Serba Nyicil

Hidup saya banyak berubah sejak masuk digital advertising agency. Aktivitas membaca dan menulis menjadi barang langka. Terhitung sejak awal Desember 2015 lalu, baru ada satu buku yang berhasil saya tamatkan dan 5 tulisan blog yang baru saya tulis (belum termasuk tulisan ini). 

Saat ini saya sedang berusaha “mati-matian” menyelesaikan The Silkyworm karya Robret Galbraith alias J.K Rowling– yang sudah saya mulai sejak pertengahan Maret lalu. Sesekali saya menyicilnya di bus kota saat berangkat atau pulang kerja, dan… di toilet kantor. Belakangan ini saya memang suka bersembunyi di toilet kantor untuk membaca buku. Intinya, saya ingin buku yang sedang saya baca cepat tamat.

Sampai tulisan ini ditulis, The Silkyworm yang sedang saya baca masih tersisa 60 halaman lagi. Rencananya sih mau diselesaikan saat long weekend awal Mei ini. Tapi, lagi-lagi, mood yang naik turun serta urusan bersih-bersih rumah menjadi faktor belum selesainya buku tersebut (maklum, keluarga sedang berada di Yogyakarta untuk beberapa waktu).

Apalagi saya ini tipe orang yang slow reader banget. Ya sudah, kelar semua perkara.

Dalam menulis juga demikian. Waktu saya untuk menulis sangat terbatas. Beruntung bulan Mei ini ada long weekend. Saya bisa mengisinya dengan membaca dan menulis 1-2 tulisan di blog.

Padahal sejak Desember lalu saya bertekad untuk menulis minimal 1 tulisan per bulannya. Tapi di bulan April lalu saya tidak menulis apapun. Atau lebih tepatnya menulis sesuatu tapi tidak terselesaikan karena beberapa aktivitas rutin, mood yang sedang tidak baik dan sakit demam, batuk disertai pilek yang tidak berkesudahan.

Tulisan blog saya yang berjudul Ben Whittaker di Permata Hijau sebenarnya sudah ditulis sejak awal April lalu. Tapi sempat tertunda karena mood yang kurang baik dan kondisi kesehatan yang buruk. Alhasil, 5 Mei lalu tulisan tersebut berhasil dipublikasikan.

Lucu juga sih. Baru kali ini saya membaca dan menulis dengan metode serba nyicil. Nyolong waktu. Dan ngumpet-ngumpet sampai ke toilet. Pokoknya tergantung mood.

Belakangan saya baru tahu kalau penulis sekaliber Eka Kurniawan juga menulis novel-novelnya tergantung suasana hati. Ia pernah mandek di tengah jalan ketika menulis novel terbarunya yang berjudul ODi tengah kemandekannya itu, Eka justru membuahkan karya lain yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Jadi saya rasa tidak masalah jika ke depannya saya membuat draft postingan blog (yang nggak ada gunanya ini) dan dipublikasikan di lain waktu. Hahaha.

Mulai sekarang, mau tidak mau saya harus belajar menikmati hidup dengan serba menyicil. Itung-itung melatih kesabaran.

Sumber Gambar: yourhomewizards.com

2 Replies to “Serba Nyicil”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s