Menyegarkan Ingatan Bersama Inertia

Setelah dua tahun sebelumnya merilis album kedua (Inertia) dalam bentuk CD, tahun ini Monkey to Millionaire kembali merilis ulang album tersebut dalam bentuk kaset pita. Bersama Pitahitam Records, band asal Jakarta ini hanya merilis 200 kaset.

Sekedar untuk menyegarkan ingatan, album ini berbeda dengan album pertama yang berjudul Lantai Merah. Jika di album pertama mereka cenderung bermain “lembut”, di album kedua ini mereka bermain dengan distorsi urak-urakan dan efek bass yang liar.

Grunge a la Nirvana dalam album ini terasa sangat kental pada nomor Humiliation, Parade dan MAN. Lagu-lagu tersebut mengingatkan saya pada lagu Breed milik mendiang Kurt Cobain dan kawan-kawan.

573d3-fajar-yulianto-monkey-to-millionaire-inertia

Di antara 10 lagu yang ada, MAN lumayan menarik perhatian saya. Dibuka dengan permainan gitar yang kasar dari Wisnu, lalu disambung dengan detuman drum yang membakar emosi dari Emir Kharsadi. Intro semacam ini mampu mengompori semangat penonton untuk melompat ke sana kemari dalam acara live. Di pertengahan lagu, Aghan tampil sebagai pengatur tempo dengan memainkan bass a la Chris Wolstenholme (Muse). Emir yang saat itu masih menjadi bagian dari band menyeimbangkannya dengan hentakan drum yang kuat. Mungkin ini adalah representasi kekesalan Wisnu dalam menulis lirik yang menceritakan pengalamannya bertemu dengan orang-orang bermuka dua.

“Selalu senyum dan janji-janji manis di depan, tapi menusuk di belakang,” kata Wisnu dalam situs resminya. Di album pertama, Wisnu dan Aghan menyuguhkan sisi manisnya dalam bermusik. Meski tidak 100%, sisa-sisa rasa manis itu terasa dalam lagu Summer Rain, Anoreksi dan Senja Membunuh. Mereka terbilang sukses untuk menyampaikan keresahan hati lewat lagu yang easy-listening.

Sebenarnya album ini berisi 10 lagu, tapi kaset yang saya punya berisi 12 lagu. Agak kaget saat tiba-tiba Humiliation muncul di akhir side A.

Meski begitu langkah Monkey to Millionaire merilis ulang album kedua ini sangat baik untuk keberlangsungan hidup mereka di belantika musik indie Indonesia. Karena akhir-akhir ini banyak sekali band indie baru yang menawarkan musik rock alternatif yang menyegarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s