Bentakan Ahok Tak Selamanya Wajar

Ini bukan persoalan rasial, tapi persoalan etika.

Awal kemunculan Ahok di media memang menjadi penyegaran. Ia dianggap sebagai tokoh yang berani mendobrak batas-batas yang selama ini dianggap “wajar” oleh pejabat-pejabat tinggi di Indonesia. Saya pun ikut kagum.

Videonya saat marah-marah kerap kali mendapat pujian. Saat kisruh APBD DKI Jakarta, misalnya. Ahok bersikeras untuk mempertahankan APBD versi pemprov daripada versi DPRD yang jumlahnya terpaut jauh lebih besar. Dalam mediasi, Ahok berteriak keras di depan puluhan anggota DPRD yang menentangnya. Ia seolah tak peduli dengan umpatan yang dilontarkan para anggota DPRD.

Beberapa hari kemudian Ahok diundang oleh salah satu stasiun televisi swasta untuk membahas masalah APBD. Dalam acara berita petang tersebut Ahok lepas kontrol dengan melontarkan kata-kata kasar. Beberapa kali presenter memohon untuk tidak berkata kasar, tapi Ahok menolak. Akibatnya stasiun TV tersebut ditegur Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Jujur saja, sesekali umpatan yang terlontar dari mulut Ahok bisa dijadikan hiburan. Apalagi jika umpatan tersebut ditujukan kepada oknum pejabat yang melanggar aturan. Tapi apakah segala kata-kata kasar dari Ahok bisa dianggap wajar? Rasanya tidak.

Setahun yang lalu Ahok membentak seorang guru honorer yang sudah 10 tahun mengabdi namun tak kunjung menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia lepas kontrol saat ditanya di mana janji pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Seorang guru bernama Eva sampai pingsan setelah dimarahi.

Baru-baru ini Ahok disambangi oleh ibu-ibu rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Pinangsia yang mengeluh karena jarak rusun terlalu jauh dengan sekolah anak-anaknya. Ahok sontak marah ketika para ibu tersebut membawa anak-anaknya yang dinilai berpresitasi di sekolah. Ia menganggap para ibu tersebut memperalat anak-anaknya untuk kepentingan orang tua.

Beberapa hari kemudian, Ahok kembali didatangi warga. Dua orang paruh baya datang ke Balai Kota untuk bertanya soal Kartu Jakarta Pintar (KJP). Salah satu di antaranya yang paling “ngotot” adalah Yusri Isnaeni. Maksud hati ingin mendapatkan kejelasan, Yusri justru dianggap maling karena mencairkan kartu tersebut ke dalam bentuk tunai.

Di sini terlihat jelas bagaimana Ahok tidak mampu memahami publiknya. Ketika sudah menjadi pejabat, seseorang tidak hanya berhadapan dengan persoalan korupsi, birokrasi yang runyam dan persoalan politis. Tapi juga pemahaman keadaan masyarakat secara mendalam.

Ahok tidak akan pernah bisa memaksakan pola pikir dan kehendaknya di depan ibu-ibu guru honorer yang sudah mengabdi selama 10 tahun. Saat ini gaji guru honorer hanya berkisar Rp 150-300 ribu. Pernahkah Ahok membayangkan seberapa besar tekanan psikologis seseorang yang bertahan hidup dengan penghasilan sedemikian rendah?

Ahok juga tidak bisa menyalahkan ibu-ibu rusunawa Pinangsia yang mengeluh karena jarak antara rumah dan sekolah anaknya semakin jauh. Dengan jarak yang semakin jauh, makin besar pula ongkos untuk mengantarkan anak sampai sekolah. Karena hingga detik ini negara belum becus menyediakan transportasi publik yang layak dan ramah dengan orang-orang kecil.

Ahok juga tidak berhak menuduh Yusri sebagai maling. Apakah Yusri salah? Jika dilihat dari sisi yang sempit, ia jelas salah karena telah mengambil hak anaknya. Tapi dari sisi yang lain bisa jadi Yusri tidak paham betul fungsi dari kartu tersebut. Karena pencairan KJP sudah menjadi hal yang “lumrah” bagi sebagian masyarakat Jakarta. Apakah dengan menuduhnya sebagai maling bisa membuat seluruh warga enggan mencairkan KJP? Tentu tidak.

Saya pribadi menganggap cara Ahok menerima keluhan publik dengan cara berdiri di depan pintu Balai Kota harus diubah. Harus ada ruang dan waktu khusus agar tercipta ketenangan dan kenyamanan dari kedua belah pihak. Karena Ahok bukanlah Ernest Hemingway yang mampu menyelesaikan problematika hidup dengan cara berdiri.

