Jokowi Tidak Perlu Dibela

Jangan pernah nolak kalau kawan Anda menganggap pemerintahan Jokowi-JK sangat memble. Berbagai macam permasalahan muncul silih berganti. Dari mulai kriminalisasi KPK sampai asap di Sumatera-Kalimantan.

Masih ingat bagaimana Wakil Ketua KPK (non-aktif) Bambang Widjojanto “diculik” oleh pihak kepolisian? Bambang ditangkap 10 hari setelah Komjen Budi Gunawan dijadikan tersangka kasus rekening gendut oleh KPK 13 Januari 2015 lalu. Penetapan tersangka ini tiba-tiba mencuat setelah Jokowi mennyodorkan nama Budi Gunawan sebagai Calon Kapolri selanjutnya. Tidak hanya Bambang Widjojanto, sederet nama pimpinan dan penyidik KPK dijadikan tersangka untuk berbagai macam kasus setelahnya.

Tapi bagaimana tanggapan Jokowi soal kriminalisasi tersebut? Sangat normatif dan retorik. “Semua orang harus dewasa melihat itu sebagai proses hukum dan Presiden tidak boleh intervensi,” kata Jokowi (CNN). Beberapa bulan setelah pernyataan presiden, Budi Gunawan menjabat sebagai Wakapolri dengan prosesi pelantikan tertutup (Kompas).

Penegakkan hukum Indonesia dilecehkan. Tak bertaji. Bobrok. Hancur berantakan.

Di bidang ekonomi, rupiah semakin melemah. PHK di mana-mana. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh pengaruh ekonomi global, tapi juga karena perselisihan orang-orang di dalam pemerintahan. Dari mulai perselisihan menteri dengan Jusuf Kalla selaku wakil presiden, sampai perbedaan pendapat antara Jokowi dengan Jusuf Kalla. Banyaknya perselisihan membuat investor kehilangan kepercayaan untuk berinvestasi di Indonesia.

Rupiah belum sempat menguat, asap malah menebal di Sumatera dan Kalimantan Barat. Penanganannya sangat lamban. Dampaknya? Penderita infeksi saluran pernafasan sudah mencapai 25,6 juta orang. Tak hanya mengganggu saluran pernapasan warga Sumatera dan Kalimantan, tapi juga negara-negara tetangga. Bikin malu.

Beruntung masih ada nama-nama seperti Susi Pudjiastuti (Mentri Kelautan dan Perikanan), Lukman Hakim Saifudin (Menteri Agama), dan Anies Baswedan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) yang sejauh ini bekerja dengan baik.

Saya sendiri adalah pendukung Jokowi. Waktu pemilu saya memilih Jokowi-JK karena tidak mau ada “alumni” Orde Baru yang memiliki rekam jejak pelanggaran HAM berat menjadi presiden. Untungnya waktu itu saya menang dan kawan-kawan lainnya berhasil menghadang figur yang memiliki rekam jejak pelanggaran HAM berat untuk menjadi RI 1.

Diledekin? Sering. Ini konsekuensinya.

Belakangan saya mulai tidak percaya kalau Jokowi mau menepati janjinya untuk menuntaskan kasus HAM berat di masa lalu. Lha wong orang bermasalah saja bisa jadi Wakapolri kok.

Saya tidak mau menjadi orang bodoh dengan membela Jokowi mati-matian meskipun sudah terbukti kinerjanya buruk—seperti para selebtweet yang mendadak politik itu lho. Kalau bagus, ya diapresiasi. Kalau salah, ya salah. Harus dikritisi. Bukan dibela mati-matian.

Jika Anda pendukung Jokowi-JK, berhentilah membelanya di saat mereka sudah benar-benar melakukan hal yang salah. Membela mereka mati-matian hanya akan membuat Anda terlihat bodoh. Bodoh seperti mereka yang menganggap Prabowo lebih pantas menjadi presiden.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s