Sebuah Mata Kuliah Pengantar dari Leigh Anne

Hidup di kota besar terkadang membuat orang-orang lebih mengandalkan ego daripada akal sehat. Hati nurani digadaikan demi ambisi individual. Semuanya berlomba-lomba untuk mencapai tujuannya tanpa melihat kanan-kiri. Sebagai contoh, banyak pesepeda motor yang dengan seenak udelnya melintasi trotoar, atau berhenti di atas zebra cross yang jelas-jelas untuk pejalan kaki.

Kota besar seperti Jakarta yang dulunya menjadi titik temu berbagai macam kebudayaan justru berubah menjadi hutan rimba. Mungkin istilah “hutan rimba” terlalu kotor untuk menggambarkan tempat tinggal manusia. Tapi Jakarta bukanlah tempat yang manusiawi lagi. Setiap individu saling sikut satu sama lain agar diakui kedudukannya.

Mengapa setiap individu ingin diakui kedudukannya? Secara alamiah manusia memiliki ego untuk diakui oleh lingkungannya. Kadang ada beberapa orang yang ingin diakui sebagai yang terbaik dari yang terbaik dengan cara yang kurang lazim, seperti mengacuhkan lingkungan sekitarnya

Hal seperti ini yang tidak terlihat dalam diri Leigh Anne Tuohy (yang diperankan oleh Sandara Bullock) dalam film The Blind Side. Lupakan sejenak soal ketidaksukaan Michael Oher terhadap film yang menceritakan kisah hidupnya– karena telah merugikan karirnya di National Football League (NFL). Ini soal bagaimana seorang kulit putih yang mapan mau menerima gelandangan kulit hitam di dalam rumahnya– yang secara politis memiliki “kedudukan tersendiri” bagi sebagian kulit putih di Amerika.

Anne adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup Michael Oher. Pergaulan a la tante-tante sosialita tak lantas membuatnya menjadi egois dan kebanyakan gengsi. (Terlalu memukul rata sih, tapi pasti ada yang seperti itu, kan?). Ia sempat ditentang oleh teman-teman sepergosipannya karena telah merawat Michael. Tapi ia tetap kukuh dengan pendiriannya.

“I don’t need you all to approve my choices, but I do ask you to respect them,” kata Anne kepada kawan-kawannya.

Anne juga memberikan Michael fasilitas belajar privat. Ini ia lakukan agar Michael mampu menembus beasiswa di University of Mississippi– tempat di mana Anne pernah mengeyam pendidikan. Tak hanya itu, ia juga orang yang paling mendukung Michael untuk menjadi pemain American Football profesional.

Anne pantas dianggap sebagai seorang alturistik– mau mengakui keberadaan orang-orang yang hidupnya sulit, dan peduli terhadap keberlangsungan hidup seseorang tanpa memikirkan dirinya sendiri. Orang yang seperti ini menggunakan egonya di jalan yang benar; selalu memiliki keinginan untuk membantu tanpa pamrih, dan menjadi individu yang berguna untuk orang-orang di sekitarnya.

Sifat semacam inilah yang jarang terlihat, khususnya di Jakarta. Semua orang sibuk dengan dunianya sendiri untuk mendapatkan pengakuan atas apa yang mereka kerjakan. Tidak peduli apa itu fungsi trotoar dan zebra cross, asal mendapatkan apa yang mereka mau, semuanya dianggap wajar.

Di kalangan kelas menengah, ada banyak pula orang yang berpendidikan tinggi tapi bersikap arogan. Sebagai contoh, saat ada demo buruh. Mereka kerap berkata: “Mau gaji besar tapi nggak mau usaha” atau “Pendidikan nggak seberapa tapi gaji mau setara S1”. Atau saat ada sebuah kasus yang terjadi di Papua, umumnya mereka berkata: “Mereka begitu karena dari dulu terbiasa tinggal di hutan. Guru mana yang mau mengajar orang-orang yang sifatnya liar seperti itu?”

Tuhan memang adil. Ia memberikan sifat pintar dan bodoh kepada manusia secara bersamaan. Sisi terbodoh manusia akan terlihat saat mereka menyamaratakan pola pikirnya dengan orang-orang yang jelas dari segi pendidikan jauh lebih rendah. 

Apalagi sampai membawa sentimen rasial ke dalamnya. Bagi saya, menjadikan keadaan ekonomi dan ras sebagai alasan mutlak kenapa seseorang bertingkah bodoh adalah perbuatan paling sinting.

Tahukah kamu jika dari 4.788 desa di Papua hanya 14 desa saja yang siap mengelola dana pembangunan? Ini karena banyak aparat desa yang masih buta huruf. Mereka tidak mendapat akses pendidikan yang layak. Tapi apa yang terjadi saat ini justru kebalikan. Pendidikan yang seharusnya bisa meluruskan pola pikir manusia ke arah yang benar, justru membelokkannya menjadi manusia-manusia angkuh– yang tidak mengakui keberadaan mereka yang tak berpendidikan. Padahal yang terdidik seharusnya menjadi pendidik.

Jika Anne adalah sebuah mata kuliah, ia adalah mata kuliah dengan bobot SKS tertinggi. Barang siapa yang berhasil lulus, maka akan menjadi golongan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak membutuhkan pengakuan atas status yang disandangnya dan lebih memilih untuk mengakui keberadaan seseorang atau suatu golongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s