Merubah Persepsi Untuk Melawan Korupsi

Korupsi, sebuah kata yang hari ini menempel pada jidat para politisi di Indonesia. Banyaknya politisi yang tersandung kasus korupsi membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berkurang drastis. Sebut saja Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh dan Atut Chosiah. Mereka semua adalah politisi yang memiliki peran sebagai penyambung lidah rakyat. Terlebih Atut Chosiah, ia adalah gubernur Banten yang berpredikat sebagai gubernur wanita pertama di Indonesia. Namun ia justru menjadi tersangka kasus pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten.

Korupsi adalah tindak penyalahgunaan hak orang banyak, yang dilakukan untuk kepentingan pribadi dan melanggar nilai dan norma hukum yang ada. Pada tahun 2013 lalu, Transparency International (TI) merilis daftar situasi negara terkorup di dunia. Berdasarkan Corruption Perception Index (CPI) yang dirilis TI, Indonesia menduduki peringkat ke- 114 negara paling korup di dunia dengan skor 32 (index nilainya: semakin kecil skornya, semakin besar kasus korupsi yang ada di suatu negara). Denmark menjadi negara dengan tingkat korupsi paling rendah dengan skor 91, diikuti oleh Finlandia di ururan kedua dengan skor yang sama. Singapura menempati urutan kelima dengan skor 86.

Sektor pendidikan adalah salah satu sektor paling renyah bagi para oknum di yang mengurus tetek bengek pendidikan di Indonesia. Dalam satu dasawarsa terakhir (2003-2013), kasus korupsi di sektor pendidikan sudah merugikan negara sebanyak Rp 619 miliar. Ada 296 kasus dengan 479 tersangka. Angka tersebut menunjukan bahwa jumlah tersangka lebih banyak daripada jumlah kasus. Ini artinya, ada banyak orang yang mengendalikan rantai uang haram tersebut.

Padahal pendidikan adalah hal terpenting dalam pembangunan bangsa. Tengoklah Indonesia saat ini. Mengapa Indonesia mengimpor garam di saat sekeliling kita adalah lautan? Mengapa Indonesia mengimpor singkong di saat nenek kita masih menamam singkong diladangnya? Karena manusia Indonesia belum memiliki kapasitas untuk memproduksi barang mentah menjadi barang jadi secara mandiri. Dan yang menjadi indikator dari kasus tersebut adalah kualitas pendidikan Indonesia. Sekedar info, 53% masyarakat Indonesia hanya lulusan SD. Dari 250 juta orang Indonesia, separuh lebihnya masih lulusan SD. Apa yang menyebabkan pendidikan Indonesia tidak merata? Tanya saja pada 479 orang tolol yang ditangkap KPK.

Mengubah Persepsi dari Sekarang

Hari ini persepsi masyarakat terhadap politisi sangatlah negatif. Tidak sedikit orang tua yang melarang anaknya untuk mengerti atau terjun ke dunia politik, karena banyaknya kasus korupsi di Indonesia. Padahal, pada dasarnya kebijakan yang selama ini kita semua rasakan berasal dari kegiatan politik.

Salah satu penyebab mengapa kepercayaan masyarakat Indonesia menurun adalah pemberitaan media. Media pada hari ini terkesan menitikberatkan pemberitaan pada politisi yang tersandung kasus korupsi, bukan bagaimana hebatnya orang-orang di KPK berani menumpas kasus korupsi itu sendiri.

Sebagai contoh kecil adalah apa yang terjadi pada Anas Urbaningrum beberapa waktu lalu. Ketika ia resmi ditahan KPK, media terkesan terlalu menyorot Anas Urbaningrum sebagai politisi yang menjadi tersangka korupsi. Bukan bagaimana akhirnya KPK berani menetapkannya sebagai tersangka– meskipun sudah ada wacana sejak satu tahun sebelumnya. Dengan demikian masyarakat menganggap politik sebagai dunia yang kotor. Dan diisi oleh orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya semata.

Padahal, media boleh saja menyudutkan Anas sebagai tersangka, namun tetap saja media harus mengambil peran dalam menyebarkan semangat perlawanan korupsi kepada masyarakat Indonesia. Tujuannya adalah untuk menggerakkan dan membuat masyarakat optimis bahwa harapan Indonesia yang bersih dari korupsi masih ada.

Lantas, sebagai anak muda, apa yang bisa kita lakukan untuk memerangi korupsi?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk turun tangan memerangi korupsi. Salah satunya adalah dengan membuat jurnal perkembangan kasus korupsi yang ada saat ini. Tentunya, pada saat menulis, dibutuhkan gaya penulisan yang berbeda dari berita-berita yang telah ada saat ini. Selama ini media lebih cenderung menyudutkan politisi yang tersandung kasus korupsi. Maka dari itu pada saat menulisnya harus memikirkan proporsi yang seimbang– antara politisi yang tersandung kasus korupsi, kinerja KPK dan penyampaian pesan untuk sama-sama memerangi korupsi.

