Skripsian di Potlot

Semuanya dimulai ketika proposal penelitian tentang pesan hak asasi manusia (HAM) dalam lirik lagu Mawar karya Banda Neira ditolak mentah-mentah oleh dosen penguji. Kedua dosen penguji (yang akhirnya menjadi pembimbing skripsi) saya beranggapan kalau band indie tidak punya kekuatan besar untuk menyebarkan pesan sosial. Mereka menganggap tidak semua orang tahu band yang saya jadikan subjek penelitian ini.

Demi lulus di tahun 2015, saya menerimanya dengan lapang dada. Keinginan untuk bertemu mb Rara Sekar harus saya kubur dalam-dalam. Awalnya saya tetap kukuh ingin membuat judul yang sama, tapi bandnya berbeda. Waktu itu sempat terlintas nama Superman Is Dead (SID). Tapi karena lokasi SID ada di Bali, maka saya urungkan niat tersebut.

Dosen saya bilang: “Kalau mau menganalisis konstruksi pesan lagu, tolong analisis lagu dari band yang semua orang tahu.”

Akhirnya saya memilih lagu Apatis Blues dan Hey Bung! karya Slank. Siapa yang tidak tahu Slank? Setiap ada panggung besar, apapun jenis acaranya, apapun jenis musiknya, pasti ada bendera Slankers di sana.

Kunjungan saya ke Potlot adalah buah dari penantian panjang. Sejak akhir Mei lalu sebenarnya saya sudah menghubungi manajemen Slank untuk wawancara penelitian. Tapi karena jadwal manggung Slank yang padat, pertemuan saya dengan Bimbim baru terlaksana 10 Agustus lalu.

**

Waktu menunjukkan 14.20 ketika saya baru sampai Halte Busway Pancoran Tugu. Awalnya saya pikir masih kepagian. Tapi jalan raya Pasar Minggu berkata lain. Terjadi kemacetan dari lampu merah flyover Pancoran sampai sekitaran lampu merah Taman Makam Pahlawan Kalibata. Saya sempat ragu ingin melanjutkan perjalanan dengan ojek atau metro mini. Tapi karena sedang menjalani (((program))) pengiritan uang jajan, saya memilih naik metro mini.

Sudah 15 menit perjalanan tapi belum juga sampai di Potlot. Saya sudah terlanjur bayar ongkos metro mini, sayang kalau hanya dipakai untuk jarak tempuh yang amat pendek. Padahal sebelum jam 15.00 saya harus sudah sampai Potlot.

Ketika jam di ponsel menunjukkan 14.45, saya memutuskan turun dari metro mini dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jaraknya sih tidak terlalu jauh, tapi panasnya itu lho, bikin baju saya basah keringat.

Sesampainya di Jalan Potlot III No. 14, ternyata orang yang dicari masih latihan band dan saya harus menunggu sampai latihan selesai.

**

Saya sedang membaca Seri Buku Tempo: Tokoh Militer – Benny Moerdani yang Belum Terungkap ketika Bimbim keluar dari studio yang dinamai Studio Parah. Penggila Rolling Stones ini baru saja selesai latihan dengan The Sidhartas, band punk yang baru dibentuk bersama keluarganya.

Proses perkenalan dan basa-basi berjalan lancar. Sesuai kata kawan saya, ternyata Bimbim memang tipe orang yang santai.

Saya membagi sesi pertanyaan menjadi dua. Yang pertama untuk mengorek lirik lagu Apatis Blues dan berikutnya untuk lirik lagu Hey Bung!.

Lagu Apatis Blues diciptakan pada akhir tahun 1989. Lagu ini merupakan lagu terakhir yang diciptakan untuk album pertama mereka yang berjudul Suit Suit He.. He.. Gadis Sexy. “Lagu ini tercipta karena waktu itu produser (Boedi Soesatio) minta Slank bikin lagu blues,” kata Bimbim.

Dalam lagu ini Bimbim mencoba menggambarkan kondisi masyarakat saat itu, yang menurutnya mulai bodo amat dengan politik. Meskipun menggunakan kalimat-kalimat sarkas, Slank yang waktu itu masih beranggotakan Bimbim (drum), Kaka (Vokal), Bongky (Bass), Pay (Gitar) dan Indra Q (Keyboard) tidak pernah mendapatkan “gangguan” dari aparat keamanan. Padahal rezim Orba dikenal keras untuk karya seni yang mengkritisi pemerintah. “Waktu itu Slank belum dianggep,” jelas Bimbim.

