Hanya Ada Satu Bung Hatta: Mohammad Hatta

BeritaSatu 4 Juli 2014

Ada pemandangan yang berbeda dari debat cawapres 29 Juni lalu. Selain untuk pertama kalinya moderatornya adalah seorang perempuan—seorang wakil rektor Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, suporter dari kedua kubu sangat heboh meneriakkan yel-yelnya. Baik dari kubu nomor 1 maupun nomor 2, suara suporter keduanya sama-sama terdengar bising luar biasa.

Ada satu hal yang paling mencolok dari yel-yel dalam debat tersebut. Adalah kata “Bung Hatta!” yang selalu diteriakkan ketika Hatta Rajasa, selaku cawapres nomor urut 1, selesai memberikan jawaban atau pernyataan.

Tak ada yang salah dari penempatan kata “Bung” dalam nama Hatta. Tapi jika kata “Bung Hatta” dipakai untuk disandingkan dengan salah satu pendiri bangsa, Mohammad Hatta, sangatlah jauh dari gambaran sosok yang pernah diasingkan ke Banda Neira ini.

Untuk itu, mari kita bahas sosok Bung Hatta secara sederhana. Mohammad Hatta adalah pribadi yang sangat sederhana, tulus dan relijius. Pada masa pembuangannya ke Digul, misalnya. Ia memilih untuk tidak bekerjasama dengan penguasa tanah setempat, salah satunya dalam pemberantasan malaria. Padahal ia akan mendapatkan bayaran sebesar f 7,5 per bulan—lebih besar dari bayaran yang ia dapat, f 2,5 per bulan.

Keterbatasan materi tersebut tidak membuat Hatta ingin memakainya untuk kepentingan pribadi. Penghasilan yang di antaranya didapat dari honor menulis artikel tersebut juga dipakai untuk membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan. Bahkan ia dengan senang hati ikut bercocok tanam serta mengajar para tahanan lainnya.

Bung Hatta adalah orang yang memiliki komitmen kuat. Ia hanya ingin menikah ketika Indonesia sudah berdiri menjadi negara yang merdeka. Ia baru menikah dengan Ibu Rahmi pada tanggal 18 November 1945. Yang menarik, mas kawin yang diberikan Hatta adalah buku Alam Pikiran Yunani, yang ia tulis semasa pembungannya di Banda Neira. Bukan emas berlian seperti orang-orang pada umumnya.

Ketika ia sudah tidak lagi menjadi pejabat (1950), ia pernah menolak tawaran menjadi komisaris beberapa perusahaan yang di antaranya milik Belanda. Padahal ia bisa menghabiskan masa tuanya dengan tenang jika menerima tawaran tersebut. Tapi Hatta bukanlah seorang oportunis, ia tetap menjadi pribadi yang sederhana meskipun namanya sudah besar di berbagai kalangan. Ia tetap kukuh dengan idealismenya, seperti yang ditulis oleh Dr. Deliar Noer dalam Mohammad Hatta – Hati Nurani Rakyat, dengan berkata “apa kata rakyat nanti?”—jika ia menerima kemewahan yang bisa didapatkan dengan “cuma-cuma”.

Sepatu Bally

Kebanyakan dari kita mungkin sudah sering mendengar kisah legendaris ini. Ketika ia masih menjabat sebagai wakil presiden, tepatnya pada tahun 1950 -an, ada sebuah kebijakan yang memotong ORI (Oeang Republik Indonesia) dari yang awalnya 100 menjadi 1. Hal ini membuat Ibu Rahmi tidak bisa membeli mesin jahit yang ia impikan sejak lama. “Kita mencoba menabung lagi, ya?” kata Hatta kepada Ibu Rahmi. Ia menyuruhnya untuk menjaga diri dan merahasiakan hal tersebut dari publik.

Singkat cerita, karena uang tabungannya tidak cukup, Hatta hanya bisa menggunting gambar sepatu impiannya dan diselipkan di buku hariannya. Hatta lebih menggunakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu orang lain. Ia memang sudah terbiasa mengesampingkan urusan sendiri sejak muda. Padahal ia bisa saja memanfaatkan kekuatannya sebagai orang nomor 2 di Indonesia untuk membeli sepatu tersebut. Tapi Hatta tetaplah Hatta; penuh kesederhanaan, tulus dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Membuat Figur Bung Hatta Baru

Nama “Bung Hatta” diteriak-teriakkan kembali pada debat cawapres lalu. Tidak ada yang salah dengan nama tersebut, asal figure yang diteriakkan tidak dikait-kaitkan dengan tokoh proklamator Republik Indonesia.

Dalam istilah pemasaran produk, citra baik sebuah produk memang sangat diperlukan. Untuk mudah diingat oleh konsumen dibutuhkan nama yang bagus. Sangat disayangkan jika nama Bung Hatta dipakai semata-mata hanya sebagai pendongkrak suara.

Kalaupun ingin menyandingkannya dengan Mohammad Hatta, Bung Hatta yang baru paling tidak memiliki kesamaan dengan Bung Hatta terdahulu. Pertama, Bung Hatta yang tulus ikhlas dalam mengabdikan dirinya kepada Indonesia. Kedua, sederhana. Ketiga, tidak pernah memanfaatkan nama besarnya untuk kepentingan pribadi, kelompok, maupun keluarganya sekalipun.

Lantas, apakah Hatta Rajasa pantas disandingkan dengan salah satu dari pendiri bangsa ini? Ada bisa menilainya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s