Surat Cinta Untuk Gigi Hadid

Halo mb Gigi? Apa kabar? Semoga mb sekeluarga selalu diberikan nikmat sehat oleh Tuhan, ya.

Sebelumnya, saya nggak pernah bikin surat cinta. Jadi kalau sistematikanya kurang pas, mohon dimaklumi.

Di Hamba Sarjana #LoveEdition ini sebenarnya saya bingung ingin menulis tentang apa dan untuk siapa. Tapi saya harus tetap tanggung jawab karena edisi ini saya yang mengusulkan. Terlebih saya ini tidak sedang jatuh cinta, karena yang ada dipikiran saya saat ini cuma: saya harus kerja di mana setelah lulus kuliah? Saya hanya ingin membantu orang tua agar mereka tidak terbebani lagi. Saya ingin punya rumah sendiri, hidup mandiri. Seperti mb Gigi yang saat ini sudah hidup mandiri—bisa membiayai hidupnya dari modeling, di usia yang masih sangat muda pula (kebetulan mb Gigi 3 tahun lebih muda dari saya).

Akhir-akhir ini saya cukup mengikuti perkembangan berita mb Gigi lho. Ada satu hal yang membuat saya terkesima ketika mb Gigi curhat di Instagram karena dikritik keras oleh banyak orang. Mb Gigi curhat karena dianggap memiliki kriteria tubuh yang tidak layak untuk menjadi seorang model.

“Yes, I have boobs, I have abs, I have a butt, I have thighs, but I’m not asking for special treatment. I’m fitting into the sample sizes. Your mean comments don’t make me want to change my body,” kata mb Gigi beberapa waktu lalu.

Banyak orang yang bilang mb Gigi itu terlalu gendut dan mengandalkan popularitas Sang Mama, Yolanda Foster— yang merupakan salah satu bintang dari reality show Real Housewives of Beverly Hills. Tapi percayalah mb Gigi, nggak semua orang beranggapan seperti itu. Saya percaya mb Gigi bekerja keras di dunia modeling. Ini seperti orang yang mau masuk kerja tapi lewat orang dalem. Kalau pun kita sudah berhasil diterima, tetap saja pekerjaan kita adalah tanggung jawab masing-masing. Kalau sudah masuk tapi nggak bisa bekerja dengan baik, berarti orang-orang macam ini nggak kompeten.

Saya nggak melihat itu di dalam diri mb Gigi. Mb Gigi sangat kompeten di bidangnya. Mungkin saya nggak ngerti soal modeling– entah itu cara berjalan dan lain sebagainya. Tapi yang namanya model itu bagi saya harus enak dipandang.

 

Ini soal selera, sih. Banyak teman saya yang menganggap mb Gigi itu jelek. Mukanya melas. Resting b(itch) face banget deh pokoknya. Tapi saya ini tipe laki-laki yang selalu berusaha melihat seseorang dari sisi yang lain. Di mata saya mb Gigi itu cantik. Wajahnya unik, wajah kelonan gitulah pokoknya. Kebetulan saya suka kelonan mb. Sudah lama saya tidak kelonan. Memandang wajah mb Gigi membuat saya rindu akan (((MASA-MASA ITU))).

Selain cantik, mb Gigi adalah wanita enerjik. Dari sini saya semakin yakin kalo mb Gigi adalah seorang pekerja keras. Karena pekerjaan mb Gigi itu berat, harus terbang ke sana kemari, dari satu negara ke negara lain. Butuh fisik yang kuat untuk menjalaninya.

Belakangan saya baru tahu kalau mb Gigi suka sekali olahraga tinju. Ini bagus mb. Tidak hanya bagus untuk kesehatan, tapi juga untuk jaga-jaga diri jika ada paparazzi yang nakal. Dan buktikan kepada dunia kalau wanita juga bisa berdikari, nggak cengeng seperti mereka yang suka nge-like akun semacam Sad Story di LINE Messenger.

Sumber: http://www.nydailynews.com

Oiya, saya juga baru tahu ternyata sebelum masuk ke dunia modeling mb Gigi adalah penunggang kuda yang handal. Bahkan juga sempat menjuari sebuah kompetisi menunggang kuda.

Melihat foto mb Gigi menunggang kuda, saya jadi teringat Bang Haji Rhoma Irama—seorang kesatria begitar yang sangat digemari banyak kalangan hingga detik ini.

Di salah satu lagunya, Bang Haji bilang “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya”. Mungkin ini bisa diaplikasikan oleh mb Gigi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya agar mb Gigi sehat selalu, tapi juga agar muka mb Gigi tidak terlihat ngantuk, atau lebih tepatnya mirip orang beler gitu lho.

Nggak cuma Bang Haji, saya juga jadi teringat Pak Prabowo Subianto. Capres yang kalah waktu pemilu 2014 lalu. Beliau pandai betul mengurus kuda. Tapi sayang, rentetan jejak pelanggaran HAM yang melekat dalam diri beliau membuat saya enggan memilihnya waktu pemilu lalu.

Tapi setelah dipikir-pikir, Pak Jokowi (capres yang menang waktu itu) nyatanya nggak serius dalam mengungkap kasus pelanggaran HAM masa lalu. Lha wong ada kakek tua berumur 77 tahun yang hendak mendokumentasikan makam bapaknya di Pesisir Selatan, Sumatera Barat– yang menjadi korban pembunuhan massal saat operasi pembersihan PKI– malah dicekal kok. Malah dianggap membahayakan negara dan bla bla bla.

Kok jadi ngomongin politik, ya? Maaf mb, kadang saya kalo lagi bete suka ngelantur.

Dan… ya…. saya bingung harus menulis apa lagi. Ini surat cinta. Tapi saya sama sekali nggak mengatakan hal-hal romantis di sini. Saya memang nggak ahli dalam merangkai kata-kata romantis. Karena bagi saya cinta itu sebuah tindakan, bukan kata-kata ataupun simbol. Apalah artinya kata-kata romantis kalau tidak bisa dibuktikan dengan ketulusan?

Cih.

Mungkin sudah saatnya saya mengakhiri surat cinta yang nggak pantes dianggap surat cinta ini. Saya hanya bisa mendoakan yang baik-baik untuk mb Gigi.

Akhir kata dari saya, jangan lupa bahagia ya, mb Gigi.

Salam,
Fajar dari Bekasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s