Apa Pentingnya Memantau Tayangan Televisi?

“Aku terima banyak pihak yang enggak suka. Buat aku ini dinamika. Buat yang senang, aku terima kasih sudah ikut doain, dan yang buat enggak suka, tinggal ganti channel,” kata Anang Hermansyah, seperti yang dikutip Kompas saat jumpa pers pasca persalinan istrinya, Ashyanti beberapa waktu lalu.

Ternyata selain tidak paham hak-hak anggota DPR, Mas Anang juga tidak mengerti apa itu frekuensi publik. Padahal dalam mukadimah Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 dijelaskan:

“Bahwa spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam terbatas dan merupakan kekayaan nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.”

Namanya juga frekuensi publik, artinya publik punya peran besar dalam memantau proses pemakaian frekuensi. Di sini publik berhak bersuara jika frekuensi radio yang terbatas ini dipakai untuk kepentingan segelintir orang saja. Mengapa demikian? Karena pajak yang kita bayar juga termasuk untuk mengelola frekuensi tersebut. Jadi salah besar rasanya jika Mas Anang dengan semena-mena menyuruh “tinggal ganti channel” saja hanya karena kita tidak suka persalinan istrinya disiarkan di televisi.

Dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) terdapat pasal yang harus dicermati publik sebagai pemilik frekuensi. Yaitu P3 Pasal 11 yang berbunyi:“Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kemanfaatan dan perlindungan untuk kepentingan publik.”

Apakah ada manfaat yang bisa kita petik dari program acara kelahiran anak Mas Anang? Saya rasa tidak. Acara persalinan yang dikemas dramatis tersebut murni untuk kepentingan rating. Bukan untuk mengangkat derajat kepentingan publik yang seharusnya dilindungi oleh si pemakai frekuensi.

Frekuensi Publik dan Copras-capres

Jauh sebelum Mas Anang heboh soal pesalinan istrinya, pemilu 2014 juga salah satu momen tersadis berkaitan dengan penyelewengan hak publik. Stasiun TV yang pemiliknya partisan dengan mudahnya memanfaatkan media yang dimiliki untuk kepentingan politik. Seperti tvOne dan Metro TV. tvOne mendadak menggunakan tagline “Presiden Pilihan Rakyat” untuk Prabowo Subianto sesaat setelah Aburizal Bakrie sepakat berkoalisi dengan para partai pengusung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Begitu juga dengan Metro TV, mereka menggunakan tagline “Presiden Pilihan Kita” untuk Joko Widodo yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla. Tentunya ini akan menciptakan situasi yang tak kondusif karena setiap stasiun TV saling lempar opini sesuai dengan pesanan bosnya. Publik selaku pemilik frekuensi justru digiring untuk berpihak pada capres-cawapres tertentu.

Tercatat ada 6 stasiun TV yang partisan saat pemilu 2014 lalu. Metro TV jelas mendukung Jokowi-JK karena Surya Paloh, selaku petinggi Partai Nasdem berkoalisi dengan PDI-P. Sementara tvOne dan ANTV (Aburizal Bakrie) dan RCTI, Global TV dan MNC TV (Harry Tanoe) berpihak pada Prabowo-Hatta.

Bayangin, deh. Anda sudah bekerja siang-malam, dimarahi bos, dinyinyirin teman kantor, terjebak kemacetan, belum lagi kalau keinget mantan, lalu pajak yang Anda bayar tidak dikelola sebagaimana mestinya. Tayangan televisi yang muncul justru cenderung nyampah dan tak berguna. Pola pikir Anda dirusak dengan tayangan yang penuh kekerasan, caci maki, dan pengumbaran privasi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan hidup Anda. Selain itu, dalam pemberitaan politik, pola pikir kita justru digiring ke sana-sini tergantung kepentingan si pemilik.

Inilah yang membuat kita harus ikut serta memantau pemakaian frekuensi publik. Caranya? Saat ini sangatlah mudah. Remotivi sebagai lembaga studi dan pemantauan media menghadirkan aplikasi Rapotivi untuk mengadukan tayangan-tayangan yang tak sehat. Jika Anda pengguna Android, cukup unduh aplikasinya lalu laporkan program yang Anda rasa tidak sesuai untuk konsumsi publik.

Atau Anda juga bisa langsung mengadu ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melalui sms 0812 130 70000, atau telepon 021-6340626.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s