Kampanye Cerdas dengan Literasi Media

Pemilu pada tahun 2014 ini terbilang berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Kampanye secara online menjadi salah satu cara mereka untuk menarik simpati masyarakat. Indonesia adalah salah satu konsumen media sosial terbesar di dunia. Media sosial twitter, misalnya. Menurut perhitungan Semiocast tahuun 2013, Indonesia menduduki peringkat 3 di bawah Amerika Serikat di peringkat satu dan Jepang di peringkat kedua. Indonesia memasok 6,5% pengguna dan 1 miliar kicauan. Tentunya ini bisa dijadikan titik penting dalam membentuk citra para capres-cawapres.
Masing-masing pendukung capres-cawapres akhir-akhir ini semakin gencar berkampanye. Isu-isu yang dilemparkan sangat beragam. Namun tidak semuanya bisa kita jadikan acuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang benar.
Dalam Ilmu Komunikasi, ada istilah Literasi Media—atau istilah awamnya melek media. Yaitu menyaring terlebih dahulu isi pesan yang disampaikan oleh media sebelum dijadikan acuan dalam mengambil keputusan. Literasi media sangat penting bagi orang-orang yang ingin menyebarkan pesan kampanye di sosial media. Mengapa? Agar materi kampanye yang dilemparkan ke media sosial adalah fakta yang valid dan bersih dari unsur fitnah.
Ada 3 langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk literasi media. Pertama, menganalisis isi pesan. Dalam hal ini konsumen media harus jeli dalam menganalisa isi pesan. Fakta-fakta yang ada dalam pesan setidaknya harus dikaji ulang dengan cara mencari info yang sama dari sumber lain. Sumber informasi di internet sangatlah banyak. Dari sini kita akan menemukan berbagai macam informasi baru sebagai tambahan.
Kedua, menilai isi pesan. Setelah mencari info lain dari berbagai macam sumber, tentu kita bisa menilai apakah pesan yang disampaikan benar atau tidak? Fakta yang dijabarkan valid atau tidak? Informasi yang terkandung dalam berita tersebut berimbang atau tidak? Dengan demikian kita bisa tahu isi pesan tersebut memihak pada kebenaran atau hanya punya latar belakang kepentingan pribadi.
Ketiga, pengelompokkan. Sesudah menganalisa dan menilai isi pesan, kita secara otomatis bisa mengatahui informasi mana yang benar. Selain itu kita juga bisa tahu sumber informasi mana yang bisa dijadikan pegangan ketika kita hendak menyebar materi kampanye capres-cawapres yang kita dukung.
Kampanye cerdas adalah kampanye yang tidak menjatuhkan lawan dengan menyebar isu fitnah. Masih ada waktu bagi kita untuk memilah informasi sebelum menentukan pilihan. Dengan literasi media kita bisa memilah-milah siapa yang pantas menjadi pemimpin republik ini 5 tahun ke depan. Selain itu, keterlibatan politik masyarakat non-partisan akan terlihat lebih kritis.
Indonesia adalah negara demokrasi; di mana kekuasaan tertinggi ada pada tangan rakyat.

Plato pernah berpesan bahwa ganjaran yang akan kita dapatkan jika kita acuh pada politik adalah diatur oleh bawahan-bawahan kita sendiri

Maka dari itu diperlukan pengawasan ketat dalam proses demokrasi; dengan literasi media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s