Surat Terbuka Untuk Masjaki

Manajer Temennya Teteh, @masjaki

Salam sejahtera untuk Mas Fakhri Zakaria. Om Shanti Shanti Om. Merdeka!

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk kesediaannya mengasuh duo bernama Temennya Teteh. Lewat (((tanggan dingin))) Anda, saya dan Ardi Wilda selaku personel Temennya Teteh menjadi pujaan di lingkaran selebtweet Arman Dhani. Selain itu awal Februari lalu Anda juga telah sukses membawa kami menjadi satu dari 10 band paling berbahaya versi Majalah Warning Magazine.

Loyalitas Anda memang tak dapat dinilai dengan selembaran kwitansi. Sekembalinya Anda dari pendidikan ilmu ikhlas di pedalaman Muntilan, Temennya Teteh kembali membuat kejutan. Lewat single terbaru yang berjudul “Uncle Jo”, bersama Anda kami mendapat kesempatan untuk diwawancara Kanal KPK. Ini merupakan pencapaian tertinggi kami.

Kami sangat amat berterima kasih karena Anda selalu membawa keberuntungan. Oh, iya! Saya lupa! Sekembalinya Anda menjadi manajer, kami justru mendapat kesempatan manggung, di acara yang konon berbintang lima. Melihat kisah heroik tersebut saya jadi teringat mitos Dewi Sri yang menurut cerita leluhur menjadi kunci kesuburan tanah di republik ini. Adakah hubungannya dengan Anda? Saya rasa tidak.

Tapi, Bung Jaki. Ada satu hal yang mungkin harus kita persoalkan. Dari beberapa siaran pers yang ada, nama saya berubah menjadi Fajar Mercury. Saya merasa nama panggung tersebut tidak sesuai dengan SOP yang ada dalam Buku Panduan Manajer Temennya Teteh (BPM-Tete).

Saya pernah mendengar ternyata nama “Mercury” sudah dipakai oleh biduan pantura. Waktu itu saya sedang terjebak macet di kawasan Indramayu. Kebetulan waktu itu saya melintasi toko CD bajakan yang sedang menampilkan video orkes dangdut. Di sana saya mendengar nama sang biduan, (kalau saya tidak salah dengar) namanya Ana Mercury.

Dari studi kasus tersebut, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Anda. Pertama, sudikah Anda band berbahaya versi Warning Magazine ini disamakan dengan biduan pantura? Lalu apakah penggunaan nama “Mercury” hanya untuk kepentingan bisnis semata? Maksudnya, nama itu cukup menjual dan membuat Temennya Teteh mampu merebut Rara Sekar dari Banda Neira?

Jika kita cermati realita yang ada, kerap kali para artis memakai nama panggung untuk menjual dirinya. Sebut nama: Cita Citata, Janita Janet, Bopak Castelo, Daus Mini, Arman Dhani. Mereka adalah sederet nama yang bisa populer karena nama panggung.

Tak perlulah kita mengikuti mereka-mereka orang. Cukup Ardi Wilda yang menjadi Awe Mayer. Jika Anda tetap bersikukuh memakai nama Fajar Mercury, entah bagaimana nasib duo berbahaya ini di masa depan. Dengan rusaknya masa depan Temennya Teteh, rusak pula dunia musik indie Indonesia– meskipun biar indie atau dahsyat yang penting halal bi halal.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan kepada Anda. Semoga drama katrok yang saya buat ini akan membuat orang-orang menjadi iba dan mau ngefollow akun twitter @temennyateteh,

Salam,
Fajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s