Bakso Mantep, Alasan Kenapa Kami Pulang

Menyantap bakso bening dan es teh manis adalah cara paling sederhana untuk merayakan siang hari yang terik. Keringat yang mengucur saat melahap semangkuk bakso terasa nikmat jika diakhiri dengan minum es teh manis. Sensasinya melegakan. Ibarat membaca Al Qur’an, diawali dengan basmallah dan diakhiri dengan sodakaullah huladzim. Nggak nyambung, ya? Bodo amat.

Sejak kecil Bapak selalu mengajak saya untuk pergi ke kampung halamannya. Atau lebih tepatnya kampung orang tuanya, karena Bapak lahir dan besar di Jakarta. Kampung halaman yang dimaksud adalah Purworejo. Yaitu sebuah kota kecil di selatan Jawa, dekat dengan Magelang dan Yogyakarta. Biasanya bagi mereka yang mudik ke Jawa Timur melalui jalur selatan pasti melewati kota gersang ini.

Setiap sampai di Purworejo, Bapak selalu mengajak saya ke Pasar Baledono, yang letaknya di pusat kota, dengan menaiki delman. Bukan oleh-oleh yang dicari, melainkan jajanan sejuta umat: semangkuk bakso.

Kami berdua selalu singgah di warung Bakso Mantep. Sesumbar sekali ya namanya? Tapi baksonya memang benar-benar mantep! Setiap jam makan siang selalu ramai pengujung, apalagi saat hari raya Idul Fitri. Tak jarang banyak pelanggan yang tidak kebagian tempat duduk saking mantepnya rasa bakso di sana.

Pelayanannya juga mantep. Tak perlu menunggu lama, cukup duduk saja dan panggil mas-mas yang wara-wiri mengantarkan pesanan. Lalu sebutkan apa yang kita mau. Tak sampai 5 menit semangkuk bakso beserta minumannya datang.

Tampilan baksonya sangat sederhana. Hanya 3 bakso kecil, dan 1 bakso ukuran besar yang dipotong kembang. Campurannya hanya bihun, sedikit bawang goreng dan daun seledri.

Bagi saya, menghakimi cita rasa bakso lewat rasa kuahnya adalah keadilan yang hakiki. Jika memakai ukuran band Wali sebagai nilai terendah, Jikustik untuk nilai rata-rata, dan Sheila On 7 untuk nilai tertinggi, maka saya akan memberikan nilai Sheila On 7 untuk kualitas kuahnya. Asinnya terasa pas di mulut. Setiap kali saya menyantap kuahnya, saya selalu teringat sop bakso buatan Ibu di rumah.

Bagaimana dengan baksonya? Jelas bakso yang digunakan bakso kualitas bagus. Kalau nggak salah, kualitasnya setara dengan bakso merk Kebon Jeruk. (Maklum, saya sering mengantar ibu ke pasar).

Saya tidak pernah merasa kenyang jika memakan bakso di sana. Biasanya saya makan minimal 3 mangkuk. Itu pun belum terasa kenyang.

Saat menutupnya dengan meneguk es teh manis, ada rasa damai seperti mendapat kemerdekaan yang diraih dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tapi sayang, sejak pasar Baledono terbakar akhir Juli 2013 lalu, saya tak tahu bagaimana nasib dan keberadaan Bakso Mantep sekarang. Sebenarnya mereka buka cabang di Kutoarjo, yang letaknya sebelah barat kota Purworejo. Tapi saya nggak tahu persisnya di mana. Lagi pula terlalu jauh jika harus bolak-balik Magelang-Kutoarjo cuma untuk makan bakso. (Magelang kampung halaman Ibu, setiap lebaran kami menginap di sana).
Nasib pasarnya sendiri terombang ambing hingga sekarang. Akhir 2014 lalu DPRD setempat sudah membuat pansus untuk mengurusinya. Pansus tersebut merekomendasi pemerintah kabupaten setempat untuk merenovasi pasar dengan menggunakan anggaran tahun 2016.

Saya lupa kapan terakhir pergi ke pasar tersebut. Kalau tidak salah sudah 3 tahun lamanya saya tidak ke sana karena sampai sekarang belum juga direnovasi. Tahun 2012 kami sekeluarga tidak pulang ke Purworejo. Setahun kemudian kami ke sana tapi ternyata pasarnya kebakaran.

Hubungan kami sekeluarga dengan Bakso Mantep bukanlah cinta monyet semata. Bagi kami Bakso Mantep adalah alasan kenapa kami harus kembali ke Purworejo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s