Berbeda dengan lagu Apatis Blues, lagu Hey Bung! lebih halus dalam penggunaan bahasanya. Pada intinya, lagu ini adalah curahan hati Bimbim yang meminta pemerintah mendengarkan aspirasi rakyat. Di era Orba, pers tidak mendapatkan kebebasan. Pada tahun 1994 Majalah Tempo dibredel untuk kedua kalinya karena memberitakan keganjilan dalam pembelian kapal perang bekas dari Jerman.

Bimbim juga menyoroti Seoharto yang selalu menggunakan kekerasan dalam menindak siapapun yang mengkritisi pemerintah. Setahun sebelum lagu ini diciptakan ada kasus penculikan dan pembunuhan aktivis buruh Marsinah (1993). Marsinah ditemukan tak bernyawa di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk pada 9 Mei 1993. Penyelidikan hingga pengadilan memang sudah digelar, namun pembunuh sekaligus dalangnya belum terungkap hingga kini. Sebelum meninggal, Marsinah adalah buruh PT Catur Putera Surya, Porong, yang aktif berjuang membela hak-hak buruh (Kompas).

Di akhir wawancara, ada sekelompok pemuda menunggu di depan pagar. Kurang lebih ada 6-7 orang. Mereka memang sudah menunggu Bimbim sebelum saya sampai di Potlot.

“Mas Bimbim!” kata salah seorang dari mereka sambil mengacungkan spidol dan kaus oblongnya. Bimbim yang sedang menjawab pertanyaan saya hanya memberi lambaian tangan sebagai isyarat untuk menunggu sebentar.

“Mas Bimbim, foto bareng dong!” kata pemuda yang lain dari luar pagar.
“Tunggu, ya! Lagi diwawancara sama wartawan!” balas Bimbim. Saya tak bisa menahan tawa mendengar ucapannya.

Saya ingat tips dari Mas Wendi Putranto, Executive Editor majalah Rolling Stone (sekarang Managing Editor), soal wawancara personel band di salah satu seminar kampus. Salah satu tipsnya adalah membawa kaset original sebagai tanda kalau kita respect sama mereka. Setelah selesai wawancara saya meminta tanda tangan untuk kaset album Generasi Biru dan CD album Suit Suit He.. He.. Gadis Sexy.

Sebelum angkat kaki dari Potlot, saya tak lupa meminta foto bersama. Selain buat kenang-kenangan, foto ini juga sebagai bukti kalau saya benar-benar wawancara dengan Bimbim.

Wawancara selesai. Bimbim menyuruh para pemuda yang ada di luar pagar untuk masuk ke teras rumah. Bersamaan dengan itu, saya pamit.

Di depan gang Potlot III, saya menunggu Ojek Online. Waktu itu saya cuma penasaran, apa benar dari Pasar Minggu sampai Bekasi hanya Rp 10.000?

Di sela-sela menunggu, para pemuda yang baru saja berinteraksi dengan Bimbim berbondong-bondong keluar dari gang Potlot. Tiba-tiba satu di antara mereka menghampiri saya. “Bang, wawancara saya dong. Terus masukin foto saya (ke koran, pen) biar saya ngetop,” katanya. Teman-temannya tertawa dan beberapa di antara mereka juga minta diwawancara. Mereka kira saya wartawan beneran.

Setengah jam menunggu, tapi tidak ada satupun driver Ojek Online yang mau menerima pesanan saya. Mungkin karena Bekasi terlalu jauh, ya? Hahaha.

Karena sudah membuang banyak waktu, saya batalkan pesanan tersebut dan meneruskan perjalanan dengan metro mini lalu disambung dengan menaiki APTB.

**

Skripsi akhirnya selesai dibuat dan sudah diarsipkan oleh bagian akademik kampus. Sekarang tinggal menunggu jadwal sidangnya. Ada dua proses sidang yang harus saya jalani. Yang pertama sidang profesor, kedua sidang komprehensif. Semoga saya lulus di kedua sidang tersebut. Tolong diamini, ya. Hehehe.

10 Agustus 2016

Terima kasih untuk siapapun yang sudah ikut membantu saya dalam membuat skripsi tersebut. Berkat dukungan kalian, skripsi saya (yang saya buat murni, tidak asal copy-paste) selesai tepat waktu.

Tentunya sekarang saya sudah lulus. Dan sekarang saya sudah bekerja di salah satu Digital Advertising Agency di Jakarta Selatan. Saat sedang menulis bagian tambahan ini, saya sedang berada di kantor, baru saja selesai berkutat dengan angka-angka untuk report social media bulanan untuk klien.

Nggak terasa ya sudah setahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s