Ibu Dian dan Mbak Tara Adalah Kita!

Belakangan ini berita-berita yang muncul di TV dan social media menunjukkan kalau suhu perpolitikan Indonesia sedang memanas. Itu artinya Indonesia sedang darurat kesejukan! Indonesia butuh figur-figur baru yang mampu membawa kesejukan agar kualitas lingkar otak tetap terjaga.

Aa Gym, sang Master of Manejemen Qolbu, sudah tidak bisa diharapkan lagi sejak ia memadu Teh Ninih demi cintanya kepada Teh Rini. Dahulu kala Ahmad Dhani dan Maya Estianti juga sempat menjadi panutan para ibu-ibu gengges seantero Nusantara. Tapi nyala api asmara mereka redup setelah Dhani dikabarkan dekat dengan kawan duet istrinya, Mulan Jameela (atau yang dulu kita kenal Mulan Kwok).
Ibu-ibu mana yang tahan dengan lelaki yang suka mendua? Sudah saatnya perempuan menjunjung kepalan tangannya ke atas, dan mengambil alih tongkat kepemimpinan dalam usaha menjaga perdamaian dunia dari kaum lelaki.

Di tengah derasnya arus masalah di republik ini, akhirnya muncul dua figur yang menurut saya mampu membendung arus kebodohan masyarakat– yang makin lama makin menjijikkan. Mereka adalah Ibu Dian Sastrowardoyo dan Mbak Tara Basro.

Ada beberapa alasan kenapa saya mendaulat dua bidadari ini menjadi figur penting untuk bangsa Indonesia:

1. Teladan bagi para ABG labil dan anak nongkrong

Baik Ibu Dian maupun Mbak Tara lahir dari keluarga berduit. Keduanya tak menyianyiakan kesempatan ini dengan mengenyam pendidikan di institusi pendidikan yang lumayan populer. Ibu Dian merupakan lulusan S1 Ilmu Filsafat dan S2 Manajemen Keuangan Universitas Indonesia. Sementara Mbak Tara lulusan NSW Technical and Further Education Commission Australia.

Secara tidak langsung keduanya mengajarkan para wanita bahwa untuk menjadi wanita tangguh harus punya bekal pendidikan. Dengan ini diharapkan para perempuan muda Indonesia lebih memilih untuk memperlebar lingkar otaknya daripada nge-like akun Sad Story dan semacamnya– yang kadang nyampah banget di timeline Line Messenger.

Selain itu keduanya dikenal suka nongkrong sana-sini. Terlebih Ibu Dian yang dulu pernah muda dan digandrungi para remaja. Anda mungkin pernah melihat foto-foto Ibu Dian sewaktu muda di google. Sepintas terlihat nakal sekali, kan? Masa muda memang identik dengan kenakalan. Tapi apalah artinya kenakalan kalau ukuran lingkar otak tetap terjaga? Ibu Dian yang cantiknya mencapai level: Allahuakbar saja mau belajar dengan giat. Lha kamu, cantik aja nggak tapi males belajar. Udah jelek, bego pula.

2. Hanya mereka yang mampu membawa ustad Felix ke jalan yang benar

Ibu Dian dan Mbak Tara akan membawa perdamaian di Indonesia. Keduanya memiliki banyak pengikut di instagram. Mbak Tara punya 39 ribu lebih pengikut, sementara Ibu Dian punya 1,2 juta lebih pengikut. Sudah pasti keduanya memiliki pengikut dengan latar belakang yang beragam.

Ustad Felix pernah berkata bahwa pluralisme merupakan sesuatu yang berbahaya. Benarkah demikian? Tahukah Om Felix kalau masih banyak teman-teman kita yang keturunan Tionghoa, dan beragama non-muslim kerap kali didiskriminasi oleh masyarakat? Pernahkah Anda merasa sakit hati ketika rumah ibadahnya dirusak, dan diteriaki kafir oleh ormas garis keras? Ustad Felix seharusnya paham karena beliau keturunan Tionghoa dan pernah menjadi non-muslim.

Maka dari itu atas nama perdamaian, saya yakin Ibu Dian dan Mbak Tara, dengan aura kesejukkannya mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama.

Dan, satu lagi nih. Kata orang-orang yang nge-follow ustad Felix di twitter dan facebook, om ustad ini takut dengan wanita tegas dan keras. Bagi om ustad perempuan itu harus lembut dan hanya lelaki yang boleh begitu.

Lha, sekarang ini kejahatan seksual terhadap wanita sudah tak lagi mengenal ruang dan waktu kok. Di dalam angkutan umum seperti busway saat jam berangkat atau pulang kerja, misalnya. Pada saat seperti itu jumlah penumpang sangat padat, dan adegan mepet-mepetan terkadang mau nggak mau harus terjadi. Kalau wanita nggak boleh keliatan galak saat ada yang mengganggu, masak iya mereka cuma melawannya dengan:

“Bang, udah dong bang. Jangan gitu dong, Bang. Ah… Aw…. Aduh… Ah… Jangan dong, Bang.”

Yang ada si pelaku malah makin liar.

Perempuan itu harus mandiri dan tidak muluk-muluk harus lembut ala ala Barbie. Kalau terlalu lembut, dan setiap hari kerjaannya cuma nge-like akun Sad Story, kan capek juga.

Maka dari itu saya mendaulat Ibu Dian dan Mbak Tara. Saya yakin beliau-beliau ini mampu mengangkat derajat wanita.

Kalimat di atas bukan tagline obat kuat, atau segala hal yang berujung pada masalah ranjang. Melainkan representasi dari Ibu Dian dan Mbak Tara yang memiliki fisik yang kuat karena sering berolah raga.
Perempuan kuat sangat didambakan oleh para lelaki. Sederhana saja, saat Anda merasa lelah, pasangan Anda bisa dengan senang hati menyediakan waktu untuk sekedar memijat bagian tubuh Anda yang pegal. Padahal kita tahu sebelumnya mereka telah melakukan aktivitas yang melelahkan.

Romantis itu nggak muluk-muluk soal makan malam bersama atau memberi kejutan istimewa kok. Saling pijat satu sama lain juga oke. Apalagi sambil kerokan.

4. Revolusi Mental

Berpendidikan serta tahan banting. Ditambah lagi dengan filosofi olah raga panahan– yang mengharuskan kita sabar agar tepat dalam membidik target. Itu semua merupakan komponen yang pas untuk menjalankan program Revolusi Mental. Dengan kadar intelektual yang tinggi, fisik yang kuat, serta pemahaman soal bagaimana membidik sesuatu dengan tepat sasaran merupakan sesuatu yang telah lama di nanti.

Selama ini program pemerintah terhambat karena parlemennya sibuk main tendang-tendangan kursi, lempar-lemparan kursi dan rebutan kursi. Perlu adanya pemimpin cerdas dan tahan banting agar bedebah-bedebah parlemen itu bisa diatur sebagaimana mestinya.
Di suatu kesempatan acara TV Ibu Dian mengakui kalau beliau cukup galak dengan anak-anaknya. Di tambah lagi wajah Mbak Tara yang jutek dan siap mengobrak-abrik siapapun dengan tongkat emasnya. Mana ada yang tahan dengan semua ini? Mana ada?!

Kami selalu percaya setiap wanita pasti memiliki suatu kekuatan yang mampu mengubah semuanya. Dengan energi kesejukan yang mereka miliki, maka perdamaian dunia sudah ada dalam genggaman. Kepada Ibu Dian dan Mbak Tara kami berharap. Karena mereka adalah kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s