Tri Rismaharini Melawan Realita

Teringat cerita Tintin episode King Ottokar’s Scepter, saat di mana Raja Muskar XII, penguasa Syldavian, merasa bahwa kedaulatan negaranya sedang terancam. Pada saat itu belum terhembus kabar isu pencurian tongkat leluhur raja Ottokar, yang merupakan salah satu simbol kedaulatan rakyat. Tongkat itu sangat penting karena harus ditampilkan pada saat perayaan Hari Vladimir.

Dan ternyata memang benar adanya. Komplotan fasis berencana untuk mencuri tongkat dan memaksa raja untuk membatalkan upacara tradisional, yang akan menciptakan ketidakstabilan politik. Kolonel Boris menjadi salah satu yang sangat sentral dalam usaha pencurian tongkat leluhur itu. Ia menggunakan posisinya sebagai orang yang dipercaya Raja Muskar XII untuk menghalau aksi Tintin dalam membocorkan aksi jahatnya.

Singkat cerita, berbagai cara dilakukan oleh Kolonel Boris bersama para anak buahnya untuk membunuh Tintin. Namun akhirnya, tongkat yang tadinya berhasil dicuri mampu direbut kembali oleh Tintin. Kemudia Snowy—anjing Tintin—menyerahkan tongkat tersebut dengan gagahnya.

Lupakan sejenak soal komplotan fasis yang mau menjatuhkan Syldavian. Garis besar cerita tersebut hampir mirip dengan apa yang sedang terjadi di Surabaya. Di sini, Tri Rismaharini sebagai Raja Muskar XII. Sedangkan Kolonel Boris dan kawan-kawan adalah oknum-oknum—yang sampai ini belum dikenal wajahnya—yang mau menjatuhkan Tri Rismaharini dan kebesaran Surabaya.

Rasa pasrah yang mulai diutarakannya kepada media akhir-akhir ini menandakan ada yang tidak beres. Iklim politik di Surabaya jelas menjadi sebuah permainan oknum-oknum tertentu. Perihal tidak datangnya Ibu Risma dalam acara pelantikan wakil wali kota Surabaya menimbulkan banyak asumsi. Padahal, seperti yang dipublikasikan majalah Tempo edisi #SaveRisma, Risma mengaku sakit. Sebuah alasan yang patut dimaklumi—mengingat gaya bekerjanya yang sangat “hiperaktif”.

Pelantikan wakil wali kota Wisnu Sakti Buana memang penuh kontroversi. Risma tidak diikutsertakan dalam menentukan wakilnya. Seperti yang ditulis majalah Tempo edisi #SaveRisma, dugaan politik uang muncul dalam pemilihannya. Terlebih ada dugaan pemalsuan tanda tangan dalam proses administrasi pemilihan wakil wali kota tersebut.

Risma tidak hanya dihadapkan oleh masalah pemilihan wakil wali kota saja. Penolakan keras Risma terhadap pembagunan toll sepanjang 25 KM juga membuat iklim politik semakin memanas. Seperti yang sering dikutip oleh banyak media, Risma menolaknya karena ia lebih memprioritaskan transportasi massal. Bahkan ia juga berencana membangun monorel. Selain itu, aksi Risma yang menaikkan pajak reklame juga membuat diisukan Risma semakin menjadi bulan-bulanan politisi dari PDI-P.

Risma Melawan Realita

Di Indonesia, realita yang ada saat ini adalah; ketika ada orang yang hendak menerapkan disiplin, justru tidak disukai oleh banyak orang. Dalam tata krama berlalu lintas, misalnya. Tidak sedikit pengendara kendaraan bermotor yang memprotes pengendara lainnya, jika membiarkan zebra cross terlihat kosong. Atau pengenedara motor yang terbiasa melewati trotoar dengan seenaknya, lalu memarahi pejalan kaki yang menghalangi laju motornya di trotoar—yang merupakan hak dari para pejalan kaki.

Begitulah kiranya yang dirasakan Risma. Secara kasat mata, seolah ia dihadapkan oleh sekumpulan manusia yang hanya mementingkan kepentingan golongan. Ia disikut sana-sini, bahkan ia pernah diancam ingin dibunuh. Ia juga sudah sering mengatakan kepada media bahwa ia sudah ikhlas mati karena pengabdiannya—yang dianggap menganggu.

Hari ini, kita disuguhi kisah klasik nan kolot. Ketika seseorang terpilih menjadi pejabat publik, lalu memilih untuk melempar warna partainya dan mengabdi kepada rakyat, justru dianggap mencederai loyalitas terhadap partai politik. Di sini, Ibu Risma telah melakukan tugasnya dengan sangat amat baik. Ia benar-benar tidak memikirkan warna partainya untuk mengabdi kepada rakyat. Namun ada sekumpulan orang yang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Risma adalah dosa besar. Maka dari itu berbagai macam cara dilakukan untuk menggulingkan Risma. Kasus Kebun Binatang Surabaya, misalnya. Sebuah perkara yang tidak wajar jika hampir setiap bulan ada saja satwa yang mati—setelah sehari sebelumnya sehat-sehat saja.

Tri Rismaharini adalah sosok sentral dalam kemajuan Surabaya hingga kancah Internasional. Taman Bungkul pernah mendapatkan The 2013 Asian Townscape Award (ATA) dari PBB.  Dan masih banyak lagi penghargaan Tri Rismaharini hingga kancah internasional.

Pengangkatan Wisnu sebagai wakil wali kota hanyalah bentuk pemuasan libido kekuasaan yang sudah terlanjur kencang. Rakyat harus mendukung penuh Risma untuk terus memimpin Surabaya. Peran rakyat sangat kuat karena Surabaya bukanlah milik segelintir kaum yang haus kekuasaan. Karena rasa memiliki akan kota Surabaya dari rakyat yang memilih Risma sangatlah besar.

Rakyat bisa melakukan apapun untuk mendukung Risma. Sudah saatnya masyrakat merubah persepsi bahwa politik merupakan sesuatu yang mutlak buruk. Dan berhenti mendiamkan sesuatu yang sebenarnya pantas untuk diperjuangkan.

Dalam demokrasi, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Ibu Risma berada dipihak yang kuat, karena dibentengi oleh rakyat. Dan rakyat cukup cerdas bahwa apa yang dilakukan oknum—yang ingin menjatuhkan Risma—sudah bertentangan dengan mimpi-mimpi Risma. Yaitu membangun kota Surabaya agar tidak kalah dengan negara maju lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s