Tanda Lain Menuju Akhir Zaman

Tulisan saya yang satu ini juga dimuat di rubrik opini Berita Satu.

Dari zaman Bapak saya belum sunat dulu, yang namanya kalimat “kiamat sudah dekat” itu sudah populer di telinga orang-orang. Hingga sekarang pun, kita sering mendengar istilah tersebut. Apalagi ketika tahun 2012 “dinobatkan” sebagai akhir kehidupan dunia, seluruh umat manusia jadi gempar. Semua orang takut mati karena kaimat. Takut mati itu wajar, saya pun juga takut. Tapi nyatanya hari ini, waktu di mana saya menulis ini, sudah tahun 2013. Dan saya masih sehat walafiat serta sempat menulis tulisan ini.

Tanda-tanda kiamat bisa ditandai dengan adanya kehancuran akal sehat manusia. Akal sehat yang dimaksud umumnya seperti makin banyaknya lelaki separuh perempuan, hubungan sesama jenis, dan lain sebagainya. Namun, terlalu sempit jika kita hanya berpacu pada hal-hal tersebut.

Ini bukan soal konspirasi Yahudi, atau semacamnya. Ini hanya sebuah contoh yang sebenarnya harus kita sadari bersama. Salah satu kehancuran akal sehat manusia yang belum kita sadari sepenuhnya adalah banyaknya pengendara sepeda motor yang seenaknya berjalan di trotoar. Dilihat dari fungsinya, trotoar adalah tempat khusus yang disediakan pejalan kaki agar tertib, aman, dan nyaman. Sebuah kesalahan besar jika kita mengendarai sepeda motor di atas trotoar, namun kita justru marah-marah ketika ada pejalan kaki yang menghalangi laju motor kita.

Entah pengendara motor mana yang pertama kali mencetuskan gerakan “Trotoar Milik Kita Bersama!”, yang menular hingga menjadi sebuah kebiasaan buruk dalam berlalu lintas. Saya telah mengamati berbagai fenomena lalu lintas, khususnya Jabodetabek. Dan kesimpulan yang saya dapat adalah “yang kecil harus mengalah dengan yang besar”. Ini sangat aneh. Ibu dan Bapak saya selalu mengajari saya untuk mengalah dengan adik saya setiap saya berdebat dengan adik saya. Mereka bilang, kalau saya mengalah, bukan berarti saya kalah. Jika saya mengalah dan menerima semuanya dengan lapang dada, maka itu dapat mencerminkan bahwa saya sudah dewasa. Karena seharusnya, yang besar harus mengalah kepada yang lebih kecil.

Saya pikir, ini adalah gejala atau tanda-tanda kiamat yang belum pernah kita sadari. Seakan tidak ada tempat lagi bagi pejalan kaki untuk menjunjung tinggi haknya. Berawal dari bus kota yang tidak mau mengalah dengan mobil lain yang lebih kecil, lalu menular kepada angkot dan mobil pribadi yang saling sikut dengan pengendara motor, sampai pada akhir pengendara motor merampas hak para pejalan kaki.

Lantas kepada siapa kita berharap agar budaya ini ditiadakan? Polisi? Harusnya, sih, kepada mereka. Tapi terkadang saya melihat polisi menyuruh para pengendara motor berjalan di atas trotoar. Alasannya, supaya arus lalu lintas agak lancar. 

Lalu, apakah presiden kita peduli dengan hak para pejalan kaki? Saya yakin beliau peduli, pasti beliau sangat prihatin dengan kondisi ini. Hehe.

Hak pejalan kaki sudah dilindungi oleh pemerintah dalam undang-undang No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas. Dalam pasal 131 ayat 1 disebutkan bahwa “Pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.”. Jika ini belum terlihat penerapannya di lingkungan sekitar kita, maka lagi-lagi penegakan hukum yang tidak berjalan dengan baik menjadi faktor utama. Tidak heran, sih, jika penegakkan hukum kita belum berjalan dengan baik. Mengurusi pejalan kaki aja belum mampu, apalagi mengurusi masalah yang besar lainnya?

Namun, kita juga tidak bisa bermanja-manjaan untuk menunggu agar penegakkan hukum berjalan dengan baik, karena Indonesia bukan hanya milik para penegak hukum. Indonesia itu milik kita semua. Anda dan saya. Maka mulai dari sekarang, berilah kesempatan kepada pejalan kaki agar mereka mendapatkan haknya. Soal macet, menurut saya, kalau semakin sering kita menggunakan trotoar untuk menghindari kemacetan, itu sama saja memperparah kondisi jalanan. Semakin sempit jalanan, semakin sempit ruang untuk bergerak. Sangat tidak lucu jika pejalan kaki ikut-ikutan berhenti terkena macet karena terhalang oleh sepeda motor di depannya.

Tuhan memang sudah menentukan kapan hari kiamat. Dan kita semua pun tidak pernah tahu kapan kiamat akan datang. Jangan sampai ketika tiba di hari pembalasan nanti, anda gagal masuk surga gara-gara dosa anda yang memaki-maki pejalan kaki di trotoar. Jika anda sayang dengan diri anda dan orang-orang sekitar anda, maka kendarailah kendaraan anda di tempat yang semestinya. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s