Serba Mistik

Orang Jawa tradisional memang sarat akan cerita-cerita magisnya. Setiap saya pulang kampung, pasti ada saja cerita mistik yang saya dapatkan.

Misalnya, saat Gunung Merapi meletus 2010 lalu, banjir lahar dingin menerjang Kali Gendol, Magelang, Jawa Tengah. Lahar dingin yang turun deras dari puncak merapi sampai membanjiri jalan utama Magelang-Yogyakarta. Beberapa bulan setelah aliran sungai normal, terlihat batu-batu krakal besar yang terbawa arus dari puncak tergeletak di sana-sini.

“Batu-batu itu nggak bisa dipindah. Padahal udah pake alat berat, tapi nggak ada satupun yang bisa mindahin,” kata salah satu tetangga Mbah di Magelang. Ia melanjutkan, ada seorang kuli tambang pasir setempat yang mencoba memecahkan batunya. Setelah berhasil pecah di salah satu bagian, konon mengalir darah merah yang disertai rambut-rambut hitam dari batu tersebut.

Nggak berhenti sampai situ saja. Sewaktu merapi meletus, banyak penduduk yang mengungsi ke daerah yang aman dari jangkauan awan panas. Setelah dirasa aman, salah satu warga yang kembali ke rumah dibuat kaget oleh bongkahan batu besar  yang tahu-tahu ada di dalam rumahnya. Yang nggak kalah anehnya lagi, batu itu masuk tanpa menghancurkan salah satu bagian rumah sedikitpun. Padahal secara logis, bentuk batu itu lebih besar dari pintu masuk. “Kalaupun itu batu muntahan dari merapi, harusnya rumah itu hancur dong,” kata saudara saya.

Selain di Magelang, saya juga sering mengunjungi kampung halaman orang tua bapak saya di Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa hari sebelum Lebaran, Purworejo terkena banjir besar. Saat banjir, salah satu patung monumen di kota ini (katanya) ditemukan suatu keanehan.

“Waktu banjir besar, ada orang yang motret tugu. Tahu-tahu ada jerapah berdiri di sana. Padahal kalau dilihat dengan kasat mata, ya nggak ada apa-apa,” kata salah seorang kerabat di Purworejo.

Benar atau tidaknya jerapah itu, saya nggak bisa memastikan. Peduli amat sama hal-hal yang seperti itu?

Mundur ke belakang, saat saya masih duduk di bangku SD, saya pernah ditegur warga setempat karena bermain di sekitar kolong saluran air besar yang sudah kering. Padahal saya hanya memberi makan domba dan sapi yang kebetulan sedang bergerombol di sana.

“Jangan main ke situ, nanti nggak bisa pulang lagi,” tegur salah satu warga.

Konon, di kolong saluran air besar itu “ada yang jaga”. Pernah ada salah seorang warga yang “belagu” main ke sana, tahu-tahu menghilang. Apa dia kembali? Entahlah, saya nggak peduli.

Mochtar Lubis dalam bukunya, Manusia Indonesia, pernah bilang kalau orang Indonesia sangat percaya mistik. Saya orang Indonesia dan saya percaya adanya dunia gaib. Lha wong malaikat aja nggak terlihat kok. Tapi ini nggak berlaku untuk cerita mistik yang berasal dari mulut ke mulut dan tidak terbukti kebenarannya.

Ini juga berlaku untuk urusan ramalan zodiak atau hal-hal sejenisnya. Saya nggak pernah mempercayai yang namanya ramalan. Dulu, ada seorang kakek tua yang memegang tangan saya, tahu-tahu dia bilang kalau jodoh saya adalah orang yang menjadi pacar saya waktu itu. Tapi nggak lama setelah diramal, saya putus.

Kan goblok.

Sumber Gambar: GeekTyrant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s