Manusia dan Pencitraan

Juga dipublikasikan di Berita Satu
Dalam hidup, manusia tidak bisa dipisahkan dengan aktivitas pencitraan. Tanpa kita sadari, setiap aktivitas yang kita lakukan mengandung unsur pencitraan di dalamnya. Dalam ilmu komunikasi, tidak berkomunikasi sama dengan berkomunikasi. Ketika orang yang lebih cenderung diam dalam menjalani aktivitasnya, berarti bisa diartikan bahwa orang tersebut adalah pendiam.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, citra adalah sebagai berikut:

– rupa; gambar; gambaran;
– gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk;
– kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas, karya prosa dan puisi;

Citraan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna, cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu; kesan atau gambaran visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas, karya prosa dan puisi.

Pencitraan sudah dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu. Seiring berkembangnya waktu, ada banyak makna dan tujuan dari aktivitas pencitraan yang dilakukan oleh manusia. Para pemimpin suku, dalam mempertahankan kepercayaan pengikutnya terhadap dirinya, kerap menggunakan simbol-simbol dan kekuatan magis dalam memimpin mereka.

Pencitraan memiliki pengaruh besar dengan derajat seseorang. Bangsawan Jawa pada zaman dahulu, memiliki tata krama yang cukup kental terhadap hubungan antar yang muda dengan yang tua, dan dengan sesama pemuda. Dalam berbicara dengan seseorang yang lebih tua atau yang berpangkat tinggi pun juga tidak sembarangan. Masyarakat Jawa harus memakai bahasa Jawa halus atau kromo Inggil.

Beberapa kerabat dekat Raden Mas Adipati Sosroningrat menganggap bahwa ia tidak mampu mendidik Kartini dengan baik. Kartini kecil sangatlah cerewet. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Selain itu ia juga sering lari ke sana kemari, dan tertawa terbahak-bahak hingga memperlihatkan gigi. Ini dianggap merusak citra budaya Jawa dan Ayahnya sebagai bangsawan.

Inilah yang membuat RA Kartini memberontak terhadap feodalisme yang membuatnya tidak leluasa dalam menjalani aktivitas dan perjuangannya. Dalam suratnya kepada Estelle Zeehandelaar– atau yang akrab disapa Kartini sebagai Stella, ia justru meminta untuk dipanggil Kartini saja. Karena menurut Kartini, orang Jawa tidak punya nama keluarga, dan nama kartini adalah nama keluarga sekaligus nama kecilnya.

Pencitraan juga memiliki pengaruh besar dalam mendapatkan kekuasaan. Beberapa tahun kemudian, jauh setelah setelah RA Kartini meninggal (17 September 1904), muncul seorang tokoh penggerak semangat rakyat bernama Soekarno. Bung Karno adalah sosok pemberani. Jika berbicara berapi-api dan terkesan tidak ada rasa takut sekalipun. Semangatnya yang berapi-api membuatnya mampu menggerakkan massa untuk bersatu.

Namun Bung Karno tetaplah manusia. Dalam bukunya yang berjudul Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa (1902-1980) (2000), Dr. Deliar Noer menjelaskan bahwa ketika DPR dibubarkan karena menolak rancangan pembelanjaannya, ia membentuk DPR-Gotong Royong. Ia juga mengangkat para hakim agung dan menteri untuk duduk di MPR-Gotong Royong. Dan diangkatlah Bung Karno menjadi presiden “seumur hidup”. Inilah yang dinilai Bung Hatta bahwa Soekarno sudah mengarah kepada penguasaan tunggal, dan ini adalah faktor utama yang mengakibatkan keduanya sempat berselisih. Hebatnya, perselisihan mereka tidak membuat mereka bermusuhan. Mereka bertemu terakhir kalinya saat beberapa waktu sebelum Soekarno meninggal—di mana Hatta memegang lembut tangan Soekarno.

Meski begitu, Ir. Soekarno adalah salah satu cerminan semangat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Semangatnya perjuangannya dalam memperjuangkan tanah air patut dijadikan bahan bakar untuk para pemuda di masa kini.

