Menolaklah Untuk Lupa Sebelum Lupa Itu Dilarang

Sebenarnya ada keinginan untuk tidak datang ke Aksi Kamisan yang ke- 354 (8/6/2014). Cuaca hari ini mendung, enaknya dibuat tidur. Teman kantor saya juga tidak bisa menemani saya di sana.

Jam 3 sore tadi saya memutuskan untuk pergi ke Stasiun Bekasi menuju Stasiun Juanda untuk mengikuti Aksi Kamisan ke- 354. Saya datang telat dan hanya 15 menit berada di sana.

Ini adalah kali pertama saya bergabung dalam aksi yang menuntut presiden untuk mengusut kasus HAM yang sudah lama terjadi. Buru-buru saya menghampiri Om Lieus Sungkharisma– koordinator Aksi Kamisan yang saya tahu namanya setelah menandatangani sesuatu di hadapan saya.

“Ini acara sampai jam berapa, Om?”

“Kita di sini sampai jam 5,” kata Om Lieus sangat hangat sambil tersenyum seperti sudah mengenal saya sejak lahir.

Beberapa saat setelahnya, datang seorang anak perempuan mebawa lembaran besar yang dilipat rapih berwarna putih. Keringatnya mengucur deras dan nafasnya terengah-engah ketika Om Lieus menanyakan sesuatu kepadanya.

Lipatan putih itu digelar di pinggir jalan (seberang Istana Negara). Saya pikir itu adalah semacam spanduk yang biasa dipakai para pengunjuk rasa bayaran, yang pernah saya lihat di Kejaksaan Agung. Ternyata itu adalah semacam surat raksasa yang ditujukan untuk Susilo Bambang Yudhoyono, calon mantan presiden RI ke- 6.

Inti tulisan tersebut adalah di antaranya menuntut Komnas HAM untuk memanggil Kivlan Zein sebagai orang yang katanya tahu betul lokasi penyekapan dan penyiksaan aktivis yang hilang di era Orba.

Om Lieus menjadi orang pertama yang menandatangani surat tersebut. Disusul beberapa orang perempuan yang satu di antaranya saya kenal. Dia adalah Ibu Sumarsih, Ibunda Wawan; mahasiswa yang tertembak dalam tragedi Semanggi II.

“Ayo kamu ikut isi, kalau perlu di samping nama SBY,” kata Om Lieus sambil memberikan saya spidol besar berwarna hitam. “Kita lihat, dia (presiden) tetap jadi budak atau tidak,” lanjut Om Lieus. Bergetar hati saya.

eb1e9-kamisan-354
**

Banyak orang yang menganggap isu HAM hanya isu 5 tahunan. Dengan seenak udelnya mereka menganggap orang-orang yang menuntut keadilan di Aksi Kamisan sebagai orang yang susah move on dari masa lalu. Padahal aksi Kamisan sudah ada sejak hari Kamis, tanggal 18 Januari 2007.

Perlu kita akui bahwa negara ini sangat hebat; seorang pelanggar HAM bisa melenggang begitu saja menjadi calon presiden RI yang ke- 7.

Sesekali setiap hari Kamis Anda harus ke depan Istana Negara. Lalu perhatikan segala hal yang mereka lakukan; seperti yang Ibu Sumarsih lakukan untuk almarhum anaknya yang tertembak, seperti mereka yang diculik anggota keluarganya lalu hilang entah ke mana. Kehilangan akan selamanya terasa meskipun kita mencoba melupakannya dengan tidur sepanjang siang-malam. Maka, menolaklah untuk lupa sebelum lupa itu dilarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s