Yang Diludahi Adalah Istrinya Sendiri

Tepatnya siang hari di halte bus Panin Bank, Senayan. Saya sedang menunggu bus Blok M-Bekasi untuk pulang ke rumah. Suasana cukup ramai. Mungkin karena jam makan siang.

Dari halte saya melihat sepasang suami istri. Jaraknya hanya 20 -an meter dari tempat saya duduk. Mereka berdua sudah tua, sekitar 60 tahunan lah. Si suami memegang dadanya saat berjalan, wajahnya meringis menahan sakit.

“Aku bisa jalan sendiri!” kata si suami sambil menyingkirkan tangan si istri yang membantunya berjalan.

Si istri bilang, dia takut suaminya terjatuh karena tidak bisa berdiri terlalu lama. Adegan ini terus terjadi berulang-ulang: si suami nyaris jatuh, tapi langsung ditahan oleh si istri. Lalu si suami menolak untuk dibantu. “Jangan pegang-pegang!” katanya.

Seorang perempuan menghampiri dan bertanya, mereka berdua mau ke mana. Belum sempat si istri menjawab, si suami malah membentak: “Jangan sekali-kali mengasihani saya!”

Tak ada yang bisa diperbuat oleh si perempuan itu. Dia langsung pergi. Mungkin dia kesal karena niat baiknya justru disalahartikan. Orang-orang yang menonton sepasang tua bangka itu pun langsung angkat kaki. Mungkin mereka takut dimarahi, takut niat baiknya disalahartikan, atau justru hilang simpati seperti apa yang saya rasakan.

Bus yang saya tunggu sudah datang. Saya masuk ke dalam bus, dan memilih bangku di sebelah kiri. Saat baru mendarat di tempat duduk, dari balik kaca bus saya melihat si suami menempeleng istrinya. Mulutnya komat-kamit. Mungkin si istri dibentak lagi. Di tengah bentakannya, si suami batuk-batuk. Badannya terguncang setiap kali batuk.

Tangan si istri mengelus-elus punggung suaminya. Dia menawarkan sebotol air putih, suaminya menolak. Botol minumnya malah dilempar ke arah bus yang saya naiki, yang kebetulan belum juga berangkat.

Saya benar-benar heran, kenapa dia sampai seperti itu? Lagi sakit, susah jalan, tapi tidak mau ditolong. Malah membentak istrinya. Gara-gara ulah si suami, keduanya kembali menjadi bahan tontonan. Ramai sekali. Seperti sekumpulan orang yang menonton korban kecelakaan di pinggir jalan.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki berinisiatif mengajak si suami duduk di halte. Untuk yang satu ini si suami menurut. Mereka berdua duduk. Dengan sopan laki-laki itu mencoba berbicara dengan si suami. Nasib buruk, laki-laki itu malah dimarahi.

Si suami terbatuk-batuk lagi. Berkali-kali ia meludah untuk membuang riak. Si istri tetap menangis, dan saya melihatnya berlutut seperti sedang memohon sesuatu. Mungkin risih dengan kelakuan istrinya, si suaminya malah meludahi istrinya.

Saya nggak tahu masalah apa yang membuat mereka seperti itu. Kadang saat sedang sakit seseorang bisa berubah total. Emosinya tidak terkontrol, dan cenderung menyusahkan. Tapi mau bagaimana lagi, saya mesti pulang untuk mengurusi hal-hal lain yang lebih penting. Toh saya yakin ini bukan pertama kalinya si istri diperlakukan seperti itu.

Akhirnya bus berjalan, membawa saya pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s