Baru Sadar Sekarang

Ibu selalu membangunkan saya jam 5 pagi untuk membetulkan PR matematika yang masih amburadul. Dari 5 nomor yang saya kerjakan, hanya satu nomor yang jawabannya benar. 

Di atas tempat tidurnya ibu menaruh papan tulis yang disenderkan ke dinding untuk mengajari saya matematika. Beberapa kali ibu sering menegur saya dengan keras karena tertidur saat ibu sedang menjelaskan. Maklum, masih pagi.

Setiap ibu bertanya “Ngerti nggak, Jar?”, saya hanya menjawab “Iya” dengan harapan PR saya cepat selesai. Sebenarnya saya mengerti rumus dari soal-soal tersebut. Tapi ada saja yang membuat jawabannya salah. Entah itu salah hitung, salah urutan atau tulisan saya yang kurang jelas (untuk yang satu ini, ibu pernah menghukum saya menulis di satu lembar folio agar tulisan tangan saya lebih rapih).

Mengajar di pagi hari sering ibu lakukan sejak saya masih duduk dibangku TK sampai SMP kelas 2. Ibu melakukannya karena saya dianggap tidak teliti dalam segala hal, termasuk matematika. Ia tidak mau saya mendapat nilai jelek karena tidak teliti dalam mengerjakan soal.

“Kalau nggak teliti, kamu bisa merugikan orang banyak. Nggak usah buru-buru!” kata ibu memarahi.

Waktu itu saya bodo amat. Karena, jujur, saya nggak pernah mau memusingkan hal-hal yang nggak perlu dipusingkan. Sejak dulu saya nggak suka matematika, jadi untuk apa saya capek-capek mengurusi hal yang tidak saya sukai?

Jatuh Lagi, Sakit Lagi

Kebiasaan saya yang suka grasa-grusu dan nggak pernah berpikir panjang dalam bertindak juga dirasakan bapak. Salah satu alasan kenapa saya tidak terlalu diizinkan mengendarai mobil untuk keluyuran ke sana-sini adalah karena saya sering kecelakaan sepeda motor. (Di samping itu juga karena dari dulu bapak tidak mau membiasakan anak-anaknya memakai fasilitas keluarga seenak jidatnya sendiri).

Di rumah saya hanya ada 3 orang yang bisa mengendarai sepeda motor. Saya, bapak dan adik perempuan saya. Tapi di antara mereka, saya yang paling sering mengalami kecelakaan. 4 tahun yang lalu saya nyaris mencelakakan adik karena tidak hati-hati dalam mengendarai motor. Beruntung, yang luka berat hanya saya, sementara adik hanya mengalami luka ringan.

Akhir tahun 2015 lalu juga demikian. Bedanya, saya naik motor sendirian.

“Naik motor aja tabrakan mulu, gimana naik mobil,” kata bapak lewat telepon, waktu itu bapak dan ibu sedang berada di Jogja mengurusi urusan kuliah adik.

Saya menabrak asisten rumah tangga yang nyelonong belok kiri tanpa menggunakan lampu sen. Badan saya terseret 4 meter, punggung saya baret-baret, dan pinggang saya sakit. Rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang kalau saya melakukan aktivitas fisik yang berat. Motor saya juga hancur nggak berbentuk.

Salah Ukuran

Keteledoran saya kembali terjadi beberapa hari yang lalu saat pulang dari Bali. Sesampainya di rumah, saya kaget hampir semua baju yang saya beli salah ukuran. Padahal saya sempat bertanya ke mbak-mbak kasir soal ukurannya, dan mbaknya sendiri yang mengambilkan baju sesuai dengan yang saya minta. Sialnya, baju untuk ibu dan adik yang seharusnya berukuran M malah berukuran XL. Sementara baju untuk bapak yang harusnya berukuran XL malah berukuran M.

Sifat kurang teliti ini belakangan juga sering terjadi saat bekerja. Menjadi copy writer membutuhkan ketelitian dalam penulisan dan penggunaan tata bahasa. Beberapa kali copy yang saya rilis malah banyak typo-nya.

Jujur ya, sebenarnya saya capek dengan segala macam kebodohan ini.

Dan kampretnya lagi, kenapa saya baru sadar pentingnya menuruti omongan ibu agar menjadi orang yang lebih sabar dan teliti sekarang?

Sumber Gambar: boredpanda

2 Replies to “Baru Sadar Sekarang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s