Bekasi

Masih teringat ketika masih SD dulu. Setiap minggu pagi saya bisa melihat bagaimana pegunungan di selatan Bekasi yang berjajar dari barat ke timur. Tepatnya pada saat saya berlatih di sekolah sepakbola yang lapangannya berada di perbatasan perumahan saya dengan perumahan seberang. Pemandangan tersebut semakin asri ketika sayup-sayup bunyi suara kereta api (dari stasiun yang berada 4 km dari lapangan) terdengar sesekali.

Tapi sekarang hal-hal seperti ini sudah jarang saya dapatkan. Semuanya berubah ketika perusahaan-perusahaan properti secara “sporadis” membangun tiang-tiang pancangnya di berbagai sudut kota. Persawahan yang luasnya berhektar-hektar lenyap dan berubah menjadi mal besar, apartemen dan lain sebagainya. Percaya atau tidak, sepanjang pengamatan saya, ada sekitar 11 mal di Bekasi (mohon koreksi jika salah).

Di sisi lain saya sangat terbantu dengan dibangunnya mal-mal tersebut. Karena dengan hadirnya mal tersebut maka makin mudah pula bagi saya jika ingin menonton film favorit di bioskop– waktu tempuhnya hanya 7 menit jika tidak macet. Tapi di sisi lain saya merasa kehilangan Bekasi yang asri (ya sebenarnya nggak asri-asri banget sih). Untuk melihat pegunungan yang biasa saya lihat sewaktu SD pun harus ke atas jembatan layang yang dibuat oleh suatu perusahaan properti beberapa tahun yang lalu.

**

Bekasi memiliki arti sendiri bagi sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Ia memasukkan Bekasi sebagai latar romannya yang berjudul Larasati. Larasati adalah roman yang berkisah tentang perempuan yang berjuang ketika kolonialisme masih hidup di Indonesia. Tak hanya itu, ia juga membuat novel yang berjudul Di Tepi Kali Bekasi, yang sampai saat ini sudah sangat sulit ditemukan bukunya.

“Kesakralan” Kota Bekasi yang ditulis Pram seakan hilang terbawa arus modernisasi yang deras. Bekasi hari ini bukan lagi Kota Patriot seperti yang (secara tidak langsung) digambarkan oleh Pram, melainkan kota pertarungan antar kelas. Walikota Bekasi, Rahmad Effendi, malahan sangat percaya diri dengan makin banyaknya perusahaan properti yang berinvestasi di Bekasi. “Kalau kita lihat luasnya hanya 21.000 hektar dengan penduduk 2,5 juta jiwa. Sudah kota metropolitan-lah,” katanya seperti yang dikutip Kompas. Dengan banyaknya perusahaan properti yang masuk justru membuat masyarakat kecil tak punya tempat lagi untuk berekspresi. Pengusiran dua sejoli yang sedang asik berpacaran di trotoar– yang sering terjadi di dekat selah satu mal besar– merupakan sekelumit kisah dari buruknya sistem tata kota di Bekasi.

Tidak muluk-muluk soal kaya dan miskin, di jalanan pun juga ada yang saling gontok-gontokan. Para pengendara mobil terkadang merasa risih dengan pemotor yang saling serobot. Karena tidak punya ruang gerak yang cukup, sering kali para pengendara motor dengan seenak udelnya mengendarai motor di atas trotoar– yang merupakan sarana khusus pejalan kaki. Elite pemerintah kota Bekasi diam-diam juga ikut main senggol di jalanan. Minimnya sarana untuk pejalan kaki dan disabilitas, dan masih banyak jalan yang rusak merupakan gambaran bagaimana pola pikir mereka dalam memanusiakan masyarakatnya.

Rahmad Effendi harus belajar bagaimana membangun komunikasi yang jelas antara pemerintah kota dengan masyarakat. Beberapa waktu lalu ia menghimbau masyarakat untuk melapor jika ada sesuatu yang mengganggu, khususnya pungli. “Di kelurahan mana dan urusannya apa. Pasti akan kami tanggapi, karena saat ini Pemkot Bekasi sedang mengubah birokrasi yang sebelumnya merugikan masyarakat menjadi penolong masyarakat,” kata Rahmad Effendi. Lantas ke mana masyarakat harus melapor? Bagaimana caranya? Sampai saat ini masyarakat masih banyak yang tidak tahu. Termasuk saya.

Untuk tahun 2015 ini pemerintah kota Bekasi menargetkan setoran PBB sebesar Rp 227 miliyar. “Diharapkan masyarakat Kota Bekasi membayar PBB sebelum jatuh tempo pada 9 September mendatang,” kata Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) Kota Bekasi Aan Suhanda, seperti yang dikutip Beritasatu. Sejalan dengan himbauan Rahmad Effendi, diperlukan wadah komunikasi yang baik untuk masyarakat dengan pemkot jika ingin pajak tersebut digunakan sebagaimana mestinya. Masyarakat harus dilibatkan soal ini karena mereka bukan hanya pembayar pajak, tapi juga pengawal dari proses penggunaan pajak itu sendiri.

Tentunya saya sebagai pemuda juga tidak mau hanya berkeluh kesah tanpa memberi solusi. Jika PBB yang besarnya ratusan miliyar itu tercapai, alangkah baiknya Pak Walikota membuat landasan roket untuk NASA agar bantuan logistik untuk perbaikan jalanan yang rusak, dan membangun fasilitas publik yang layak terdistribusi dengan baik. Dengan terciptanya fasilitas yang baik, maka tak ada lagi masyarakat yang sembarangan dalam bertindak, seperti para pemuda yang sering membuang kondom bekas pakai di arena bermain GOR Bekasi.

Semoga usul saya didengarkan dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat Bekasi.

Selamat ulang tahun yang ke- 18, Kota Bekasi!

One Reply to “Bekasi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s