November Rain

“Mendadak relijius”

Semalam hujan turun. Lama sekali. Mungkin ini yang pertama kalinya sejak bulan Ramadhan lalu.

Kata orang hujan bisa merangsang manusia untuk merenung. Di dalam gelap, saya berbaring di tempat tidur dan merenungi berbagai macam hal yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Saya teringat insiden di hari Jumat pertengahan Mei lalu. Saya hendak pergi ke kampus untuk sidang proposal skripsi. Sesampainya di mesjid dekat Deplu, sendal yang saya pakai putus. Dua-duanya, kanan dan kiri.

Saya bertanya kepada tukang ketoprak yang kebetulan ada di sana, ke mana saya harus mencari sendal. Dia bilang saya harus ke Ratu Plaza. Waduh jauh banget, kata saya. Akhirnya saya memakai sepatu pantofel di sana dan memasukkan sendal ke dalam tas.

Awalnya saya memakai sendal karena Bapak yang meminta. Bapak takut sepatu saya hilang dan tidak bisa mengikuti sidang. Terkadang saya tidak mau mengabaikan nasehat orang tua. Saya tidak mau kualat untuk kesekian kalinya karena mengabaikan nasehat mereka. Toh waktu itu hari yang sangat penting, saya tidak mau sepatu yang baru saja dibeli beberapa hari sebelumnya hilang di mesjid. Maka dari itu saya menurut. Tapi nasib buruk, sedalnya malah putus.

Setelah ibadah Jum’at, saya masih harus menunggu satu setengah jam karena sidang baru dimulai jam 3 sore. Maklum, rumah saya di Bekasi. Tol dalam kota sewaktu-waktu bisa serupa neraka. Daripada telat terjebak macet, lebih baik kepagian.

Dua jam kemudian saya sidang. Awalnya nyaris ditinggal pergi karena, menurut kedua dosen penguji, saya datang terlambat. Padahal saya datang 15 menit sebelum sidang.

Saat sidang saya dicecar banyak pertanyaan. Dari mulai teori, sampai alasan kenapa saya mengangkat lagu band indie ke dalam skripsi. Keduanya tidak setuju kalau saya meneliti lagu band indie. “Band indie nggak punya kekuatan,” katanya.

Pikiran saya sudah amburadul, sudah kehabisan kata-kata untuk berdebat. Saya gagal untuk meyakinkan keduanya. Mereka bilang bersedia membimbing kalau ganti judul.

Proposal dengan judul baru selesai dalam tempo 2 hari. Saya memilih Slank sebagai objek penelitian. Senin pagi, saya berangkat ke kampus untuk bertemu salah satu dosen penguji. “Baca Al-Fatehah dan Ayat Kursi, Jar” kata Ibu. Sebelum masuk ke kampus saya membaca kedua ayat suci tersebut. Dan magis! Proposal saya diterima!

Membaca kedua ayat tersebut menjadi keharusan bagi saya sampai detik ini. Waktu itu Bimbim Slank sulit sekali ditemui. Maklum, Bimbim adalah rockstar ternama di Indonesia. Saya berdoa semoga Bimbim mau meluangkan waktunya untuk diwawancara. Puji syukur, Tuhan mau mengabulkannya. Saya mendapat jadwal wawancara dua minggu sebelum batas tenggat pengumpulan skripsi.

Beberapa kali saya juga sempat kesulitan menemui dosen pembimbing. Saya berdoa semoga diberikan kelancaran, dan Tuhan mengabulkannya lagi.

Di akhir masa pembuatan skripsi, saya hampir ditolak oleh dosen pembimbing yang lain karena dianggap sudah terlalu lama tidak bimbingan dengan beliau. Saya berdoa semoga diberikan kelancaran, Tuhan mengabulkan. Beliau mau membimbing dan menandatangani lembar persetujuan skripsi saya.

Pada masa sidang saya sempat was-was akan mendapat dosen penguji yang killer. Saat hendak masuk ruang sidang, saya berdoa semoga diberikan kelancaran, dan… lagi-lagi Tuhan mengabulkan. Saya diuji oleh Pak Dekan dan ibu dosen yang pernah mengajari saya mata kuliah Komunikasi Internasional. Sidang berjalan dengan lancar, skripsi saya mendapatkan nilai A.

Tapi belakangan saya baru sadar kalau sebenarnya yang akan menguji waktu itu adalah dosen yang dikenal sering tidak meluluskan mahasiswa. Nama dosen tersebut terpampang jelas di surat rekomendasi kelulusan saya. Tapi Tuhan selalu punya cara hebat untuk memberikan kejutan. Nama dosen killer tersebut dicoret, lalu diganti dengan nama ibu dosen mata kuliah Komunikasi Internasional.

Sekarang saya sudah lulus. Sudah menjadi sarjana. Langkah selanjutnya adalah mencari pekerjaan. “Ini bagian tersulit,” kata Bapak.

Saya mengirim CV dan surat lamaran ke berbagai tempat. Beberapa di antaranya ke perusahaan besar. Saya berdoa semoga dalam beberapa hari ke depan ada perusahaan yang merespon balik. Dan… kembali… Tuhan mengabulkan doa saya. Beberapa kali saya dipanggil untuk melakukan tes. Tapi untuk kali ini Tuhan mengabulkannya dengan menyisipkan ujian.

Mungkin Tuhan tidak mau terlalu memanjakan saya. Atau mungkin Tuhan ingin mengabulkan doa saya dengan cara yang berbeda.

Saya jadi teringat Chris Gardner dalam film The Pursuit of Happyness. Chris, yang diperankan oleh Will Smith, adalah seorang salesman yang sukses menjadi pialang saham. Sebelum menjadi manusia yang bahagia, Chris mendapatkan banyak ujian berat. Dari mulai ditinggal istri, terlilit hutang, kehilangan tempat tinggal, hingga masuk penjara.

Belajar dari Chris, mungkin hidup juga termasuk soal bagaimana kita menyikapi hal-hal gila.

Untuk mencapai tahap “Happyness” Chris rela tidur di toilet umum bersama anaknya, Christopher (yang diperankan oleh Jaden Smith). Tapi saya tak mungkin menjadi Chris yang rela tidur di sembarang tempat, dan menelantarkan hal-hal penting demi keinginannya menjadi pialang saham. Karena setiap orang punya cara bahagia yang berbeda.

Chris adalah orang yang rumit. Sementara saya bukan. Kalaupun orang menganggap saya sebagai orang yang rumit, paling tidak saya tidak akan berpikir seperti Chris. Bagi saya memikirkan sesuatu dengan cara yang rumit hanya akan membuang waktu untuk berpikir tenang.

Di akhir renungan, saya tersadar kalau November Rain milik Gun N’ Roses terputar di ponsel saya.

“Everybody needs some time… on their own. Don’t you know you need some time… all alone,” kata Axl Rose. Seperti sedang menasehati.

Mungkin saya hanya butuh waktu untuk menyendiri sebentar.

Oh, iya. Gara-gara ini saya jadi lebib relijius. Subhannallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s