Genosida?

Waktu itu aku masih kecil. Melafalkan nama Pak Harto pun masih sulit. “Pak Hato”, begitulah aku menyebutnya.

Aku bingung kenapa Bapak menyuruhku berdiam diri di dalam rumah bersama Ibu. Ketika ditanya, Ibu tak pernah membuatku yakin tentang apa yang sedang terjadi di luar sana. Di TV, aku melihat orang-orang berkumpul dan membakar ban-ban besar di tengah jalan. Mobil-mobil dihancurkan. Kayu balok panjang diangkat tinggi-tinggi sambil mnyerukan sesuatu. Sesuatu tentang penuntutan kebebasan.

Mereka berhadapan dengan aparat berseragam dan bersenjatakan lengkap. Helm, lalu sebagian lagi ada yang memakai topi hitam, dan tameng besar menjadi penghias utama busana mereka. Tak lupa dengan senjata api yang siap menembus dan membakar kulit. Mereka siap memukuli atau bahkan menembak mati. Seolah mereka adalah tentara Belanda yang pernah menguasai nusantara selama ratusan tahun. Mereka telah peralat untuk membunuh rakyat mereka sendiri.

Mereka yang mengenakan kaus oblong saja justru lebih beringas. Tatapan mata mereka penuh kelaparan. Gigi mereka siap menerkam mangsanya. Tangan mereka siap memukul siapapun yang menghalanginya. Benda tajam dan tumpul menjadi senjata mereka kala itu. Kaum Tionghoa adalah sasaran mereka. Dagangan dan barang-barang mereka dirampas semena-mena. Tubuh mereka dipukuli sampai mati. Bahkan beberapa perawan ada yang dipaksa menampung berbagai macam bau sperma. Punting susu mereka ada yang diiris dan dipotong. Mereka merasa terusir oleh kaum pribumi. Karena terlalu takut, di antara mereka ada yang sampai menulis di depan toko mereka dengan tulisan “Milik Pribumi” atau “Pro-reformasi”. Di buku bilang, beberapa orang Tionghoa ada yang berpendapat tentang apa yang masyarakat pribumi lakukan adalah sebuah tindakan Genosida. Para kaum mata sipit itu ada yang pergi jauh menyebrang pulau. Itu semua mereka lakukan demi keamanan nyawa mereka sendiri.

Dipicu oleh tewasnya 4 mahasiwa Trisakti. Ditembak oleh negaranya sendiri pada tanggal 12 Mei 1998. Lalu krisis finansial di Asia. Ibuku bilang, Krismon, Krisis Moneter.

Aku yakin, kala itu pasti banyak air mata dan jeritan ketakutan. Aku hanya berharap, kejadian itu adalah yang terakhir. Beruntunglah aku masih kecil waktu itu. Membayangkannya saja aku takut, apalagi harus merasakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s