Seperti Dendam, Ngidam Harus Dibayar Tuntas

Benar sekali kalau Anda menganggap judul tulisan ini menyontek novel Eka Kurniawan (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas). Saya pikir judul tersebut sesuai karena saya baru membayar tuntas keinginan untuk memakan kerang hijau.

Sejujurnya dua porsi yang saya makan barusan bukan kerang hijau terenak yang pernah saya makan. Tapi, ya namanya juga ngidam, apapun jadi terasa nikmat.

Tak perlu menunggu lama, baru saja duduk di atas kursi, kerang hijau langsung datang dengan seperangkat sambel-sambelnya. Mungkin kerangnya sudah direbus terlebih dahulu, lalu dihangatkan. Karena saya sempat melihat kerang-kerang itu diambil dari sebuah dandang besar, dan diambil dengan saringan kayu (saya nggak tahu namanya apa).

Beberapa kerang sudah terbuka cangkangnya dan dagingnya terlihat masih sangat segar. Tak semuanya berwarna oranye, beberapa ada yang berwarna putih dan kekuningan. Aromanya juga tidak terlalu mencolok. Sepertinya saat direbus tidak dicampur bumbu khusus untuk penyedap rasa. Mungkin hanya ditambah garam atau rempah lain dalam dosis sedikit agar kerang tidak terlalu amis.

Rupanya si juru masak memiliki resep sendiri. Ia lebih menitik beratkan rasa pada sambalnya. Sebenarnya tidak terlalu enak. Karena komposisinya nggak banget. Di dalamnya ada saos tomat dan cabai, ditambah bumbu kuning yang saya nggak tahu apa namanya, dan bumbu kacang. Bumbu kacang inilah yang menurut saya menjadi perusak suasana saat kerang sudah masuk ke dalam mulut. Rasanya jadi aneh, awkward gitu deh pokoknya.

Tapi karena saya dan teman saya waktu itu masih ingin mengobrol lebih lama, saya memesan lagi 1 porsi kerang hijau rebus.

Kawan saya memesan udang saus tiram. Dan lagi-lagi saya kecewa karena di dalam bumbunya ada bumbu kacang. Memangnya di setiap saus tiram ada bumbu kacangnya, ya? Kok tempat makan ini suka banget sama bumbu kacang. Apa-apa dikasih bumbu kacang.
Jika teman-teman memperhatikan gambar paling atas, ada cah kangkung di sana. Sea food tak lengkap tanpa cah kangkung. Tapi, lagi-lagi, saya sangat menyayangkan karena ada bumbu kacang di dalam kuahnya. Karena bagi saya cah kangkung terbaik adalah yang kuahnya terasa asin tipis-tipis, dan gurih saat dilumuri ke atas nasi.

Meskipun rasanya biasa saja, saya puas dengan jajanan malam ini. Ya.. namanya juga ngidam. Ngidam itu seperti rindu. Dan rindu harus dibayar tuntas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s