Yang Utama Tuan Tjokroaminoto

Satu lagi tokoh bangsa di angkat ke dalam sebuah film. Jika waktu itu Hanung Bramantyo mengangkat kisah Soekarno dalam film yang dirilis pada 11 Desember 2013[1], kini giliran Garin Nugroho yang berani mengangkat guru Sang Proklamator, yaitu Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Film yang berjudul Guru Bangsa: Tjokroaminoto ini menceritakan kisah perjuangan Tjokro dalam melawan kolonialisme.

Tjokro yang lahir pada tanggal 16 Agustus 1882, di Desa Bukur, Madiun, Jawa Timur ini merupakan hulu dari lahirnya beberapa tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Di Gang Peneleh 7, Surabaya, ia bersama istrinya Suharsikin mengelola kost-kost-an sederhana untuk para anak muda. Beberapa di antara mereka adalah Semoen, Alimin, Darsono, Muso, Kartosuwiryo dan Sang Proklamator Ir. Soekarno.[2]

Film ini merupakan buah kerja keras Garin yang dikerjakan dalam waktu yang cukup panjang. “Ini film yang paling berat saya garap. Ibaratnya, dalam langkah itu seperti separuh napas,” kata Garin, seperti yang dikutip oleh Tempo.[3] Bagaimana tidak? Dalam melakukan riset saja dibutuhkan waktu 2,5 tahun sebelum akhirnya di rilis 9 April lalu.

Film ini patut diapresiasi karena dengan beraninya Garin mengangkat tokoh yang tidak begitu dikenal ke dalam film.

Meski begitu, bagi penikmat film amatiran seperti saya, film ini masih punya beberapa catatan.

Saat adegan Tjokro (yang diperankan Reza Rahardian) sedang membereskan pakaiannya bersama Suharsikin (Putri Ayudya) ketika hendak ke Surabaya, ada “kebocoran” audio yang membuat saya bingung. Pergerakan mulut Reza saat berbicara tidak sesuai dengan kata yang keluar dari (mungkin) mulut dubber-nya.
Dengan durasi 2 jam 40 menit dan memakai alur maju-mundur membuat jalan cerita terlalu panjang dan membingungkan bagi mereka yang benar-benar buta tentang Tjokroaminoto. Mungkin butuh 2 kali menonton agar mengerti kesinambungan antara scene hitam putih– yang menggambarkan suasana kelam pejara yang dihuni Tjokro– dengan scene berwarna. Maka dari itu sebelum menonton alangkah baiknya Anda mencari tahu terlebih dahulu soal siapa Tjokroaminoto.

Selain itu, saya sangat menyayangkan pemilihan Ibnu Jamil untuk memerankan Agus Salim. Ibnu terlalu tinggi untuk ukuran Agus Salim yang dikenal memiliki postur tubuh pendek.

Tenggelam Akibat Konflik Internal Organisasi

Tjokro merupakan tokoh yang melampaui zamannya. Ia sudah terlebih dahulu berbicara soal kesetaraan, anti-rasisme, dan nasionalisme sebelum pemimpin-pemimpin lain menggelorakannya.

Sejarawan yang meneliti Tjokro, Anhar Gonggong, dalam acara Mata Najwa mengatakan pemberontakan PKI pada tahun 1926-1927 (yang dilakukan sepihak oleh Muso dkk) menjadi faktor yang menenggelamkan nama Tjokro. “Belanda menjadi curiga. Setelah pemberontakan Soekarno membentuk PNI (Partai Nasional Indonesia, red) yang arah politiknya non-koorporasi, inilah yang membuat Tjokro tidak begitu dikenal,” kata Anhar.

Padahal, menurut Anhar, Tjokro adalah orang pertama yang melakukan kebiasaan yang dulunya dianggap tabu oleh masyarakat. Seperti berpakaian rapih– sebagai simbol bahwa setiap manusia itu setara, memakai peci yang pada saat itu belum dipakai oleh masyarakat Jawa, dan duduk dengan mengangkat satu kaki– yang sering ditafsirkan sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Melahirkan Tokoh-Tokoh Penting Pelaku Sejarah

Tjokro menyebut rumahnya di Gang Peneleh 7, Surabaya, sebagai rumah ideologi. Di sana berkumpul banyak anak muda revolusioner yang memiliki gagasan masing-masing dalam melawan kolonialisme. “Ideologi boleh saja berbeda, tapi jangan sampai ada kekerasan,” kata Tjokro kepada Semaoen di dalam gerbong trem, di salah satu adegan film tersebut.

Murid-muridnya terpecah belah sesuai dengan ideologi yang dianut. Salah satunya adalah Semaoen, anggota Sarekat Islam (SI) berhaluan sosialisme yang kelak menjadi Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia. Bersama Darsono (yang kelak menjadi Wakil Ketua PKI) ia kerap mendalangi pemogokan kaum buruh di Semarang.

Hal ini membuat SI terpecah menjadi kubu merah (yang berhaluan kiri) dan hijau (yang dipimpin oleh Tjokro).[4] SI Merah lebih memfokuskan perebutan tanah garapan karena mereka menganggap tanah tersebut adalah tanah pribumi. Sedangkan SI Hijau mengutamakan pendidikan sebagai dasar untuk melawan kolonialisme.

