Jumat yang Panas

Khotib (penceramah) sudah naik ke mimbar ketika saya baru sampai. Saya kenal betul orang itu. Beliau adalah tokoh masyarakat yang terkenal selalu marah-marah ketika berkhotbah, dan sering menangis saat membaca surah saat solat.

Beliau memulai khotbahnya dengan menjabarkan ciri-ciri orang yang munafik. Dulu waktu masih mengaji di TPA guru saya sering mengulang materi ini. “Ada tiga ciri orang yang munafik. Pertama, jika berkata ia berdusta. Kedua, jika berjanji ia ingkar. Dan ketiga, jika dipercaya ia berkhianat,” jelas khotib, persis seperti apa kata guru-guru ngaji saya terdahulu.

Khotib menambahkan kalau orang munafik tidak disukai Allah.

“Mereka juga termasuk golongan orang yang bodoh!” seru khotib.

Volume suaranya makin tak terkendali saat membicarakan hubungan antara orang muslim dan non-muslim. Beliau bilang jika ada di antara kami umat muslim yang bersahabat dengan non-muslim, maka harus dipertanyakan tingkat keimanannya. Karena, menurutnya, umat muslim harus melawan segala bentuk kekafiran.

Jujur, saya risih. Beliau bilang orang munafik tidak disukai Allah, sementara saya dan seluruh jema’ah diminta untuk menjauhi non-muslim. Apakah ini relevan jika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari? Jelas tidak.

Saya punya banyak saudara bergama katolik karena dulu sebelum menjadi mualaf kakek saya seorang katolik. Teman-teman saya juga banyak sekali yang non-muslim. Masak saya harus memusuhi mereka? Lalu bagaimana kalau suatu waktu saya punya masalah dan membutuhkan bantuan mereka? Masak harus berhenti musuhan dulu lalu lanjut musuhan lagi jika masalahnya sudah selesai?

Khotbah Jumat tersebut mengingatkan saya pada cerpen Pengantar Tidur Panjang karya Eka Kurniawan (dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi). Tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut memiliki seorang Bapak yang sangat taat beragama. Suatu hari si Bapak mengajak “Aku” pergi ke pengajian. Dalam pengajian ada penceramah yang selalu menyebut kalimat “saudara-saudara kita di Afganistan”. Si penceramah mengajak peserta pengajian untuk saling membantu sesama umat muslim, termasuk “saudara-saudara kita di Afganistan”. Sepulangnya dari pengajian, “Aku” meminta izin kepada Bapak untuk pergi membantu “saudara-saudara kita di Afganistan” seperti apa yang dikatakan penceramah. Bukannya mengizinkan, si Bapak malah diam. Sejak itu ia tidak pernah lagi mengajak “Aku” pergi ke pengajian.

Karakter Bapak dalam cerpen tersebut menjadi anti-tesa dari kebanyakan orang yang “taat beragama”. Umumnya, menurut apa yang saya pahami, tidak sedikit orang yang sangat relijus tapi justru terlihat angkuh, marah dan tertutup terhadap hal-hal yang dirasa berbeda. Ini tidak hanya berlaku untuk orang muslim, tapi juga umat beragama lainnya.

Di awal tulisan saya mengutip pernyataan khotib yang mengatakan bahwa orang munafik termasuk golongan orang yang bodoh. Kalau saya menuruti permintaan khotib untuk memusuhi saudara dan teman-teman non-muslim, bukankah berarti saya termasuk orang munafik? Saat dalam kondisi sulit saya bersikap baik kepada mereka, tapi saat sedang tidak ada masalah saya menganggap mereka sebagai musuh. Sudah munafik, terlihat bodoh, tidak disukai Tuhan pula. Kurang hina apa saya sebagai manusia?

Yawla yarob~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s