Di era Orde Baru pun juga demikian. Peristiwa G30S yang ada di buku sejarah anak sekolahan, dibuat sedemikian rupa untuk membuat rakyat Indonesia benci terhadap PKI. Dan tentu saja agar rezim yang akan berkuasa mendapatkan simpati rakyat. Padahal, setelah para jendral diculik dan dibunuh pada 1 Oktober 1965, terjadi pembunuhan massal yang dilakukan oleh angkatan darat (yang juga meminta bantuan organisasi masyarakat di berbagai daerah) untuk memberantas para relawan dan kader PKI. Bahkan konon katanya, pembunuhan massal ini menjadi yang terbesar kedua setelah Perang Dunia II.

Kekakuan pers pada era Orba juga sangat mempengaruhi citra Soeharto. Keberhasilannya dalam membekukan pers, membuat semua orang tidak tahu keburukan pemerintahannya. Kalimat seperti “Piye kabare, Le? Isih penak jamanku, tho?” merepresentasikan sebagian masyarakat Indonesia merasa bahwa era Orba lebih enak daripada Reformasi. Padahal di era Orba banyak aktivis dan uang triliunan yang hilang secara misterius. Total uang negara yang dikuasai Soeharto adalah sekitar 350 Triliyun dari APBN.

Menjelang pemilu 2014, banyak pemilik media yang bermain di dunia politik melakukan pencitraan. Dari mulai iklan bagi-bagi sembako, hingga pemutarbalikan fakta. Semuanya dirancang untuk mengambil simpati rakyat agar mendapatkan kekuasaan.

Di dunia hiburan juga demikian. Banyak selebriti menebar sensasi demi popularitasnya. Sumpah pocong dan jalan-jalan ke Singapura, misalnya. Para personel JKT48 yang tidak pernah kelihatan galau di sosial media pun juga merupakan salah satu bentuk pencitraan. Bedanya, JKT48 tidak pernah menebar sensasi dengan menantang seseorang untuk sumpah pocong, atau mengganti status sosial medianya agar publik mengira mereka pergi keluar negeri.

Dalam kehidupan sehari-hari pun kita melakukan pencitraan. Di antara kita pasti ada yang rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan ponsel pintar terbaru, dengan diskon besar-besaran, kan? Apalagi sering kali kita lihat banyak orang yang ketika sedang berjalan kaki, kedua tangannya dipenuhi perangkat teknologi super canggih dan mahal. Di tangan kanannya membawa tablet, sedangkan tangan kirinya membawa dua ponsel pintar dari berbagai merk. Memang, tidak semua orang di Indonesia membeli perangkat canggih tersebut hanya untuk sekedar gaya, tapi pada kenyataannya ada pula pengguna yang tidak memiliki pemikiran secanggih teknologi yang mereka miliki. Karena mengikuti tren agar tidak ketinggalan zaman.

Di kalangan anak baru gede pun juga demikian. Tidak sedikit dari mereka yang berfoto ria di salah satu tempat yang prestisnya tinggi, karena memang hanya berniat untuk dianggap gaul oleh orang lain. Menggonta-ganti status sosial media, dan lain sebagainya. Itu juga bagian dari proses pencitraan.

Setiap pencitraan pasti memiliki tujuan. Namun tidak semua orang yang melakukan pencitraan memiliki tujuan yang baik, dan dilakukan dengan cara yang baik pula.

Dan percayalah, ketika saya membagikan tulisan ini kepada Anda di jejaring sosial adalah bagian dari pencitraan.

One Reply to “Manusia dan Pencitraan”

  1. iya, banyak orang rajin mengupdate atau tweet untuk menunjukkan eksistensi mereka, dng kata lain, nggak ngetweet = nggak eksis.

    beda sekali dengan orang jaman dulu yang eksis lewat pemikirannya, seperti Gie. Mereka banyak menulis buku atau karya untuk membagikan pemikiran mereka. Krn seperti kata Descartes: aku berpikir maka aku ada.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s