Boediono

Sumber: Tempo
“Rumah Boediono kecil banget. Jauh dari kesan pejabat,” kata kawan saya, Awe, kira-kira sebelum bulan Ramadhan. “Rumahnya tingkat, tapi bagian atasnya kayak bukan buat kamar atau ruangan seperti rumah tingkat pada umumnya. Tapi tempat buat jemur baju gitu.”
Boediono. Tak banyak orang yang mengerti apa yang ia lakukan selama ini– termasuk saya. Pendiam dan jarang diekspos media. Sekalinya muncul ke media karena kasus Bank Century– di sini ia menjadi saksi.

Saya pernah bertemu Pak Boediono dalam acara pernikahan anaknya Pakde. Waktu itu saya belum bertemu Awe– yang waktu itu punya rumah kontrakan persis di belakang rumah Boediono. Yang ada dibayangan saya, seorang pejabat tertinggi negara pasti sangat akrab dengan kemewahan. Contohnya Pak SBY, kediamannya di Cikeas sudah seperti kerajaan kecil. Tapi persepsi saya berubah ketika melihat beliau secara langsung, di depan mata kepala saya sendiri. Warna baju batik yang ia pakai tampak sudah pudar. Penampilannya benar-benar tidak mencerminkan seorang wakil presiden. Andai tak diperlakukan sebagai tamu VVIP, mungkin di mata saya beliau tak ada bedanya dengan saudara-saudara saya yang sudah sepuh yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta. Pokoknya waktu itu saya lebih ganteng dari Pak Boediono.
Beberapa waktu setelah Awe bercerita tentang Boediono, saya jadi teringat Agus Salim yang hidupnya sangat sederhana dan sering pindah-pindah rumah. Mohammad Roem– “murid” Agus Salim Salim– dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah, seperti yang dikutip Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa – Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, mengungkapkan kesaksiannya. “Rumahnya rumah kampung. Meja dan kursinya sangat sederhana. Sangat berlainan dengan apa yang saya bayangkan tentang seseorang yang sudah terkenal.” 
Di eranya, Agus Salim menjadi salah satu pejabat yang hidupnya sangat sederhana hingga akhir hayat. Kemiskinan tidak membuat Agus Salim memelihara perilaku oportunis. Padahal bisa saja ia mendapatkan hidup yang lebih layak dengan mengandalkan nama besar dan jabatannya– Menteri Luar Negeri. 
Sama seperti Agus Salim, Boediono sebenarnya bisa mendapatkan rumah yang besar seperti “istana kerajaan” di Cikeas. Mungkin ia menjadi satu-satunya wakil presiden yang pernah membeli seragam batik pegawai salah satu hotel di Solo, untuk menghadiri acara penting. Padahal sebenarnya bisa saja ia menyuruh ajudannya untuk membeli yang lebih bagus di sentra batik terdekat. Tapi sayang, pencitraan bukanlah keahliannya dan bidang yang ia minati.
Pribadinya yang pendiam membuat banyak orang berspekulasi. Para selebtwit yang terbiasa berbicara galau tapi mendadak bicara politik di twitter pun tak jarang membuat banyolan soal Boediono. Ke mana wapres kita? Kerjaan wapres kita apa saja? Wapres kita kerja atau tidak? Begitulah kira-kira apa yang saya lihat sebelum akhirnya acara Mata Najwa mengundangnya. 
Sebagai manusia yang lebih tua dari para selebtwit tersebut, ia memilih untuk diam daripada menanggapi anak-anak muda yang sok tahu. Umumnya setiap manusia membutuhkan pengakuan, tapi Pak Boediono tak membutuhkan pengakuan bahwa ia sedang dan telah bekerja keras untuk rakyat. Umumnya manusia akan perhitungan dan minta dihargai ketika sudah bekerja keras, tapi Pak Boediono memilih diam tanpa perhitungan dan minta dihargai sedikit pun.
Terlepas dari segala masalah yang menyangkut namanya– seperti Bank Century dan 17 Langkah Atasi Kemacetan yang belum direalisasikan sampai sekarang, Boediono tetaplah orang biasa yang sudah mengemban tugas luar biasa. Sampai sekarang saya yakin kalau beliau adalah “korban” dalam arena permainan politik. Beliau mungkin juga sadar akan hal itu. Tapi ia tetap memilih untuk diam. Karena diam adalah bentuk jawaban, perlawanan dan cara bertahan yang sederhana.
Terima kasih, Pak Boediono.

Hormat saya,
Fajar Yulianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s