Berdamai dengan Diri Sendiri

Beberapa waktu yang lalu gue memesan ayam cepat saji melalui ojek online. Sebenarnya jarak antara kantor dan tempat jualan ayam cepat saji itu tidak terlalu jauh. Tapi karena hujan (dan males gerak tentunya), gue dan teman-teman yang lain memesannya dengan ojek online.

Menu yang kami beli cukup banyak. Ada 5 orang lebih yang memesan. Setelah satu jam lamanya akhirnya abang ojek online-nya datang. Tapi dia kelupaan satu menu, dan menunya adalah menu ayam yang gue pesan. Keburu abangnya pergi jauh, gue langsung menghubunginya lagi biar gue bisa makan. Kan sayang, udah bayar tapi nggak ada makanannya.

Jelas-jelas gue ngomong ayam dada pake nasi dua. Tau-tau dia dateng lagi, bawa ayamnya sih, tapi ayamnya doang tanpa ada sebutir nasi sedikitpun. Gue uber lah abangnya. Rasanya mau marah. Tapi abangnya udah nggak ada. “Yaudah lah, ikhlasin aja. Kasihan abangnya ujan-ujanan disuruh bolak-balik,” kata temen.

Beberapa minggu kemudian, kami punya ide untuk jajan makanan di tempat yang sama. Menu yang dipesan juga banyak. Tapi kali ini yang beli ayam cuma dua orang, sisanya es krim dan sup.

Kali ini pesanan datang lebih cepat. Pas abangnya masuk ke kantor, gue ngerasa kayak pernah ketemu. “Kemarin saya pernah salah kan, Mas. Kali ini saya nggak mau salah lagi. Silakan dicek dulu (pesanannya), udah lengkap belum, ya?” Ternyata dia Bang Syamsudin, abang ojek online yang waktu itu pernah nyaris gue uber karena salah bawa pesanan. Padahal bisa aja dia cancel pesanannya kalau merasa kapok mampir kantor gue. Tapi dia justru berani datang untuk menebus kesalahannya.

Sambil minta maaf atas kejadian yang lalu, Bang Syamsudin pamit keluar dari kantor. Dari situ gue jadi kepikiran. Mungkin waktu itu gue terlalu emosi karena laper dan terlalu lama menunggu. Yang jelas gue nggak enak kalau inget Bang Syamsudin pernah gue marahin ditelepon untuk ngambil paket ayam yang ketinggalan.

Belakangan ini gue malah ngerasa kesel sama diri sendiri. Udah nggak bisa cuek lagi. Suka kepikiran kalau kelepasan marah sama orang. Nggak cuma itu, dulu kalau gue udah kesel dan kecewa banget sama orang, gue pasti bakal nyuekin mereka– kecuali ada keperluan penting yang mengharuskan gue berinteraksi. Tapi sekarang gue jadi “lembek” banget. Gue yang nyuekin, guenya juga yang kepikiran.

Sebenarnya gue nggak pernah punya niat musuhin orang. Kalaupun mereka punya niat baik, sejujurnya gue juga akan bersikap baik, tapi tetep seperlunya aja. Sekarang mah beda, gue yang nyuekin, setelahnya gue juga yang berusaha bersikap baik. Kayak ada rasa capek nyuekin orang gitu lho.

Dari sini, gue jadi ingat Sungu Lembu, tokoh utama di novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Sungu Lembu adalah orang yang keras kepala. Mudah terbakar amarah. Pandai namun sering bertingkah bodoh. Dan punya ambisi besar untuk membunuh Prabu Watugunung, Raja Gilingwesi yang di masa lalu pernah melibas habis kampung halamannya, Banjaran Waru.

Ada satu hal yang bisa gue ambil dari cerita dongeng tersebut: Sungu berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Ia benar-benar merubah semua pandangan negatifnya terhadap banyak hal.

Mungkin itu yang secara nggak langsung sedang gue lakukan saat ini. Gue sadar, dalam beberapa hal gue emang mudah banget termakan emosi sendiri. Kadang gue juga mikir, di luar sana pasti ada banyak orang yang sebel sama gue. Jadi gue berusaha untuk adil. Nggak mau merasa benar sendiri.

Meskipun di sisi lain gue selalu menolak untuk “bersikap baik” untuk hal-hal yang nggak gue suka, ternyata berdamai dengan diri sendiri itu lebih menenangkan, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s