Wajah Jurnalistik 50 Tahun Yang Akan Datang

Jika kita berbicara tentang jurnalistik, maka perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama bagi perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih. Dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih, maka secara otomatis informasi-informasi dari berbagai belahan dunia manapun akan cepat tersebar luaskan.

Jika kita kembali mengingat apa yang terjadi di masa lalu, jurnalis atau yang biasa disebut pers memiliki peran dan fungsi yang beragam. Seperti halnya ketika era Orde Baru, pada masa itu pers dipolitisasi dan komersialisasi. Di tahun 1973, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang penggabungan seluruh partai politik menjadi  tiga partai. Ketiga partai itu adalah Golkar, PDI, dan PPP. Hal ini membuat hubungan partai politik dengan media massa yang berkaitan dengan pers menjadi terputus sehingga organisasi pers tidak lagi dibiayai oleh partai politik.

Memasuki era 1980-an, pemerintah membuat Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Peraturan ini membuat para jurnalis pada zaman tersebut menjadi sulit untuk memberikan berita-berita kebenaran tentang kondisi politik di Indonesia. Pers yang mengkritik pembangunan dianggap sebagai wujud perlawanan terhadap pemerintah, sehingga pers yang seperti itu bisa dicabut SIUPP-nya. Bahkan banyak sekali berita yang dimanipulasi agar citra pemerintah pada era tersebut dianggap baik oleh rakyat. Wartawan yang sekali-kali mencoba memberitakan kebenaran tak jarang mendapatkan teror dan tak jarang nyawa seorang wartawan atau pemimpin redaksi menjadi taruhannya.

Kita patut bersyukur bahwa pada saat ini kita hidup di era yang bebas. Orang-orang bebas menyuarakan pendapat-pendapatnya. Bahkan dengan berkembanganya teknologi informasi, kita tidak perlu bersusah payah menyuarakan pendapat yang akan kita kemukakan. Banyaknya macam-macam jejaring sosial yang sudah menjadi makanan empuk manusia modern abad ini membuat kita bebas untuk menyuarakan opini kita, seperti halnya facebook, twitter, blog, wordpress, dan tumblr. Cukup membuat akun jejaring sosial tersebut, kita sudah bisa mengekspresikan apa yang ada di dalam diri kita.

Pada saat ini hampir semua surat kabar sudah mempunyai akun-akun jejaring sosialnya masing-masing, seperti facebook dan twitter. Otomatis mereka harus menguasai target pembaca yang semula hanya pada surat kabar pagi hari, menjadi pembaca yang memang doyan online. Dengan menyebar berita yang mereka buat lewat akun facebook atau twitter,  maka para penikmat dunia maya tidak perlu takut ketinggalan informasi terbaru.

Jika memprediksi bagaimana wajah jurnalistik 50 tahun yang akan datang, sangatlah sulit untuk memprediksinya. Tetapi jika hanya meraba-raba dengan apa yang terjadi sekarang ini, bisa saja jika era reformasi masih berlangsung hingga 50 tahun yang akan datang dan perkembangan teknologi yang semakin canggih akan membuat dampak buruk bagi dunia jurnalistik. Dampak negatif tersebut adalah dengan berkembangnya teknologi, otomatis semua orang di dunia ini bisa mengakses segala informasi dengan mudah. Semua orang juga mudah untuk membuat berita yang kebenarannya belum bisa dipertanggung jawabkan. Justru semakin berkembangnya zaman, banyak berita yang dilebih-lebihkan dan terkesan membuat para penikmat berita ikut hanyut dan mengalami tekanan psikologis.