Upaya Ahok untuk memberangus praktek korupsi dengan membentak pejabat-pejabat kotor di DKI Jakarta memang harus diapresiasi. Tapi membentak seorang ibu di depan umum adalah kegagalan mutlak Ahok sebagai laki-laki. Andai ibunda Ahok dibentak oleh pejabat lain karena tidak memahami konteks pembicaraan, apakah Ahok akan diam saja? Tentu tidak. Mereka pasti akan dibentak, dipecat, disikat habis, atau malah dipenjarakan?

Sumber Gambar: Tempo

7 Replies to “Bentakan Ahok Tak Selamanya Wajar”

  1. “Saya sering marah-marah bukan karena saya senang marah dan tidak bisa ambil keputusan. Semua keputusan sudah ada, saya hanya marah karena orang yang tahu keputusan itu tidak peduli untuk melaksanakan,” – ahok

    Kasus pencairan KJP itu melanggar hukum, KJP emang ga bisa di tarik tunai. Sebelumnya bisa, tapi kebanyakan malah di pake bukan buat kebutuhan sekolah anak. Makanya KJP cuma bisa di gunakan di merchan yang menerima pembayaran via KJP. Jangan bilang merchannya dikit, banyak. Cek aja di mal-mal toko sepatu atau perlengkapan sekolah rata2 menerima pembayaran via KJP.

    Peraturan diubah karena ditemukan banyak fakta begini:
    http://m.kompasiana.com/danset0812/penyalahgunaan-kjp-untuk-beli-emas-kosmetik-dan-ke-karaoke_55c002efb292738f0f87c0fb

    Ibu-ibu rusun kan udah di kasih rusun dengan biaya murah, kok masih ngeluh transport sekolah, banyak dari kita masa kecilnya jalan kali jauh loh cuma untuk sekolah. Ini sih cuma cari alasan biar dapet tambahan uang bulanan.

    Like

    1. Halo Pak Wahyu! 😀 Memang tidak bisa dan benar KJP banyak yang disalahgunakan. Kan di tulisan tersebut gue juga bilang secara aturan Yusri telah melakukan kesalahan. Menurut gue ini masalah penyampaian dan kontrol kebijakannya itu sendiri. Soal rusun, gue nggak berani bilang kalau mereka cari alasan buat uang bulanan tambahan karena gue nggak pernah ngobrol sama mereka. Tapi sebagai pengguna transportasi umum, gue merasa berpergian jarak jauh jadi agak terbebani karena ongkosnya mahal. Tapi gue harus maklum karena sampai detik ini belum ada transportasi umum yang ramah. 🙂

      Like

      1. Nah, jar kan kita tau kalo ahok marah bukan tanpa alasan jelas. Ada yang gak beres disitu. Gaya keras Ahok bisa jadi merupakan tipikalnya sebagai orang Sumatera, atau bisa jadi Ahok udah faham kultur birokrasi yang bertele-tele yang harus segera diubah. Dengan latar pengusaha yang dituntut untuk efektif dan efisien dalam segala hal. Beda sama PNS yang gak dikejar target.

        Transportasi murah, diakui memang transportasi jadi salah satu dari tiga faktor mahalnya biaya hidup di jakarta selain biaya tempat tinggal dan pangan. Saat ini solusi yang dikasih masih dalam bentuk subsidi busway.
        Tapi kan ada KJP yang nominal perbulannya gede juga.
        Rp 2,5 juta per tahun untuk siswa SD, Rp 7,2 juta per tahun untuk siswa SMP, dan Rp 9,6 juta per tahun untuk siswa SMA. Itu bisa buat beli sepeda anak juga untuk sekolah.

        Lagian tujuan utamanya bukan buat bantuan terus,
        http://m.liputan6.com/news/read/2337464/ahok-bodoh-bila-pilih-saya-lagi-karena-berharap-bantuan-sembako

        Like

      2. Seperti yang gue jelaskan di atas, ketika sudah menjadi pejabat, seorang pemimpin nggak cuma harus paham permasalahan politis, tapi juga harus paham bagaimana berkomunikasi yang baik dan benar sesuai dengan lawan bicaranya. Tulisan itu memakai pendekatan: Bagaimana Ahok menerima keluhan dari seorang perempuan (dalam hal ini seorang ibu). Dulu Ali Sadikin juga kasar kok. Tapi itu selalu dia lakuin di belakang panggung. Di depan masyarakat dia selalu mengangkat derajat bawahannya meskipun dia salah. Dan menurut gue, orang salah ya harus diberi arahan supaya benar. Bukan justru diajak berantem. Justru yang melanggar harus diganjar. Sementara si Yusri ini gue rasa dia nggak paham-paham amat soal KJP karena di Jakarta hal-hal kayak gitu jadi “lumrah”. Mungkin lo nggak setuju Pak Wahyu. Ini soal persepsi aja sih. Hahaha.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s