Tokoh SI lain yang berhaluan kiri adalah Muso. Putra asli Kediri ini memiliki sepak terjang politik yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia sampai belajar politik ke Soviet, dan melakukan beberapa pemberontakan terhadap kolonialisme (1926) dan pemerintah pusat (1948) dengan bendera PKI. Ia pernah dipenjara bersama Alimin, sahabatnya yang juga murid Tjokro karena dianggap Belanda sebagai orang Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang disusupkan ke SI.[5]

Pemikiran kiri anak buah Tjokro tak lepas dari pengaruh Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet. Ia kerap kali berdiskusi dengan Semaoen, Alimin, Muso dan Darsono sejak kehadirannya di Hindia Belanda tahun 1913.[6]

Tokoh lain yang tak kalah fenomenal adalah Sang Proklamator Soekarno. Peran Tjokro terhadap Soekarno sangatlah besar. Hal ini ia akui dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat:

“Pak Cokro mengajariku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang dia ketahui atau pun tentang akan menjadi apa aku di masa depan. Sebagai seorang tokoh yang memiliki daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya, Pak Cokro adalah idolaku. Aku duduk di dekat kakiya dan dia memberikan buku-bukunya kepadaku, dia memberikan miliknya yang berharga kepadaku.”[7]

Tjokroaminoto sudah terlebih dahulu muncul sebagai tokoh yang dikenal sebagai orator ulung. Bahkan gayanya dalam berpidato diikuti oleh Soekarno hingga ia menjabat menjadi presiden RI yang pertama.

Merah dan Hijau

SI yang dikomandoi oleh Semaoen dari Semarang terbilang berhasil mengambil hati para buruh. Bersama Darsono ia berhasil menggaet hati organisasi perburuhan seperti perserikatan buruh kereta api Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), serikat sosial demokrat Hindia Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV), serikat sekerja kehutanan, serikat sekerja pelabuhan, sampai serikat sekerja sopir dan kusir. Berbagai macam pemogokkan buruh mereka gerakkan sebagai perlawanan terhadap Belanda.

Hal ini yang membuat Belanda mencurigai Tjokro sebagai dalang di balik aksi pemogokkan. Atas dasar ini pula Agus Salim secara resmi ditunjuk menjadi Komisaris Central Sarekat Islam (CSI) pada tahun 1919. Tujuannya untuk meredakan konflik antara kubu Merah dan Hijau karena ia memiliki kedekatan dengan sarekat buruh dan pejabat Hindia Belanda.[8]

Perselisihan anggota SI dalam film ini ditunjukkan saat perdebatan antara kubu Agus Salim dan Semaoen. Agus Salim, atas persetujuan Tjokro, ingin mengutamakan pendidikan sebagai alat untuk menciptakan tanah yang merdeka. Sementara Semaoen bersama pengikutnya ingin merebut kembali tanah yang sudah sejak lama dikuasai Belanda, untuk dimiliki kembali oleh para pribumi.

Demokrat Sejati

Ada beberapa bagian dalam film yang menunjukkan salah satu tipikal manusia Indonesia yang pernah dikemukakan Mochtar Lubis, yaitu percaya terhadap hal-hal gaib.[9] Masyarakat tradisional dalam film tersebut digambarkan dengan menganggap Tjokro sebagai Satria Piningit, Ratu Adil, dan lain sebagainya. Garin memasukkan beberapa gimmick yang memperkuat karakter tersebut. Salah satu di antaranya ketika beberapa orang mencium rel yang telah dilewati oleh trem yang dinaiki Tjokro.

Di sini Tjokro sadar betul bahwa pendidikan sangat berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Tjokro ingin masyarakatnya setara dengan bangsa asing dalam hal intelektual agar tidak lagi menjadi pesuruh dan tunduk terhadap kekuasaan Belanda.

Tapi, seperti yang telah diterangkan di atas, gagasan akan pendidikan tidak serta merta diterima oleh seluruh anggota SI– khususnya SI cabang Semarang pimpinan Semaoen.

Perbedaan ideologi tak membuat Tjokro memaksakan kehendaknya. Ia amat percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan anak-anak muridnya memiliki tujuan yang sama, yaitu memerdekaan rakyat dari belenggu kolonialisme. Meskipun pada akhirnya beberapa di antara mereka bertindak serampangan yang mengakibatkan Tjokro dipenjara oleh Belanda.

Jika saya tidak salah menafsirkan, perlu kita sadari bahwa apa yang ada dalam pancasila adalah representasi dari perjuangan hijrah Tjokro semasa hidup. Ia sadar bahwa Indonesia bukan hanya orang Jawa atau islam saja, tapi Indonesia adalah sebuah tempat di mana muncul keberagaman yang berbaur satu sama lain. Ia juga ingin seluruh masyarakatnya merasakan kemakmuran dan keadilan tanpa kecuali.

Gaya kepemimpinan Tjokro masih sangat relevan jika melihat kondisi Indonesia saat ini. Ia seorang demokrat sejati; terbuka terhadap perbedaan pendapat dan ideologi, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk sama-sama menciptakan perubahan.

Nilai untuk film ini: 7,25

Referensi:

[1] Wikipedia. Film Soekarno (Diaskes 15 April 2015 pukul 13:00).
[2] Merdeka.com. Profil Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (Diakses pada 15 April 2015 pukul 15:00).
[3] Tempo.co. Garin Sempat Mutung Saat Garap Tjokroaminoto (Diakes pada 12 April 2015 pukul 20:00).
[4] Masykur Arif Rahman. 2013. Tan Malaka: Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah. Yogyakarta: Palapa. Hal. 73-74.
[5] Tempo. Seri Buku Tempo: Orang Kiri Indonesia-Musso: Si Merah di Simpang Republik. Jakarta: Penerbit Kompas Gramedia. Hal. 11.
[6] Ibid. Hal. 10.
[7] Cindy Adams. 2014. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (Edisi Revisi). Jakarta: Yayasan Bung Karno. Hal. 46.
[8] Tempo. Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa-Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik. Jakarta: Penerbit Kompas Gramedia. Hal 59-60.
[9] Mochtar Lubis. 2012. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal. 27.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s