Sebagai contoh ketika sebuah surat kabar atau situs berita online yang mempublikasikan berita tentang kejadian kecelakaan di suatu tempat. Para penulis berita tampaknya lupa dengan etika jurnalistik. Mereka lebih suka menggunakan bahasa yang asal bunyi ketimbang bahasa yang sopan supaya tetap menjaga privasi dan tidak mengganggu kejiwaan seseorang, seperti memberitakan suatu kecelakaan transportasi dengan menyebutkan bentuk fisik korban yang sudah tidak utuh lagi. Dan di luar konteks jurnalis profesional, banyak orang yang membuat berita sendiri tanpa mempertanggung jawabkan kebenaran berita tersebut. Dengan munculnya situs semacam Blogspot atau WordPress, para penggila dunia maya mampu bebas berekspresi dan membuat sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada.
Jika hal ini tak disadari dan ditindak lanjuti dengan cepat, maka bukan tidak mungkin pada era 50 tahun yang akan datang adalah masa kehancuran pada dunia jurnalistik. Kebebasan dalam mengemukakan pendapat tanpa mengacu kepada sebuah norma terhadap sebuah karya atau sesuatu yang dipublikasikan akan membuat pencitraan bangsa yang tidak baik dan bukan tidak mungkin akan timbul sebuah perselisihan atau permusuhan terhadap suatu kelompok yang satu dengan yang lain.

Perkembangan teknologi tidak selamanya akan memberikan pengaruh buruk untuk dunia jurnalistik. Kita telah tahu bahwa saat ini sudah banyak sekali satelit di ruang angkasa. Dengan adanya satelit tersebut kita akan mudah mengetahui kondisi-kondisi belahan dunia lainnya dan mempermudah mendapatkan informasi. Berkembangnya model-model perangkat keras dengan inovasi-inovasi yang selalu diperkaya dengan sistem untuk mempermudah kita bisa cepat mengakses berita terhangat juga pasti akan terus berlanjut hingga 50 tahun yang akan datang.


Globalisasi yang tiada henti membuat organisasi di bidang jurnalistik akan sangat mudah 
menyebar beritanya. Dengan demikian para perusahaan surat kabar harus lebih inovatif dalam mengikuti zaman yang semakin modern, karena mungkin di 50 tahun yang akan datang tidak akan ada lagi yang namanya surat kabar atau koran. Melihat perkembangan teknologi yang tidak terkendali, pasti para produsen perangkat keras semacam handphone mungkin akan melakukan segala upaya untuk menguasai pasar untuk kalangan menengah kebawah. Hal ini akan berakibat pada menurunnya pendapatan para penjual koran. Bisa kita maklumi karena negara kita yang sudah terlanjur dibodohi oleh sistem kapitalisme dunia yang membuat negara berkembang menjadi terus terbuai akan kemajuan teknologi sehingga permintaan akan kebutuhan konsumen terus meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi negara yang minim karena masih “tak terpeliharanya” kaum menengah bawah. Orang-orang dari kaum menengah ke atas lebih suka mengonta-ganti gadget yang telah mereka punya. Secara otomatis, mereka akan kehilangan selera untuk membeli selembar koran karena lebih praktis dan hemat waktu.


Namun jika dampak negatif yang ada sekarang ini justru berubah menjadi ke arah lebih baik, bukan tidak mungkin wajah jurnalistik Indonesia (khususnya) akan menjadi yang terbaik dan mampu menjadi contoh untuk negara lain. Secara kondrati, seorang jurnalis seharusnya memberitakan hal-hal yang baik dan kebenarannya mampu dipertanggung jawabkan. Jika budaya itu dipelihara terus-menerus, maka akan terjadi pergeseran terhadap pemikiran-pemikiran masyarakat Indonesia yang cenderung kotor. Dengan jalur pemikiran yang jernih, maka diharapkan mampu memunculkan generasi muda yang mampu mempimpin bangsa ini dengan baik dan tidak hanya menyerukan janji-janji semata. Dengan mengkondisikan dunia jurnalistik yang jujur dan bersih, diharapkan mampu menguak segala kemunafikan yang ada di negeri ini. Sehingga akan terjalin hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakatnya, dengan pers sebagai perantara penyalur aspirasinya. Pemanfaatan teknologinya pun juga harus diperhatikan, agar tidak ada lagi oknum-oknum yang memeberitakan sesuatu tanpa sebuah kebenaran yang belum atau tidak bisa dipertanggung jawabkan.  


*Gambar: google.com

Info Gak penting nih…
Essay ini yang udah bikin gue jadi finalis di Pekan Jurnalistik Universtias Prof. Dr. Moestopo (Beragama). 
GUE KIRA WAKTU ITU GUE JUARA SATU!
TERNYATA BARU JADI FINALIS!
Tapi meskipun begitu…
Gue merasa makin tambah ganteng walaupun cuma jadi finalis.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s