The SIGIT, Setelah 5 Tahun Lamanya

The SIGIT adalah salah satu band yang sangat mempengaruhi hidup saya. Mereka bukan hanya sekedar idola masa remaja, tapi juga guru bermain gitar bagi anak-anak SMA yang ingin tampil di pentas seni sekolah.

Seminggu yang lalu, setelah 5 tahun lamanya, saya kembali menonton The SIGIT secara langsung. Tidak seperti dulu, saya bersama teman-teman satu band menonton di acara pensi, kini saya menonton sendirian di acara Bekasi Clothing Expo– atau yang biasa disingkat (((BEKCLOTH)))– di Summarecon Mal Bekasi (SMB). (Sebenarnya bersama teman-teman, tapi mereka pulang duluan).

Upaya mendatangkan The SIGIT ke sebuah pusat perbelanjaan adalah hal berani. Potensi kerusuhan akibat saling senggol sangatlah besar.

Tapi tak apalah, ini pertama kalinya saya menonton band idola di tempat yang dekat sekali dengan rumah. Kalaupun harus rusuh, ya saya cari tempat menonton yang lebih aman. Gampang, kan?
“Pertemuan” saya dan The SIGIT waktu itu benar-benar tidak terencana. Semua berawal dari postingan seorang kawan di Path yang memberi tahu kalau mereka akan manggung di Bekasi, di dekat rumah pula. Semacam panggilan alam. Hukumnya wajib. Tidak datang ke acara tersebut adalah dosa besar.

Materi lama yang dimainkan dalam acara tersebut hanya Soul Sister, Up and Down, Alright, Clove Doper dan Black Amplifier. Sisanya lagu-lagu baru dari album Detroun (2013) seperti Detroun, Conundrum, Black Summer, Let The Right One In dan Tired Eyes. Total ada 12 lagu yang dimainkan dengan durasi kurang dari 60 menit.

Dari segi personel, kali ini minus Acil sang penggebuk drum karena berhalangan hadir. Di instrumen gitar ada Absar Lebeh yang menjadi additional guitarist untuk mengisi beberapa lagu.

Sejauh ini hanya ada 2 musisi yang mampu membuat SMB penuh sesak: Sheila on 7 dan Raisa. Mungkin kehadiran The SIGIT waktu itu menjadi yang terbanyak ketiga sepanjang sejarah.
Suasana mendadak riuh dengan tepuk tangan saat Adit (bass) sudah tiba di belakang panggung. Di susul Absar dan Farri (gitar), kemudian Rekti yang mendadak nongol di atas panggung.

Ketika intro lagu Detroun muncul, suasana langsung pecah. Penonton yang berada persis di depan panggung langsung melakukan aksi liar. Bagi saya perilaku mereka sangat liar untuk ukuran acara di sebuah mal. Beberapa kali ada penonton yang naik ke atas panggung dan membuat petugas keamanan harus bekerja ekstra keras.

Setelah selesai menunaikan lagu ketiga (Up and Down), Rekti mengambil nafas dan memberi wejangan kepada mereka yang sudah terlalu anarkis. Wejangan tersebut disambut dengan teriakan “Kampungan! Kampungan! Kampungan!” dari penonton sayap kanan dan kiri. Setelahnya suasana lebih kondusif. Tidak ada lagi aksi saling pukul dan lempar-lemparan botol seperti saat lagu pertama baru dimulai.

Saat memainkan Clove Doper, Adit sudah membuka kemejanya. Kaus T yang dipakainya sebagai baju dalam sudah basah kuyub. Mungkin dia terbawa suasana. Dari sekian personel, Adit menjadi yang paling centil mondar-mandir ke sana kemari. Kontras dengan Farri yang hanya statis berdiri di satu tempat (tidak seliar Farri yang dulu).

Masuk lagu ketujuh, sebuah intro yang diawali dengan gebukan drum tempo lambat di mainkan oleh drummer pengganti. 5 tahun lalu intro tersebut dimainkan sebelum masuk ke lagu Did I Ask Your Opinion?. Tapi kali ini berbeda. Di penghujung intro Rekti menyanyikan lirik:

Hey are you blind?
Can’t you see what is mine?
Why would you drink for another wine?
Can’t you see my hearts is grind?

Ternyata lagu Tired Eyes. Bagi saya intro tersebut justru menghilangkan kesan megah dan sangar seperti yang disuguhkan di dalam album. Mungkin penonton juga sependapat dengan saya. Mereka terlihat lesu tidak seperti lagu-lagu sebelumnya. Seperti kehilangan gairah.

Di penghujung acara, tembang berjudul Provocateur yang dimainkan dengan efek gitar clean berhasil mengembalikan kekhusyukan penonton.

Don’t wanna sleep too tight
Don’t wanna give up all my fight
Hold on to the bright light
His might tonight 

Black amplifier
Black provocateur
Black amplifier
Black anglo fire

Beberapa penonton terlihat menyanyikan lirik tersebut sambil memejamkan mata. Ada pula yang mengacungkan kedua jari telunjukknya ke atas langit, seperti sedang memanjatkan ayat-ayat suci untuk memuja sang pencipta.

Suasana kembali pecah ketika Farri memainkan intro salah satu lagu favorit saya: Black Amplifier! Para penonton, termasuk saya, harus menyanyikan, atau lebih tepatnya meneriakkan lagu ini. Karena seperti yang sudah-sudah, Black Amplifier selalu ditempatkan di penghujung acara.

Hari itu penonton merayakan Jumat malamnya dengan sempurna. Bagi saya ini bukan hanya sekedar perayaan Jumat malam, tapi juga acara temu kangen setelah 5 tahun lamanya tak berjumpa.

Tanggal 15 November 2015 Acil selaku drummer merespon tulisan saya via Facebook. Berikut ini adalah respon Acil sekaligus penjelasan mengapa dia absen di acara tersebut:

964056546

Sumber Foto: thesigit.com

2 Replies to “The SIGIT, Setelah 5 Tahun Lamanya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s