilang nggak baik.” – Natsir (saat rapat Dewan Dakwah awal 1980-an)

Dari pernyataan Natsir di atas, bisa ditafsirkan bahwa ia yakin kalau orang baik bisa datang dari mana saja, dalam bentuk dan rupa apa saja.

Malam itu saya melihat ada kesamaan antara Si Ayah dan Natsir: mereka mengajari kita untuk tidak saling menghakimi– sesuatu yang bahkan di sekolah pun masih jarang diajarkan.

Sementara Si Ayah dan anaknya masih menunggu, bus yang akan mengantarkan saya pulang sudah datang.  Di dalam bus saya merasa senang, karena saya seperti baru saja melihat Muhammad Natsir di Bunderan Senayan.

Sumber gambar: emiliapaw5-DeviantArt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s