Penistaan Agama Before It Was Cool

Andai saat solat Jumat bisa walk out, mungkin saya akan jadi peserta yang paling sering keluar mesjid karena tidak suka materi khotbahnya.

Sejak kecil, sebelum Ahok jadi bahan olok-olok publik karena dianggap terlalu berani mengomentari isi dan makna kitab suci Al-Qur’an, saya sering mendengar materi khotbah yang isinya menjelek-jelekan agama lain.

Dari sini muncul pertanyaan: “Kalau di forum agama sendiri, ya nggak apa-apa dong?”. Nggak apa-apa bagaimana? Mereka, para ustad yang bikin saya malas ibadah, berbicara lantang sambil menjelek-jelekan agama lain memakai pengeras suara. Tidak hanya orang-orang yang berada di dalam mesjid saja yang bisa mendengar, orang luar juga bisa, termasuk mereka yang non-muslim.

Khotbah Jumat yang seharusnya berisi siraman rohani yang menyejukkan, malah jadi siraman kebencian. Selama setengah jam para jamaah solat Jumat cuma dibentak-bentak. Substansi khotbahnya pun, hampir semuanya, punya tendensi pada satu pandangan politik atau suku dan ras tertentu.

Begini, setiap agama pasti menganggap umat agama lainnya sebagai orang yang melenceng, salah jalur, atau kalau boleh memakai bahasa kasar: orang-orang kafir. Tapi ya tidak seharusnya bahasan yang sifatnya hanya bisa dibahas pada forum agama masing-masing jadi konsumsi publik.

Hal lain juga terjadi saat saya masih SD. Saya pernah melihat anak non-muslim mengolok-olok kitab suci temannya yang muslim setelah melihat potongan halaman surat Al-Baqarah. “Masak di kitab suci ada Sapi Betinanya? Bau dong!” katanya sambil tertawa.

Al Baqarah artinya sapi betina. Kalau dia sudah dewasa dan terkenal seperti Ahok, mungkin sudah dituntut dan didemo ratusan ribu massa.

Kita berhak melawan jika ada yang mengganggu kenyamanan dalam memeluk kepercayaan. Apalagi kalau sifatnya kriminal, kita bisa langsung menyelesaikannya dengan jalur hukum.

Tapi bukan berarti ini bisa jadi alasan legal untuk menyerang habis-habisan umat agama lain– yang tidak ada sangkutpautnya dengan masalah tersebut.

Cuma gara-gara satu orang, yang lainnya juga kena imbas. Karena bagi saya, menganggap perilaku buruk seseorang sebagai representasi dari suatu suku, ras atau agama secara keseluruhan adalah perilaku yang sangat amat tolol.

Sumber gambar: Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s