Bapak

Kami berdua memang berbeda. Dari segi fisik, Bapak adalah orang terkuat di rumah kami. Sedangkan saya tipe orang yang mudah sakit. Tapi belakangan Bapak sudah sering sakit-sakitan, maklum sudah 55 tahun. Jadi saya harus siap siaga jika dibutuhkan tenaganya.

Pandangan politik kami pun juga berbeda. Saat pemilu lalu, Bapak yang dari dulu tidak suka Prabowo tiba-tiba mendukung Prabowo karena tidak suka Jokowi. Sedangkan saya mendukung Jokowi karena Prabowo masih punya hutang penjelasan kasus HAM berat.

Terlepas dari perbedaan di antara kami berdua, kalau bukan karena Bapak, saya tidak akan tahu betapa indahnya langit di malam hari. Dulu ketika saya masih berumur 2 atau 3 tahun (kata ibu), Bapak sering mengajak saya keluar di malam hari sekedar untuk melihat bulan dan bintang. Saat itu pula Bapak mengajarkan cara berhitung dengan menghitung jumlah bintang yang ada di langit. Karena Bapak, sampai sekarang saya sangat menyukai langit malam hari. Terlebih saat ada bulan purnama.

Bapak memang terlihat seperti orang sok tahu, tapi terkadang apa yang dikatakan sering terjadi di kemudian hari.

Suatu hari saya sedang bercanda kepada Ibu kalau sudah lulus kuliah, punya pekerjaan dan sudah menikah, saya tidak mau hidup di rumah yang sekarang saya huni atau rumah mertua. Karena, pertama, itu rumah orang tua atau mertua. Kedua, saya tidak mau menyusahkan keduanya jika sudah berkeluarga nanti. Tiba-tiba saja Bapak menimpalnya agar tinggal di apartment di kawasan Taman Solo.

“Nanti kamu tinggal di situ,” kata Bapak sambil menunjuk apartment (yang kayaknya) elite itu. Waktu itu saya beserta Bapak dan Ibu sedang dalam perjalanan pulang dari rumah nenek– di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Ini bukan soal tinggal di tempat mewah atau rumah megah. Tapi soal perkataan Bapak. Bapak sering nyeletuk akan ini dan itu soal apapun. Ia selalu yakin kalau ucapannya akan terjadi dan dialah yang selalu benar. Padahal saya menganggapnya hanya guyonan sok tahu.

Tapi waktu itu saya berubah pikiran. Saya tidak menganggapnya sebagai sekedar ocehan sok tahu, melainkan doa. Orang bilang perkataan adalah doa. Maka saya amini saja sambil tertawa. Itu merupakan momen langka karena kami jarang bercanda. Jangankan bercanda, berbicara satu sama lain pun jarang. Kadang saya merasa bersalah karena lebih sering mengurung diri di kamar untuk memainkan laptop, dan mengabaikan Bapak yang selalu ada di rumah karena sudah pensiun. Mungkin saya harus lebih sering lagi berbicara tatap muka dengan Bapak. Antar sesama lelaki, antar bapak dengan anaknya.

Sebelum adegan bercanda di dalam mobil itu, beberapa hari sebelumya Bapak pernah bilang: “Bukannya mau ngusir, tapi Bapak nggak mau kamu numpang di rumah ini kalau nanti sudah berkeluarga. Kamu harus beli rumah sendiri.”

Kalimat itu yang memotivasi dan bikin saya berjanji untuk menuntaskan kuliah tepat waktu. Saya ingin semester 8 ini adalah semester terakhir saya kuliah S-1 (tolong diamini).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s