Karnaval Untuk Politisi yang Kurang Pinik

Saya masih terbayang ketika sahabat saya, Yoyon, tentang awal mula tiba-tiba ia menjadi ketua osis. Ia hanya ditunjuk secara asal-asalan oleh teman-teman sekelasnya.

Yoyon dan kandidat lainnya berkampanye di lapangan seusai upacara bendera. Saya lupa ide dan gagasan yang ia tawarkan untuk menjadi ketua OSIS, tapi yang jelas apa yang ditawarkan para kandidat (termasuk Yoyon yang akhirnya sukses menjadi ketua OSIS kala itu) sama sekali tidak membuat saya yakin. Padahal beberapa di antara mereka sudah berorasi dengan menggebu-gebu.

Teman-teman saya yang menjadi kandidat ketua OSIS saja tidak bisa meyakinkan saya untuk memilih mereka, bagaimana dengan pemilu saat ini?

Menjelang pemilu caleg 2014, banyak orang beramai-ramai memakai atribut partai dengan berbagai macam bentuk dan warna. Bentuk kampanyenya pun bermacam-macam. Ada yang menunggang kuda. Ada yang menunggangi pedangdut dengan baju jaring-jaring ala Mulan Kwok. Ada juga yang arak-arakan sepanjang jalan– yang sebenarnya sangat merisihkan dan tidak jelas tujuannya.

Kawan saya, Bhe– yang saat ini sedang dicurigai mempunyai kelainan orientasi seksual, menganggap kampanye politik hari ini seperti karnaval, dan para politisi yang menjadi pusat perhatiannya. Memang benar, kali ini kita seperti disuguhi acara lawak kebanci-bancian yang tujuannya tidak jelas. Tidak edukatif, dan selera artistiknya sangat rendah.

Lihat saja pohon-pohon dan tiang listrik di jalanan. Atribut kampanye yang ada layaknya parasit murahan yang sebenarnya bisa kita musnahkan dengan tangan kita sendiri. Jelas-jelas ini telah mencederai peraturan KPU No. 1 Tahun 2014 soal atribut kampanye yang tidak boleh di pasang di pohon, tiang listri, tiang telepon dan sebagainya.

Inikah gambaran para pemimpin kita untuk 5 tahun yang akan datang? Padahal banyak di antara mereka yang memiliki banyak gelar di namanya. Menyedihkan sekali, kan? Ternyata gelar yang didapat oleh sebagaian saudara-saudara kita itu sama sekali tidak mencerminkan integritas.

Majalah Tempo edisi minggu ketiga bulan Maret merilis daftar caleg yang benar-benar berintegritas. Dari ribuan caleg, hanya ada 11 orang yang dikategorikan “orang baik”. Padahal, dalam DPR ada 560 kursi yang nantinya akan diisi oleh para awak kapal yang membawa negeri itu untuk 5 tahun yang akan datang. Maka tak usah heran jika hari ini masih banyak yang menggunakan cara-cara ajaib seperti itu.

Di beberapa tempat bahkan ada yang menyewa jasa penyanyi dangdut erotis. Beberapa di antaranya malah tertangkap kamera sedang melakukan adegan doggy style dengan para tim hore partai.

Sutan Bhatoegana pun juga tak luput dari kamera. Ia terlihat seperti juragan ikan lele yang kaya raya nan cerdas, saat membagikan uang kepada simpatisan yang belum tentu akan mendukungnya sebagai anggota legislatif. Ngeri-ngeri sedap, bukan?

Perlu Anda ketahui bahwa dalam politik sudah seharusnya yang dipertarungkan adalah ide dan gagasan, bukan imingan uang. Bagaimana bisa membentuk Indonesia yang kuat jika wakil rakyatnya masih kurang piknik?

– Fajar Yulianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s