Selesai Di Lampu Merah Permata Hijau

Adalah sebuah ketololan yang hakiki bagi siapapun yang suka merusak buku. Bagi saya buku adalah sesuatu yang terhormat. Lebih terhormat dari seorang presiden atau raja sekalipun. Karena tanpa buku, dunia ini tidak akan pernah dihuni oleh orang-orang hebat.

Bung Hatta tidak akan pernah menjadi orang yang disegani di dunia politik internasional jika ia tidak menghormati buku. Konon Wakil Presiden pertama RI ini selalu berdandan rapih dan bersepatu jika ingin membaca buku. Bahkan sedikit pun beliau tak tega melipat bagian-bagian bukunya untuk dijadikan penanda.

Waktu awal masuk kuliah, saya pernah membaca buku Catatan-catatan Jurnalime Dasar karya Luwi Ishwara. Saya membacanya di rumah, di kelas dan di dalam bus saat hendak berangkat atau pulang kuliah. Buku ini selalu saya jaga agar tidak terlihat buruk. Tapi musim hujan yang ganas membuat buku yang sudah saya simpan di dalam tas menjadi basah, keriting di bagian pinggirnya, lecek, dan banyak bagian sampul yang mengelupas.

Kemudian di akhir tahun 2013 saya membaca The Cuckoo’s Calling karya Robert Gilbert (alias J.K Rowling). Saya membacanya di sela-sela waktu magang. Dan kembali, musim hujan membuat buku ini hancur berantakan.

Saya merasa kesal dengan diri sendiri. Harusnya hal ini tidak terjadi andai saja saya lebih cermat dalam merawat buku-buku tersebut.

**

“Lo nggak akan bisa rutin membaca buku lagi kalau kerja di Digital Agency,” kata seorang kawan yang heran dengan kebiasaan saya membaca buku di sebarang tempat. Saya juga tidak menampik anggapan tersebut. Bekerja di Digital Agency memang sudah menjadi pilihan saya sejak lulus kuliah. Saya juga sudah siap dengan konsekuensinya.

Di bulan Desember 2015 lalu saya memutuskan untuk membaca Aruna & Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak. Dari sekian banyak buku lama yang belum terbaca, buku ini justru yang saya pilih. Ini bukan karena di sampul belakangnya terpampang foto tante Laksmi yang cantik. Tapi karena beberapa hari setelah saya membelinya, buku ini masuk 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke- 15.

Kondisi terakhir sampul belakang buku Aruna & Lidahnya (Laksmi Pamuntjak).*

Saya selalu membawa buku ini ke mana pun saya pergi. Setiap ada waktu kosong, saya selalu membacanya. Pokoknya buku ini harus tamat secepatnya karena ada banyak buku yang mengantri untuk dibaca.

Sewaktu awal masuk kerja, saya membacanya di Commuter Line (CL) sambil berdiri. Membaca sambil berdiri sudah saya lakukan sejak awal masuk kuliah, baik itu membaca buku atau membaca materi kuliah. Membaca buku ini di CL bukanlah perkara mudah. Ada banyak kejadiaan konyol yang membuat saya harus bersabar agar tetap bisa fokus membaca. Dari mulai ibu-ibu rumpi yang ngomongin teman kerjanya, laki-laki sotoy yang mencela-cela pemerintahan, cabe-cabean yang histeris karena kecopetan, sampai bapak-bapak yang ngotot nggak mau mengalah dengan ibu-ibu hamil.

Tidak hanya itu, buku ini juga jadi rusak karena pada suatu waktu saya menaiki kereta yang ramainya naujubilah. Berdiri berdempetan membuat tas saya jadi kegencet. Alhasil buku ini jadi keriting di bagian pinggirnya.

Karena CL tidak manusiawi, saya memutuskan untuk kembali ke bus kota (transportasi umum yang sering saya gunakan saat kuliah). Ada cerita menggelikan saat saya membaca buku ini. Di suatu hari saya pernah membacanya sambil menahan nafas karena ada pengamen yang badannya bau banget. Suaranya yang cempreng nggak karuan juga membuat saya sangat terganggu dan mudah kehilangan fokus saat membaca.

Dari bus kota, saya melanjutkan perjalanan dengan Metro Mini. Di sini saya pernah membacanya sambil mendengar kata-kata kotor dari kenek yang merasa jatah penumpangnya dibabat habis oleh Metro Mini lainnya. “Ini orang baru babi banget, ya!” katanya sambil menggebrak pintu yang sudah tak berfungsi lagi. “Emang dasar setan, berani amat nyari masalah di kampung orang.” Konon supir Metro Mini yang menyambar penumpangnya adalah orang Jawa. Dia baru dua hari jadi supir Metro Mini.

Tak tahan dengan kelakuan supir dan kenek Metor Mini, saya beralih ke Ojek Online. Ini bukan tanpa alasan. Semenjak Ahok mengungkapkan kemarahannya kepada Metro Mini di media, banyak sekali supir yang memilih mangkir. Pada saat pulang kerja, misalnya. Paling tidak saya harus menunggu selama setengah jam untuk menaiki Metro Mini ke arah Blok M. Belum lagi kalau si supir tidak punya SIM, pasti saya dan penumpang lainnya dioper ke Metro Mini lainnya. Fisik saya malah lebih banyak terkuras di jalanan daripada di kantor.

Kembali ke Ojek Online, belakangan ini saya sering membaca buku saat menaiki Ojek Online. Tentu ini aneh jika dilihat orang. Belum lagi angin kencang di sepanjang jalan yang suatu waktu bisa membolak-balikkan halaman buku secara tiba-tiba. Atau bisa saja bukunya terlepas dan jatuh ke jalanan jika tangan saya salah pegang (tapi untungnya ini belum pernah terjadi).

Tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak bisa hidup tanpa membaca buku. Paling tidak– di tengah kesibukan yang saya jalani saat ini– dalam dua bulan saya bisa melahap satu buku hingga tamat.

Sejak itu pandangan saya terhadap “perusakan buku” jadi berubah. Seseorang akan terlihat tolol jika membiarkan bukunya rusak begitu saja. Tapi hal tersebut tidak berlaku untuk orang yang merusak bukunya karena tidak punya waktu dan ruang yang cukup untuk membaca. Karena di setiap kerusakan pasti ada cerita yang bisa dikenang di kemudian hari.

Buku Tante Laksmi akhirnya bisa saya selesaikan Jumat lalu (29/1), dengan wujud akhir yang urak-urakkan, saat sedang berada di lampu merah Permata Hijau, Jakarta Selatan.

*Kalau Tante Laksmi melihat buku ini, apakah dia mau menandatanganinya? Semoga mau, ya. Hahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s