11 Tahun Munir

Tulisan ini juga dipublikasikan di Beritasatu

Bebasnya Pollycarpus Budihari pada hari Jum’at, 28 Desember 2014 lalu memperjelas betapa bobroknya penegakan hukum di Indonesia. Pollycarpus, seorang pilot maskapai Garuda Indonesia yang menjadi eksekutor pembunuhan aktivis HAM Munir, dibebaskan bersyarat oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) setelah mendekam dipenjara selama 8 tahun. Masa tahanan berkurang akibat pemerintah memberi remisi yang berlimpah. Padahal sebelumnya ia divonis 14 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

Mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bersabda kalau kasus Munir adalah test of our history. Tapi dalam 10 tahun masa jabatannya, laporan Tim Pencari Fakta tak kunjung dibuka ke publik. Tak ada secuil pun keberanian dari pemerintahan SBY untuk menuntaskannya. Mantan presiden yang pintar bernyanyi ini gagal menjalani tes yang ia buat sendiri.

Pada tanggal 7 September 2004 Munir diracun arsenik saat hendak berangkat menuju Utrech, Belanda, untuk meneruskan studinya di bidang hukum. Bukti keterlibatan Badan Intelejen Negara (BIN) dalam kasus ini cukup kuat. Kolonel Budi Santoso menyatakan bahwa setelah menjalankan tugasnya, Pollycarpus melaporkan hasil kerjanya kepadanya dan atasannya Muchdi Prawiro Pranjono (Muchdi Pr)—yang waktu itu menjabat Deputi Penggalangan BIN.

Mantan kepala BIN, AM Hendropriyono justru tak mengakui jika BIN ada di balik pembunuhan Munir. “Saya tidak mengerti orang seperti Munir dijadikan target nasional. Saya bukan intel kemarin sore, yang beginian bukan ancaman,” jelas Hendropriyono yang dikutip Majalah Tempo Edisi 10 Tahun Munir, Desember 2014.

Hendropriyono menjadi daftar hitam dalam kasus HAM di Indonesia. Ia kerap kali disangkutpautkan ke dalam beberapa kasus pelanggaram HAM berat. Salah satunya adalah Peristiwa Talangsari. Peristiwa ini merupakan cermin ketidakmauan pemerintah Orde Baru (Orba) untuk memerdekakan rakyatnya dalam memeluk kepercayaan. Penyerbuan dilakukan terhadap kelompok Warsidi, di dusun Talangsari III, Kecamatan Way Jepara, Kabutapen Lampung Timur (sebelumnya masuk Kabupaten Lampung Tengah), 7 Februari 1989. Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menyebutkan ada 200 korban jiwa dalam pembantaian tersebut (Republika).

Jurnalis Amerika Serikat, Allan Nairn awal tahun lalu merilis hasil wawancaranya dengan Hendropriyono. Ia justru mengaku tidak ada pembantaian dalam peristiwa tersebut, melainkan peristiwa bunuh diri.

Selain Hendropriyono, ada nama Muchdi Pr. Peran Muchdi dalam kasus Munir dipertegas lewat pengakuan Budi Santoso yang merupakan bawahannya. Banyak spekulasi beredar bahwa ada motif sakit hati dari Muchdi karena Munir sangat vokal dalam membela aktivis yang di culik Tim Mawar 1997-1998 lalu. Namanya dan Prabowo Subianto terseret dalam kasus ini (Tempo).“Terungkapnya” kasus penculikan paksa ini membuat Muchdi dicopot dari jabatannya sebagai Danjen Kopassus.

Jauh sebelum heboh penculikan aktivis, Munir adalah pembela hak buruh. Ia menjadi kuasa hukum kasus Marsinah, seorang buruh PT Catur Putera Surya yang hilang karena ikut aksi memperjuangkan kesejahteraan buruh. Ia ditemukan tak bernyawa di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk pada 9 Mei 1993 (Kompas). Di sini Munir juga membentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (Kasum).

Munir adalah satu dari sekian banyak kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia yang belum terungkap. Otak pembunuhan Munir masih berkeliaran. Bahkan ada pula yang sempat menjadi penasihat Tim Transisi Jokowi-JK saat pemilu 2014 lalu.

Jokowi harus berani membuka pengadilan hak asasi manusia untuk menuntaskannya. Lagipula dalam visi-misinya yang berjudul “Revolusi Mental” ia telah berjanji akan menuntaskan kasus-kasus HAM berat yang pernah terjadi di masa lampau.

11 tahun adalah waktu yang amat lama untuk sebuah keadilan. Semoga Jokowi tidak terlalu asik “kerja” dan tetap ingat kalau ada barisan menolak lupa yang akan terus memperjuangkan semangat Munir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s