Ben Whittaker di Permata Hijau

Di antara kesunyian di dalam bus, ada pembicaraan antara dua laki-laki paruh baya yang terdengar dari bangku sebelah.

“Berangkat pagi, pulang malam. Sebenarnya saya betah, tapi gimana ya, kadang capek juga,” katanya kepada penumpang sebelah, mungkin teman sekantornya.

Selain itu, orang ini juga bercerita bahwa ia sudah bekerja 13 tahun di tempatnya sekarang. “Saya itungannya udah senior, tapi apa-apa masih dilimpahkan ke saya. Sementara teman saya yang levelnya setara, nggak segitunya amat kerjaannya. Kan capek,” jelasnya lagi.

Ada yang janggal dari pembicaraan tersebut. Pertama, orang ini naik feeder bus yang ongkosnya Rp 16.000 untuk sekali jalan. Dia juga bilang selalu naik ojek dari rumah ke halte bus dan setelah turun dari bus saat pulang kerja dengan ongkos Rp 25.000 per sekali jalan. Ini artinya orang itu punya penghasilan yang lumayan, malah lebih dari cukup. Terlebih kedua anaknya sudah menikah, yang artinya sudah tidak punya beban mengurusi anak lagi. Kedua, dia sudah bekerja selama 13 tahun. Tapi masih merasa terbebani dan perhitungan dengan pekerjaannya.

Tiba-tiba saya teringat Mas Suday, office boy kantor saya yang selalu datang lebih awal dibanding saya dan teman-teman yang lain, yang sejak pagi sudah sibuk mencuci piring kotor sisa makan malam kami, menyiapkan minum di beberapa meja, dan merapikan rak sendal yang setiap hari selalu berantakan.

**

Waktu itu tepat pukul 08:45 ketika saya berpapasan dengan Mas Suday di lorong kecil kantor. Ia sedang merapikan rak sendal “kesayangannya”.

“Mas Uday rajin banget jam segini udah ngerapihin sendal,” kata saya menyapa.

“Iya, Mas. Kan biar nggak berantakan. Nanti kalau ada tamu kelihatannya jadi bagus,” jawab Mas Suday.

Beberapa kali saya selalu melihatnya merapikan sendal-sendal kami yang selalu berserakan. Setengah sebelas siang biasanya ia berkeliling untuk mencatat pesanan makan siang orang-orang kantor. Sebelum berangkat menuju tempat pembelian makanan, Mas Suday selalu menyempatkan untuk merapikan sendal-sedal tersebut terlebih dahulu. Sepulangnya membeli makan siang dan menaruhnya di masing-masing meja orang kantor, Mas Suday juga tetap membereskan sendal-sendal kami. Bahkan sebelum pulang ke rumah pun (sekitar jam 4 atau 5 sore), ia juga tetap menyempatkan diri merapikan rak sendal tersebut.

Bagaimana Mas Suday menjalani pekerjaannya mengingatkan saya pada Ben Whittaker dalam film The Internyang diperankan oleh Robert De Niro. Ben adalah pensiunan yang ikut Senior Citizen Intern Program di perusahaan startup, About the Fit. Ia menjadi asisten pribadi Jules Ostin, CEO perusahan tersebut– yang diperankan oleh Anne Hathaway.

Kehadiran Ben memberikan banyak perubahan dalam hidup Jules. Ia tidak hanya menjadi asisten pribadi, tapi juga menjadi kawan yang siap membantunya kapan saja. Dari mulai membelikan sarapan sampai menjadi teman curhat urusan rumah tangga Jules yang berantakan. Semua ia lakoni sesuai porsi, tidak berlebihan, apalagi sampai ikut campur urusan pribadi Jules. Dan satu lagi, Ben tidak pernah merasa keberatan dengan setiap pekerjaan yang ia jalani. Semuanya ia jalani tanpa protes sedikit pun.

Tidak hanya dengan Jules, Ben juga akrab dengan teman-temannya yang berusia jauh lebih mudaIa menjadi tempat untuk bertanya untuk segala urusan, termasuk urusan kisah cinta mereka yang putus nyambung.

Hampir mirip dengan Ben, Mas Suday hadir bukan hanya sebagai office boy, tapi juga sebagai orang yang tahu makanan kesukaan kami, yang tahu kapan kami harus makan buah, yang mau mengganti jus kami jika rasanya tidak enak, yang tahu kapan kami harus makan sayur, dan yang paling tahu kalau kami sangat malas membereskan sendal di lorong kantor.

Untuk urusan rak sendal, pernah suatu waktu Mas Suday tidak masuk karena anaknya sakit. Rak sendal yang sehari-harinya dijaga serapi mungkin jadi berantakan tak berbentuk.

Mas Suday bisa saja kesal karena kami tidak becus menjaga kerapian rak sendal “kesayangannya”. Mungkin saja ia juga capek membereskan sesuatu yang ujung-ujungnya kami rusak lagi. Tapi Mas Suday punya rasa kepemilikan yang besar terhadap apa yang ia kerjakan di kantor. Inilah yang membuatnya bekerja dengan tulus, tidak pernah perhitungan, apalagi mengeluh kurang ini dan itu.

Malah Mas Suday sering berinisiatif untuk membantu kami. Suatu waktu saya dan beberapa teman memesan jus alpukat, tapi rasanya aneh. Manisnya cuma di awal, ujungnya pahit. Gara-gara itu, jus alpukat tersebut kami jadikan bahan candaan karena rasanya mirip kisah cinta yang kandas di tengah jalan. Mendengar candaan kami, Mas Suday langsung menghampiri dan bilang akan menggantikannya dengan yang baru. “Soalnya yang jual jus bilang gitu, kalau nggak enak bisa diganti yang baru,” katanya.

Mas Suday bisa saja acuh karena pekerjaan yang lain masih menunggu untuk dikerjakan. Tapi ia memilih untuk turun dan mengambil jus pengganti untuk kami.

Baik Ben dan Mas Suday adalah dua hal yang berbeda, tapi ada satu kesamaan yang mereka miliki: selalu ada makna yang diberikan di setiap kehadiran mereka.

Dari Mas Suday, saya belajar kalau bekerja bukan muluk-muluk soal lebih atau kurang, enak atau tidak enak, tapi juga bagaimana kita merasa cukup dengan segala kekurangan yang ada saat ini.

Gara-gara Mas Suday, belakangan ini selalu ada rasa malu yang muncul ketika saya mulai merasa lelah dan ingin ngedumel karena pekerjaan yang dikerjakan mendadak ruwet dan numpuk nggak karuan.

Sumber Gambar: New York Times

4 Replies to “Ben Whittaker di Permata Hijau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s