Sebagai contoh, ketika kasus Anas Urbaningrum. Memang benar, Anas sebagai politisi ditetapkan sebagai tersangka. Namun bukan berarti kita harus menjelek-jelekkan Anas sebagai politisi, bukan? Jika telah ditetapkan menjadi tersangka, jelas sangat besar kemungkinan Anas sebagai pelaku korupsi– dari ranah politik. Format tulisan bisa dibelokkan ke beberapa hal. Pertama, dalam tulisan tersebut jangan hanya menyudutkan Anas sebagai politisi seperti yang digambarkan banyak orang. Anas harus ditetapkan sebagai oknum dari ranah politik yang menjadi tersangka. Kedua, menempatan pesan bahwa KPK untuk kesekian kalinya telah berhasil menangkap koruptor. Jangan dianggap berita penangkapan korupsi sebagai bencana, tapi anggaplah sebagai kabar gembira. Ketiga, mengajak orang-orang untuk ikut mendukung KPK sebagai lembaga independen yang memberantas korupsi. Korupsi bukan semata-mata urusan KPK, tapi juga urusan seluruh masyarakat Indonesia. Fungsi rakyat dalam demokrasi adalah sebagai pemantau kinerja pelayan publik. Jika ada hal yang mengindikasikan praktek korupsi, laporkan ke KPK.

Dengan demikian akan ada banyak orang yang sadar bahwa politik bukanlah rumah para mafia– yang siap menggerogoti perut rakyat secara perlahan.

Untuk menyebarkan semangat antikorupsi tersebut tentunya dibutuhkan energi yang tidak sedikit. Untuk melipatgandakan kekuatan, perlu diadakannya sosialisasi tentang nilai antikorupsi itu sendiri dan bagaimana cara anak muda untuk memeranginya. Harus ada edukasi soal antikorupsi sejak dini untuk memperkecil kemungkinan terproduksinya generasi berperilaku korup.

Mengapa harus sekolah? Karena lewat jalur pendidikanlah segala macam karakter tertanam. Jika ingin mencegah gulma, berantas dulu gulma yang sudah ada sampai akar-akarnya. Lalu diberi faksin agar gulma tersebut tidak tumbuh lagi. Di sini, KPK sebagai orang-orang yang memberantas gulma-gulma tersebut hingga ke akar-akarnya. Perangkat yang menjalankan sistem pendidikan menjadi orang yang memberi faksin agar tidak ada lagi gulma-gulma yang mengganggu.

Pembelajaran Antikorupsi Sejak Dini

Ada banyak pilihan dalam menyampaikan kampanye antikorupsi di sekolah. Salah satunya adalah seminar antikorupsi. Seminar tersebut tentunya harus dikemas menarik agar mampu dilahap oleh para siswa.

Poin-poin yang harus dijabarkan dalam seminar itu antara lain sosialisasi singkat tentang politik. Mengapa harus politik? Karena politik sudah dianggap barang menjijikkan oleh sebagian anak muda. Secara garis besar, edukasi politik sangat penting karena dari sanalah kebijakan-kebijakan yang mengatur kita bermuara. Kalau anak muda terbaik sudah enggan untuk menjadi politisi, lantas siapa yang akan memimpin bangsa ini?

Kemudian harus ada pelatihan singkat tentang berbuat jujur dan tidak mengambil hak orang lain. Sebagai contoh, pada saat perencanaan pendanaan acara OSIS. Kemudian para siswa diajak untuk belajar menghormati hak orang lain. Dari hal-hal yang sederhana, misalnya memahami hak pejalan kaki. Karena masih banyaknya orang yang sering mengendarai motor di trotoar membuat pejalan kaki tidak memiliki tempat yang aman dan nyaman. Hal-hal sederhana seperti itu harus ditanamkan dari sekarang, karena hal-hal kecil seperti itulah yang akan menjadi masalah besar di kemudian hari.

Dengan demikian orang-orang– khususnya anak muda– mulai tersadar bahwa korupsi bukan suatu perbuatan yang patut untuk dibenci dan dijauhi. Tapi juga perbuatan yang harus dilawan bersama-sama. 479 orang tersangka kasus korupsi di bidang pendidikan bukanlah masalah besar jika kita mau bersama-sama memeranginya.

Jika semua elemen bersinergi, kelak akan lahir generasi baru yang memilih untuk berhenti mendiamkan. Dan mulai turun tangan bersama-sama untuk menciptakan Indonesia bersih dari korupsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s